Cerita Anak-anak Dusun Salak Seberangi Sungai Menuntut Ilmu: Pagi Digendong Bapak, Pulang Berenang Sendiri

Penulis: Redaksi

Kawasan itu otomatis terisolasi setelah jembatan gantung satu-satunya yang menghubungkan dusun itu dengan dusun yang lain ambruk saat banjir bandang 10 bulan lalu.

Arus sungai yang dilewati pun terkadang sangat deras dan tentu saja dapat membahayakan bagi yang menyeberang. Namun, sejauh ini tidak ada cara lain, selain harus melintasi arus sungai itu.

Pantauan Padangkita.com, Rabu (9/6/2021), anak-anak sepulang dari sekolah dan mengaji terpaksa basah kuyup. Dengan hati-hati sambil mengangkat sepatu, anak-anak sekolah yang baru menempuh jenjang pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) itu melintasi sungai.

Mereka harus memutar mencari lokasi penyeberangan yang airnya tidak begitu dalam. Namun, mereka juga harus melewati sungai dengan setinggi pinggangnya. Kondisi yang tidak normal tersebut terkadang harus dilalui demi bisa mengikuti pelajaran di bangku sekolah.

“Setiap hari kami harus menyeberangi sungai. Kadang air sungai kecil, kadang besar. Kadang deras dan kadang normal. Jika hujan lebat dan airnya besar, kami terpaksa tidak sekolah,” jelas Putri, salah seorang murid SD di Dusun Salak Jalamu saat diwawancarai Padangkita.com di lokasi penyeberangan.

Putri bersama teman-temanya hanya bisa berharap jembatan gantung yang ambruk akibat banjir bandang lekas diperbaiki atau dibangun secara permanen.

Mereka juga tidak ingin merepotkan orangtuanya karena setiap pagi harus menggendong anak-anak untuk membantu menyeberangi sungai agar pakaian sekolah tidak basah.

“Kalau pagi, kadang bapak atau ibu gendong kami untuk menyeberang sungai agar bisa pergi sekolah. Kalau pulang sekolah, kami sendiri lagi yang menyebrang,” jelasnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan warga setempat bernama Idafril. Ia mengatakan, melintasi sungai sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas anak-anak SD di Dusun Salak.

Dalam satu hari, anak-anak harus menyeberangi sungai sebanyak empat kali untuk pulang dan pergi sekolah. Yaitu, dua kali pulang pergi untuk Sekolah Dasar dan dua kali lagi untuk pulang dan pergi mengaji.

Ganggu Ekonomi Warga

Bukan hanya soal sekolah, ketiadaan jembatan penghubung juga langsung mengganggu ekonomi masyaraka di Dusun Salak Jalamu, Nagari IV Koto Hilia. Kesulitan yang langsung dirasakan warga adalah ketika akan mengangkut hasil perkebunan mereka ke pasar.

“Kami selaku masyarakat yang di bawah ini, tentu hanya bisa berharap. Kalau bisa lekas bangun jembatan kami,” harapnya.
Sementara itu, Wali Nagari IV Koto Hilia, Kecamatan Batangkapas, Satria Darma Putra mengatakan, jembatan Dusun Salak Jalamu sudah putus akibat banjir bandang hampir satu tahun.

Ia mengaku sudah pernah menyampaikan dan mengusulkan ke pemerintah daerah agar pembangunan jembatan gantung dapat diprioritaskan.

Bahkan pada 2020 lalu, tim dari Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD Pesisir Selatan dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah meninjau lokasi bencana.

“Pihak BNPB pun sudah berjanji akan mengusahakan pembangunan jembatan dengan kualitas yang lebih baik, tapi hingga kini belum juga,” kata Satria.

Untuk menjawab keluh kesah warga, Satria memberikan pemahaman kepada masyarakat di Dusun Salak agar tetap bersabar menunggu tindak lanjut dari BNPB untuk memperbaiki jembatan.

Menurutnya, jembatan sepanjang 30 meter tersebut dapat menelan biaya cukup besar bila dibangun secara permanen.

Baca Juga: Cerita Guru SMAN 3 Padang Panjang Raih 2 Penghargaan Internasional Sekaligus

“Keluhan ini pun sudah saya sampaikan ke tim BNPB yang datang meninjau lokasi. Beberapa bulan lalu, sempat komunikasi lewat pesan singkat Whatsapp. Katanya, tunggu dulu, menunggu instruksi pimpinan,” tuturnya. (nik/pkt)


Baca berita Pesisir Selatan hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler