Cerita Masjid Al Hakim, Destinasi Wisata Religi di Kota Padang yang Mirip Taj Mahal India

Penulis: Fuadi Zikri

Padang, Padangkita.com – Taj Mahal, demikian bayangan yang melintas ketika melihat Masjid Al Hakim yang berdiri megah di pinggir Pantai Padang. Warna putih yang membalut keseluruhan muka bangunan tampak berkilau oleh pantulan matahari ketika Padangkita.com berkunjung pada Minggu (25/10/2020) siang.

Masjid ini memiliki tampilan simetris. Bangunannya dicirikan satu kubah besar di tengah, dikelilingi empat kubah yang lebih kecil, dan empat menara. Persis seperti Taj Mahal, salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang terletak di negara India.

Baca Juga

“Ide masjid ini memang dari Taj Mahal,” ujar Herius Nasir, pengurus Masjid Al-Hakim kepada Padangkita.com.

Di salah satu ruangan yayasan yang berada di lantai dasar bagunan masjid, Herius yang juga Sekretaris Yayasan Al Hakim Islamic Center Padang itu bercerita banyak soal pembangunan masjid ini kepada Padangkita.com.

Teruwujudnya masjid ini, kata Herius berkat derma seorang pengusaha sukses asal Pekanbaru yang juga putra Minangkabau. “Donatur itu tidak mau diekspos namanya. Donatur hanya menyampaikan bahwa ini keinginan almarhumah ibunya,” kata Herius saat membuka percakapan dengan Padangkita.com.

Pembangunan Masjid Al Hakim telah direncanakan sejak tahun 2016 silam. Berbagai tempat pun telah dipersiapkan untuk pembangunan masjid yang memang direncanakan akan dibangun di Kota Bengkuang ini.

Pada akhirnya, sang donatur pun terpikat hatinya untuk membangun masjid di sudut Pantai Padang di Jalan Samudra. Selain tempat yang strategis, tempat ini dipilih setelah adanya tawaran hibah lahan dari Pemerintah Kota Padang.

Baca juga: Hikayat Intel-Intel Sumatra Barat dan Agen-agen Wanita Hebatnya

Pada awal 2017, pembangunan masjid pun dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Setahun pembangunan berjalanan, wujud “Taj Mahal” mulai kelihatan.

Desain Masjid Al-Hakim sendiri dirancang oleh seorang arsitek lulusan Universitas Islam Indonesia, Rio Widya Pratama. Rio bernaung di sebuah biro arsitektur di Pekanbaru. Ia dikontak oleh donator pembangunan masjid pada tahun 2016 saat perencanaan pembangunan masjid.

“Desain ini sebenarnya pure ide dari donator. Dia ingin desain masjid ini simpel, minimalis dan modern. Sehingga dirancanglah seperti Taj Mahal,” kata Herius.

Menurut Herius, kelebihan “Taj Mahal” terletak pada aspek estitika, yakni memiliki tampilan simetris. Karena bangunan serta desainnya sangat mirip dengan “Taj Mahal”, sehingga masjid tersebut bisa dikatakan mini “Taj Mahal”.

Wisata Pantai Padang Kembali Ditata

Pembangunan Masjid Al-Hakim Padang berbarengan dengan usaha penataan Pantai Padang yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang. Hal itu dikatakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Arfian.

Dulunya, area tempat masjid berdiri, merupakan area permainan anak yang dikelola oleh masyarakat. Selain itu, juga banyak pedagang kaki lima yang mendirikan tenda di sekitarnya.

Pada 2016, ada seorang donatur yang menyampaikan niatnya ke Pemko Padang untuk membangun masjid. Pemko Padang lalu menyediakan lahan di tepi pantai. Hal itu dikarenakan belum ada masjid yang representatif di sepanjang pantai.

Padahal, Pantai Padang telah jadi magnet wisatawan datang seiring dengan penataan yang dilakukan oleh Pemko Padang, seperti pembangun pedesterian dan relokasi pedagang.

“Wahana permainan anaknya kita pindahkan, dan pedagang kita pindahkan ke Dinas Pariwisata lama,” kata Arfian.

Sekaitan dengan penataan pantai, para pedagang pun menyambut baik niat Pemerintah Kota Padang. Salah seorang pedagang, Wati, 37 tahun mengaku senang dengan adanya destinasi wisata baru ini.

Menurut dia, semenjak Masjid Al Hakim dibuka, pengunjung yang datang ke warungnya pun meningkat dari pada hari-hari biasanya.

“Syukur Alhamdulillah, ada tambahan orang yang belanja meski tidak banyak juga. Mungkin karena Covid-19 juga ya. Mudah-mudahan ke depannya makin ramai lagi,” harap dia.

Begitu pula pedagang yang dulunya mendirikan bangunan di lahan tempat lokasi masjid ini berdiri sekarang. Mereka menerima direlokasi ke seberang jalan, persisnya ke area bekas Kantor Dinas Pariwisata dan Dinas Kelautan yang kini disulap jadi Pujasera.

“Dulu saya pakai gerobak dorong dan tenda terpal di sana (halaman masjid), tapi sekarang disediakan tempat di sini oleh pemerintah. Dulu sih katanya ada pembangunan masjid, dan ternyata masjid ini yang dibangun, sangat bagus ternyata,” ujar pedagang yang tidak ingin namanya dipublikasi.

Arfian menjelaskan, dengan adanya Masjid Al Hakim menambah zona wisata baru di Pantai Padang, yaitu Zona Al Hakim. Sebelumnya hanya terdapat zona Kebudayaan, Zona Padang IORA, Zona Pantai Purus, Zona Muaro Lasak dan Zona Merpati Perdamaian.

“Harapan kita, ini memang jadi destinasi wisata baru di Kota Padang, terutama wisata religius. Sejauh ini baru ada dua destinasi di Padang, Masjid Raya Sumbar dan Masjid Ganting” ucapnya.

Destinasi Baru Yang Ramai Dikunjungi

Masjid Al-Hakim dibangun menjorok ke bibir pantai. Dari sini, kita bisa langsung bisa memandang ke laut Samudra Hindia yang tak berujung, diselingi suara desir ombak dan angin yang berembus.

Sejak September, pelaksanaan ibadah salat secara berjemaah di masjid ini sudah dimulai. Mengingat situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, pengurus tidak membuka masjid sepanjang waktu. Hanya pada waktu salat saja.

Walaupun demikian, masjid ini tetap ramai dikunjungi. Pengunjung dapat memanjakan matanya dan mengabadikan momen di sekitar masjid.

Menurut, Syahril Hakim, juru parkir sukarela di Masjid Al Hakim, hampir setiap hari pengunjung selalu datang ke masjid ini. Akan lebih banyak lagi pada saat “weekend” atau hari libur.

“Ada terus sih yang masuk (kendaraan) untuk parkir. Banyak yang datang untuk menikmati pemandangan saja, bukan pergi salat. Tapi kalau pas jumatan selalu penuh, bahkan membeludak hingga keluar,” ucap dia.

Sementara itu, seorang pengunjung, Ardi, 22 tahun mengaku senang dapat berkunjung ke Masjid Al Hakim. Menurut dia, selain tempatnya yang tenang untuk ibadah, masjid ini juga memiliki daya tarik tersendiri untuk berswafoto bersama teman.

“Unik dan beda dengan yang lain, apalagi dekat pantai. Jadi ciri khas tersendiri, kan jarang-jarang ada masjid di tepi pantai,” ujar Warga Pesisir Selatan yang kuliah di Padang itu.

Di tengah pandemi Covid-19, pengurus masjid berupaya selalu menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung. Mulai dari pengecekan suhu tubuh, hingga melakukan pengaturan jarak shaf salat.

Walau sudah digunakan, Masjid Al Hakim sebenarnya belum rampung 100 persen. Pembangunannya ditargetkan rampung pada November mendatang, dan peresmiannya akan dilakukan Presiden Joko Widodo.

“Kita untuk peresmiannya bisa kapan saja, karena sesuai dengan pembangunan kita. Kalau sudah selesai maka kita resmikan. Tapi, karena sebagai salah satu tempat lomba MTQ Nasional di Sumbar, maka akan sekalian kita resmikan. Rencananya tanggal 12 November ini,” ujar Herius.

Letak Masjid Al Hakim yang berada di bibir pantai membuatnya rentan terhadap ancaman gelombang. Juli lalu, pondasi pagar masjid yang berbatasan dengan pantai tergerus oleh gelombang tinggi. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota Padang telah menaruh batu grip sebagai pemecah ombak.

Arfian mengatakan, untuk mengantisipasi pemerintah telah memasang batu grib untuk menahan laju abrasi. Batu grib langsung dipasang beberapa minggu setelah pondasi masjid dihantam ombak.

“Pemasangannya belum rampung 100 persen masih berjalan. Namun untuk sekarang masih terhenti sementara. Dana kita dapat bantuan langsung dari BNPB,” tutup dia. [mfz/pkt]


Baca berita Padang dan berita Sumbar terbaru hanya di Kuarter.id

Terpopuler