Begini Beratnya SLB Negeri 2 Padang Jalankan Pembelajaran Daring Selama Pandemi

Penulis: SON

Berita Padang terbaru dan berita Sumbar terbaru: SLB Negeri 2 Padang hingga kini masih menerapkan pembelajaran secara daring

Padang, Padangkita.com – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Padang, hingga kini masih menerapkan pembelajaran secara daring. Sebanyak 150 anak berkebutuhan khusus telah balajar dari rumah sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di Kota Padang.

Kepala SLB Negeri 2 Padang, Rafmateti menyebutkan, pembelajaran daring ini sangat mempengaruhi proses pendidikan bagi siswanya. Sebab, sebagian besar orang tua siswa berasal dari kalangan kurang mampu. Selain itu, pendidikan atau pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamakan dengan anak-anak lainnya. Pola pendidikan anak kebutuhan khusus membutuhkan pendampingan guru dan selama ini bertumpu pada sentuhan langsung.

Baca Juga

“Belajar dari rumah memang bisa dilaksanakan. Namun, kondisi ini berbeda dengan anak berkebutuhan khusus yang memerlukan sentuhan fisik dari guru-guru, ada tatap muka, harus satu guru satu anak berhadapan,” kata Rafmateti kepada Padangkita.com, Senin (12/10/2020).

Kini, lanjut Rafmateti, guru-guru di SLB Negeri 2 Padang mengombinasikan antara belajar daring dan luring. Materi ajar dikirimkan oleh guru melalui aplikasi pesan kepada orang tua. Sementara anak yang tidak memiliki jaringan internet, materi belajar harus dijemput orang tua ke sekolah.

“Sekarang belajar mengoptimalkan daring. Namun, guru-guru tetap ke sekolah. Jadi orang tua mengambil program atau materi ajar satu kali dalam seminggu ke sekolah,” katanya.

Kendala utama dalam belajar daring, lanjut Rafmateti, tidak semua siswa memilik gawai untuk penunjang komunikasi guru dan wali murid.

Baca Juga: Cerita Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus Selama Pembelajaran Daring di Kota Padang

“Dari total siswa 150 orang, tidak semuanya memiliki handphone. Jangankan untuk handphone atau untuk beli pulsa, beli makanan saja banyak yang kesulitan,” ujar Rahmateti pihatin.

Oleh sebab itu, ia mengambil kebijakan guru-guru agar berinisiatif menjangkau siswa yang tidak bisa mengakses pembelajaran.

“Untuk itu, guru-guru harus menjangkau murid yang tidak memiliki akses. Anak harus terlayani saat pandemi ini. Senin, Selasa, Rabu, (siswa) dimonitor melalui handphone. Bagi yang tidak punya, anak harus dikunjungi,” ucapnya.

Diakui Rafmateti pembelajaran dari rumah untuk anak berkebutuhan khusus tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Namun yang utama, kata Rafmateti, sebagaian besar siswa SLB berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah ke bawah.

“Sebagai pendidik, hal-hal di luar pembelajaran pun harus diperhatikan seperti apakah gizi anak-anak harus terpenuhi. Nah, itu sebagai pendukung proses pembelajaran. Kini, jangankan untuk belajar, ya bagaimana mereka mau belajar jika perut mereka kosong,” ujarnya.

Dengan memanfaatkan jaringan wali murid, sosial media, Rafmateti menginisiasi donasi sembako untuk keluarga siswa yang tidak mampu. Gotong-royong ini telah dilakukan saat masa Pembatasan Sosial Berskal Besar (PSBB), di mana hampir semua orang mengalami goncangan ekonomi.

“Kita mengumpulkan donasi untuk mereka, mencari sumbangan. Ada yang melalui Dinas Sosial, komunitas disabilitas dalam mengumpulkan sembako di masa yang sulit,” ujarnya.

Dibutuhkan Bantuan Orang Dewasa dan Warga Sekitar

Selain fasilitas penunjang belajar, kendala yang tak kalah sulit juga dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus dengan orang tua yang juga berkebutuhan khusus. Kondisi ini membuat guru tidak bisa menitipkan materi ajar kepada orang tua.

“Apalagi ada kondisi yang di satu rumah bukan satu anak saja yang berkebutuhan khusus, ada adik, kakak, atau bahkan orang tua yang berkebutuhan khusus,” kata Rafmateti.

Seperti tidak kehabisan akal, agar hak belajar semua anak terpenuhi, guru-guru di SLB Negeri 2 menitipkan materi ajar kepada tetangga atau orang dewasa di lingkungan anak tersebut.

“Bagi kita kondisi ini tidak berarti kita menyerah. Namun mengoptimalkan potensi orang tua dan orang dewasa di sekitar anak yang menjadi target kita. Akhirnya ada beberapa cara yang dilakukan, tetangga yang didekati, mau ndak tetangganya untuk dititipkan program kemudian mendampingi anak belajar,” ulasnya.

Betapapun beratnya kondisi dan hambatan, tak akan membuat guru-guru di SLB Negeri 2 menyerah. Mereka bertekad tidak boleh ada anak yang tidak belajar apa pun kondisnya.

“Tidak ada anak yang tidak belajar, apa pun kondisinya” tutup Rafmateti. [pkt]


Baca berita Padang terbaru dan berita Sumbar terbaru hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist