Diskusi Film A Thousand Cuts: Nafsu Memperpanjang Masa Jabatan Presiden Juga Ada di Indonesia

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film A Thousand Cuts, sebuah film dokumenter tentang Maria Ressa.

Diketahui, Maria Ressa merupakan seorang jurnalis Filipina pemenang hadiah Nobel Perdamaian, yang dipenjara karena memperjuangkan kebebasan pers di negaranya.

Nobar dan diskusi ini bertema “Ancaman Serangan Digital dan Pembatasan Bersuara serta Penggelembungan Kekuasan Eksekutif Terhadap Demokrasi Indonesia”.

Kegiatan tersebut digelar di salah satu kafe di Kota Padang, Kamis (4/11/2021) malam. Nobar diikuti puluhan peserta yang terdiri dari masyarakat sipil, jurnalis, aktivis, akademisi, hingga pers mahasiswa.

Ketua AJI Padang, Aidil Ichlas, mengatakan nobar film A Thousand Cuts ini digelar dalam rangka memperingati Hari Internasional Memperingati Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis yang jatuh setiap 2 November.

“Film ini kita harapkan dapat menjaga semangat para jurnalis dan aktivis dalam membela HAM khususnya. Sekaligus mengingatkan adanya ancaman serupa di negara kita, seperti yang terjadi di Filipina,” kata Aidil.

Dia menambahkan nobar dan diskusi ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap Maria Ressa.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas, Feri Amsari, yang menjadi pemantik diskusi melihat adanya persamaan antara Filipina dan Indonesia.

Persamaan itu yaitu pihak yang sedang berkuasa ingin memperpanjang kekuasaan atau masa jabatan.

Dalam film A Thousand Cuts ini, Presiden Filipina Rodrigo Duterte tergoda untuk memperpanjang masa jabatannya lebih dari tujuh tahun.

Diketahui di Filipina, seorang presiden hanya boleh menjabat dalam masa satu periode selama enam tahun.

Saat itulah arogansi pemerintahan mulai terasa dan cenderung anti-kritik. Kemudian, Duterte mencoba membungkam media yang kritis kepada pemerintahannya. Seperti membungkam media yang dipimpin Maria Ressa, Rappler.

“Ketika jurnalis sudah dibungkam, apalagi ditangkap. Maka, tidak akan ada lagi apa-apa, karena tidak ada lagi yang memberitakan,” ujar Feri.

Direktur LBH Padang, Indira Suryani, yang juga hadir sebagai pemantik diskusi mengatakan, film A Thousand Cuts merupakan film yang memberikan motivasi untuk memperjuangkan hal-hal yang benar.

Menurut Indira, ketika seseorang memilih jati dirinya menjadi pembela HAM, harus siap dengan segala ancaman, teror, dan hal lainnya. Tapi, pembela HAM, menurut dia akan berbahagia dengan apa yang mereka perjuangkan.

“Ketika Maria Ressa ditahan dan didiskriminasi, mereka tetap memiliki kekuatan yang luar biasa. Yang kita lihat sepanjang film ini, Maria Ressa selalu tersenyum,” kata Indira.

Ia juga menilai kesamaan antara Filipina dengan Indonesia dalam gambaran film tersebut yaitu oligarki. Ketika seorang ayah berkuasa, anaknya atau keluarganya juga akan berkuasa. Seperti anak Duterte yang juga menjadi wali kota.

Oligarki ini juga didukung oleh pasukan dunia maya atau buzzer pro-pemerintah. Indira berharap masyarakat harus cerdas dan menyadari upaya penggiringan opini oleh buzzer pemerintah.

Baca Juga: Kafilah MTQ Sumbar yang Datang ke Padang Panjang Wajib Rapid Antigen dan Vaksin

Masyarakat sipil menurut dia harus ikut menguasai jagat dunia maya untuk menyampaikan kebenaran dan fakta yang sebenarnya terjadi. [pkt/fru]

Terpopuler

Add New Playlist