BPDPKS Gelar Workshop Digitalisasi dan Hilirisasi Produk Sawit Skala UMKM di Sumbar

Padang, Padangkita.com – Petani sawit yang proporsi kepemilikan lahannya mencapai kurang lebih 45 persen dari total luas lahan sawit di Indonesia merupakan salah satu komponen penting dari sektor sawit. Peranan para petani sawit ini diharapkan bukan hanya dalam bentuk penyediaan pasokan TBS sebagai bahan baku produksi CPO, namun juga terlibat dalam rantai produksi produk-produk hilir sawit.

Terkait hal ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyelenggarakan kegiatan Workshop Promosi Digitalisasi dan Hilirisasi Produk Sawit Skala UMKM Batch II pada 30 Maret-1 April 2022 di Padang, Sumatra Barat (Sumbar).

Kegiatan bertujuan mendekatkan kelembagaan petani sawit dengan proses produksi produk hilir sawit dan lembaga pembiayaan serta akses ke platform digital untuk pemasaran produk. Hal ini sekaligus sebagai upaya mewujudkan inklusivitas pemasaran dan pembiayaan UMKM sawit untuk produksi produk hilir.

Dalam kegiatan ini dilaksanakan workshop pembuatan pupuk organik dari limbah sawit, produksi sabun dan cokelat berbahan sawit, produksi minyak goreng berbahan sawit, produksi bumbu mie instan berbahan sawit, talkshow platform digital untuk pemasaran produk dan akses pembiayaan UMKM sawit, dan pameran produk UMKM sawit.

Kegiatan ini diikuti secara offline oleh 50 orang pengurus Koperasi Kelapa Sawit, UMKM, dan mahasiswa wilayah Sumbar, Bengkulu, dan Jambi serta peserta secara online dari pelaku UMKM, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.

Pameran produk-produk UMKM sawit menampilkan di antaranya hand sanitizer sawit, sabun cuci tangan sawit, produk pangan berbasis minyak sawit seperti mie instan, bumbu rendang, dan cokelat, hingga produk-produk kerajinan seperti kotak tisu dan frame cermin yang berbahan tandan kosong sawit dan lidi sawit.

Produk-produk ini diproduksi oleh Koperasi SETARA DPP APKASINDO, UMKM binaan SBRC LPPM IPB University, dan UMKM binaan LPPM Universitas Andalas.

Asisten Deputi Pengembangan SDM UKM Kementerian Koperasi dan UKM, Dwi Andriani Sulistyowati memaparkan bahwa sektor UMKM berkontribusi sebesar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Tidak hanya itu, sektor UMKM juga berkontribusi sebesar 15,6 persen terhadap ekspor non-migas Indonesia.

“Berkaitan dengan pemanfaatan platform digital untuk mendorong keterlibatan UMKM dan koperasi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah/lembaga, Kementerian Koperasi dan UKM berkolaborasi dengan LKPP untuk membeli produk UMKM melalui katalog elektronik dan toko daring yang dianggarkan sebesar 40 persen dari APBN dan APBD,” ungkap Dwi.

Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Winarna menyampaikan bahwa terjadinya degradasi tanah akibat penggunaan pupuk anorganik dapat disehatkan kembali dengan menggunakan pupuk organik dari by product pabrik kelapa sawit (PKS) berupa limbah padat (tandan kosong kelapa sawit/TKKS, solid, abu boiler, pelepah) dan limbah cair kelapa sawit.

Lebih lanjut, Winarna menerangkan, pemanfaatan tandan kosong sawit dan limbah cair sawit untuk pupuk kompos dapat dilakukan dengan teknologi pengomposan. Proses produksi kompos TKKS sawit meliputi pencacahan, pembuatan tumpukan, pembalikan, penyiraman dengan limbah cair, pengeringan dan pengemasan.

“Potensi pengembangan pupuk organik dari by product pabrik kelapa sawit masih sangat tinggi. Kandungan hara yang ada di limbah sawit cukup tinggi dan lengkap. Hasil kompos juga berkualitas tinggi dan seragam,” kata Winarna.

Sementara itu, Sekretaris LPPM Universitas Andalas Padang, Muhammad Makky menyampaikan bahwa Indonesia berpotensi mengembangkan konsep One Village One Product (OVOP) berbasis produk sawit.

Dijelaskan Makky, produk anyaman seperti yang berbahan lidi sawit menjadi pioneer dalam pengembangan konsep OVOP seperti frame cermin dan kotak tisu.

Hadir dalam kesempatan tersebut, peneliti Surfactant & Bioenergy Research Center LPPM IPB University, Erliza Hambali. Dia menyampaikan bahwa minyak sawit dalam bentuk Non-Diary Creamer (NDC) dapat dijadikan sebagai pengganti minyak kelapa dalam pembuatan rendang.

Dijelaskan Erliza, NDC ini memiliki kelebihan yakni umur simpan lebih panjang, mudah dalam distribusi dan penanganan, serta aman bagi penderita laktosa intolerance. Berdasarkan hasil analisis terhadap mikrobiologi, bumbu rendang berbahan krimer sawit ini telah teruji secara klinis.

Peneliti Utama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Donald Siahaan menyampaikan bahwa minyak inti sawit berpotensi sebagai Cocoa Butter Substitute (CBS) karena sifatnya yang short melting range dan dapat dibuat dengan proses hidrogenasi. CBS yang dihasilkan ini tidak mengandung asam lemak trans dan memiliki karakteristik yang mirip dengan Cocoa Butter yang ketersediaannya semakin menipis.

Baca Juga: 3 Provinsi dengan Kebun Sawit Terluas di Indonesia, Ternyata Ada 2 di Pulau Sumatra

Dalam kegiatan ini, sebagai upaya meningkatkan kapasitas kelompok petani sawit melalui digitalisasi dan hilirisasi produk kelapa sawit, BPDPKS juga menghadirkan narasumber dari pemerintahan dan praktisi kelapa sawit yaitu Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat ME Manurung, Head of Tani Academy TaniHub Group Deeng Sanyoto, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Utara Suhendrik, Dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri & Rekayasa Sistem ITS Setiyo Gunawan, Direktur Kerjasama Pendanaan dan Pembiayaan PIP Kementerian Keuangan Muhammad Yusuf, serta Direktur Pembiayaan Syariah LPDB-KUMKM Ari Permana. [*/fru]

Terpopuler

Add New Playlist