Bentuk Crocodylus Rescue Unit, Tim BKSDA Sumbar Belajar Penanganan Buaya ke NTT

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) baru saja membentuk Tim Unit Penanganan Konflik Satwa Buaya atau Crocodylus Rescue Unit.

Pembentukan tim ini merupakan mitigasi konflik untuk mencegah terjadinya kerugian harta benda maupun keselamatan jiwa manusia serta kelestarian satwa liar buaya.

Ini juga tak lepas dari kondisi Sumbar yang memiliki garis pantai bersentuhan dengan Samudra Hindia sepanjang 2.420.357 km dengan luas perairan laut 186.580 km persegi.

DI sati sis, potensi itu menjadi peluang pemanfaatan sumber daya alam perairan/kelautan yang relatif lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas masyarakat sepanjang pantai, terutama dalam bidang perikanan tangkap dan pariwisata bahari cukup maju dengan pesat.

Namun luasnya wilayah perairan dan panjangnya garis pantai juga mengakibatkan semakin besarnya potensi habitat satwa liar buaya yang saat ini cenderung menunjukan interaksi negatif dengan kehidupan masyarakat di Sumbar.

Berdasarkan data konflik satwa liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar sejak tahun 2018, peristiwa konflik antara satwa liar buaya dengan manusia di Sumbar cenderung meningkat. Kondisi ini menimbulkan gangguan terhadap kehidupan masyarakat baik dari sisi sosial maupun ekonomi.

“Peristiwa konflik ini perlu ditanggulangi secara sungguh-sungguh tidak hanya sebagai bentuk perlindungan pemerintah terhadap masyarakat tetapi juga merupakan upaya konservasi satwa liar yang dilindungi tersebut,” ungkap BKSDA dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Padangkita.com, Sabtu (30/10/2021).

Balai KSDA Sumbar telah melakukan beberapa upaya penanggulangan. Namun mengingat berbagai keterbatasan personel yang terampil dan memiliki kompetensi di bidang penanganan satwa buaya serta sarana prasarana yang belum memadai, hingga saat ini konflik tersebut belum dapat diselesaikan dengan tuntas.

“Diperlukan keterlibatan berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat, sektor industri maupun organisasi lainnya sesuai kapasitas dan keahliannya untuk secara bersama-sama menanggulangi konfilk buaya.”

Untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan dan kapasitas tim, dilakukan kegiatan benchmarking/studi banding penanganan konflik satwa liar buaya ke Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini dikarenakan Balai Besar NTT telah memiliki Unit Satgas penanganan satwa liar buaya.

Selama kegiatan studi banding, tim mendapat tambahan ilmu pengetahuan terkait buaya muara (Crocodylus porosus) dan keterampilan penanganan buaya dari tim Sstuan tugas penanganan satwa liar Balai Besar KSDA NTT.

Tim juga diberikan pelatihan pengenalan perilaku buaya muara dengan melakukan pengintaian pada malam hari lokasi kemunculan buaya muara di daerah TWA Pulau Manipo, Kabupaten Kupang.

Baca juga: Cerita Buaya Muara yang Hidup Berdampingan dengan Warga di Sasak, Pasaman Barat

Dengan benchmarking ini, diharapkan upaya mitigasi konflik buaya dan manusia di Sumbar akan berjalan secara optimal seiring dengan upaya pelestarian buaya di habitatnya. (*/pkt)

Terpopuler

Add New Playlist