Analisis Sejarawan Soal Sumbar Tak Seperti Dulu: Bermula dari Kekalahan PRRI

Padang, Padangkita.com – Sejarawan dari Universitas Andalas (Unand), Israr Iskandar mengatakan tidak ada lagi tokoh berkelas yang muncul dari Sumatra Barat (Sumbar) tidak terlepas dari hilangnya generasi emas dan pudarnya kepercayaan diri orang Minang karena mengalami kekalahan pada masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958.

Hal tersebut menanggapi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang menyatakan orang Sumbar pada zaman sekarang tidak sepopuler dahulu. Bahkan, Megawati mempertanyakan apakah memang tidak ada lagi produk (tokoh/cendekiawan) di Sumbar.

“Setuju dengan pernyataan yang bersifat umum dan sekaligus menggugah dari Ibu Mega sebagai tokoh politik senior, terutama jika Sumbar atau Minang sekarang dibandingkan Sumbar atau Minang pada masa dulu,” ujar Israr saat dihubungi Padangkita.com via telepon, Jumat (13/8/2021).

Dia menuturkan, pada masa pergerakan nasional sampai tahun 1950-an, populasi masyarakat Sumbar atau Minangkabau tidak banyak seperti etnik Jawa. Tetapi, tokoh Minang banyak berperan dalam merintis kemajuan, termasuk membidani kelahiran Republik Indonesia.

“Kata kuncinya memang pendidikan yang mencerahkan. Dulu pendidikan orang-orang Minang dimaksud cukup maju pada zamannya dibandingkan yang didapatkan beberapa suku lain, kecuali mungkin Jawa. Sumbar termasuk paling awal yang tercerahkan oleh pendidikan modern barat maupun Islam,” jelasnya.

Menurut Israr, orang Minang zaman dahulu gandrung pada kemajuan tanpa harus tercerabut dari akar budaya sendiri. Mereka mengejar ilmu sampai Timur Tengah dan Eropa. Kondisi ini terjadi sejak akhir abad 19 atau awal abad 20.

Akibat pendidikan yang mencerahkan tersebut, banyak orang Minang yang jadi tokoh top di bidang politik, pemerintahan, diplomasi, pemikiran agama, sastra, bahasa, budaya, penerbitan, pers, dan lain-lain.

Mereka memasuki ranah pemikiran dan ideologi politik yang beragam. Ada Islam, nasionalis, sosialis, dan sebagainya. Meski demikian, mereka tetap saling menghormati satu sama lain.

“Dalam hal-hal itu, bisa dikatakan bahwa Minang leading sampai 1958 lah. Sehingga ada perasaan unggul sebagai etnis Minang masa itu di kancah persilangan budaya Nusantara,” ungkap Israr.

Namun, titik balik terjadi pada masa PRRI dan era Demokrasi Terpimpin pada 1958-1966. Sumbar babak belur dihajar militer pusat dan tekanan Partai Komunis Indonesia. Akibat peristiwa tersebut, Sumbar bukan hanya babak belur dari segi infrastruktur fisik, tapi juga mental atau psikologis masyarakat.

“Perasaan unggul berubah jadi perasaan kalah dan dikalahkan, terpukul, dan terhina. Sikap apatis dan tidak percaya diri lagi kayak sebelum PRRI. Bayangkan mereka ‘memberontak’ tapi kemudian kalah, walau awalnya gerakan PRRI itu tujuannya untuk meluruskan penyimpangan konstitusi,” ucapnya.

“Akibatnya, ada yang loss pada suku Minang, terutama di Sumbar. Mungkin loss generasi emas. Bayangkan Unand saja, sebagai perguruan tinggi tertua di luar Jawa, hancur fisiknya. Banyak dosen dan mahasiswa meninggal dunia atau berhenti kuliah,” imbuh Israr.

Meski demikian, sampai dia, awal Orde Baru (Orba), Sumbar berusaha bangkit. Tetapi hasilnya tidak lagi spektakuler zaman pegerakan dan awal kemerdekaan. Kultur Orba tidak kondusif mengembalikan keunggulan Minang dimaksud.

Sumbar dan Minang bukan lagi “pemimpin” daerah-daerah luar Jawa. Tidak banyak lagi tokoh top asal Minang, termasuk di dunia bisnis. Apalagi tokoh top masa Orba itu identik dengan militer.

Baca Juga: Soal Komentar Megawati, Ketua Bundo Kanduang: Itu Hanya karena PDI Perjuangan Tak Didukung

“Sumbar pun posisinya kemudian hanyalah satu dari 27 provinsi. Sampai sekarang, satu dari 34 provinsi. Sampai sekarang, lihat juga hasil UTBK sekolah-sekolah Sumbar, lihat hasil PON,” terangnya lagi. [fru]

Terpopuler

Add New Playlist