Cerpen Lawas Penulis Minangkabau Ini Masih Relevan di Zaman Sekarang

Penulis: Isran Bastian

Padang, Padangkita.com – Bicara soal karya tulis sastra di Indonesia, sejak dulu hingga kini, Sumatra Barat (Sumbar) mungkin adalah gudangnya sastrawan tanah air.

Selain ada novel “Negeri 5 Menara” yang ditulis Ahmad Fuadi tahun 2009, pada tahun 1995 ada pula sebuah karya fenomenal, cerpen karya penulis Minangkabau, A.A Navis berjudul ‘Robohnya Surau Kami’.

Cerpen ini pertama kali terbit tahun 1955 di majalah Kisah. Satu tahun setelahnya, cerpen inipun dibukukan dan meraih banyak penghargaan hingga tahun 1992.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita kisah tentang Haji Saleh, seorang yang semasa hidup dianggap alim sebab rajin beribadah. Namun, ternyata setelah di akhirat, ia dimasukkan ke neraka.

“Menurut gue cerpen ini sangat bagus dan ceritanya masih relate dengan kondisi saat ini,” ujar YouTuber Ferry Irwandi dalam kanal YouTube-nya, dilihat Padangkita.com, (14/8/2022).

Dalam kisah ini diceritakan Haji Saleh tak terima. Pikirnya, Tuhan keliru menghitung amalan hambanya. Lantas, ia menghadap Tuhan untuk meminta penjelasan. Dan ternyata, keputusan Tuhan tak berubah. Haji Saleh tak pantas berada di surga, karena saat di dunia hanya sibuk sembahyang dan berdoa.

Sampai-sampai, dia lupa mencari nafkah untuk anak dan istri. Alhasil, keluarganya terperangkap dalam kemelaratan.

Demikianlah kisah yang diceritakan Ajo Sidi kepada Kakek Garin. Kisah tersebut membuat Kakek Garin tersindir sekaligus sedih. Hatinya terguncang. Ujungnya, si kakek yang sehari-hari menghuni surau kampung dan tak bekerja itu, nekat bunuh diri.

Kemunculan perdana “Robohnya Surau Kami” di majalah Kisah, mengejutkan khalayak sastra Indonesia serta para pembaca secara umum. Banyak yang suka, tak sedikit pula yang menganggap karya itu telah menodai agama Islam.

Selang beberapa tahun usai “Robohnya Surau Kami”, Navis meluncurkan lagi cerpen yang tak kalah menghentak, berjudul “Man Rabuka”. Kali ini termuat di Harian Nyata Edisi Minggu, tahun 1957.

Lagi-lagi, Navis menjadi sasaran kemarahan banyak orang. Tuduhannya sama: dia telah mengolok-olok agama.

Kisahnya mengenai Jamain, seorang yang dianggap sampah masyarakat. Ketika meninggal, ia dikubur bersama candu dan berbagai poster porno yang digemarinya semasa hidup.

Usai rampung pemakaman, malaikat datang seraya bertanya, “Man rabuka?” Jamain yang tak mengerti bahasa Arab, mengira malaikat bertanya, “Apa bekal yang kamu bawa?”

Tanpa kikuk, Jamain lantas menyerahkan segala yang di sekitarnya, dari berbagai arak dan gambar-gambar mesum. Malaikat terbujuk dengan sodoran Jamain, ikut mengenyam candu hingga terlena.

Namun, ketika bahan-bahan yang memabukkan itu habis, malaikat tiba-tiba murka dan menendang Jamain.

Singkat cerita, kemarahan Malaikat berimbas pada tokoh lain yang dikebumikan di dekat kubur Jamain. Namanya, Jamalin, seorang saleh yang tekun ibadah. Tendangan malaikat juga menyasarnya.

Berbeda dengan Jamain yang ditendang sampai terlempar ke surga, Jamalin malah didepak hingga teronggok di neraka.

Begitulah A. A. Navis dengan segala keberanian imajinasinya, mengutak-atik kehidupan sebelum hingga sesudah mati. Ia menghadirkan kisah-kisah yang mengusik pikiran khalayak, menjengkelkan, namun bagi sebagian pembaca, justru memicu perenungan.

Tentang Ali Akbar Navis

Haji Ali Akbar Navis (17 November 1924 – 22 Maret 2003) dikenal dengan nama A.A. Navis) adalah seorang sastrawan, budayawan, pelukis, dan politisi Indonesia asal Sumbar. Ia terkenal karena cerita pendeknya Robohnya Surau Kami (1956).

Menyadur dari wikipedia, selepas sekolah, Navis pernah bekerja sebagai seorang pegawai pada sebuah pabrik porselen di Padang Panjang, kota kelahirannya. Ia kemudian menjadi seorang pegawai negeri. Dari tahun 1952 hingga 1955, ia merupakan Kepala Bagian Kesenian pada Jawatan Kebudayaan Sumatra Tengah, berkedudukan di Bukittinggi.

Baca Juga: Perempuan Minang yang Berkiprah Sebagai Penulis Novel dan Cerpen

Pada awal karirnya, Navis aktif di dunia jurnalistik. Ia juga pernah memimpin harian Semangat sebagai pemimpin redaksi dari tahun 1971 hingga 1972.

Dari tahun 1950 hingga 1958, ia juga pernah berperan sebagai penasihat ahli untuk RRI Studio Bukittinggi. Terakhir, ia bekerja sebagai manajer umum bagi percetakan Singgalang dari tahun 1982 hingga 1984. [isr]

Terpopuler

Add New Playlist