Padang, Padangkita.com - Harapan baru bagi ratusan warga Kota Padang yang terdampak bencana banjir bandang akhir November lalu mulai terwujud. Pemerintah Kota (Pemko) Padang secara resmi memulai pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di kawasan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, pada Senin (26/1/2026).
Langkah relokasi ini diambil pemerintah daerah sebagai solusi jangka panjang untuk memindahkan warga dari zona rawan bencana ke lokasi yang lebih aman. Pembangunan ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kota Padang dengan Yayasan Buddha Tzu Chi.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Padang, Didi Aryadi, menjelaskan bahwa proyek ini adalah bukti kehadiran pemerintah dalam memulihkan kehidupan warga pascabencana. Hal itu ia sampaikan saat meninjau kesiapan lahan di lokasi pembangunan, Jumat lalu.
"Sebagai bentuk perhatian kami kepada korban banjir bandang akhir November lalu, kami membangun huntap bagi mereka yang terdampak. Harapan kami tentunya korban banjir mendapatkan tempat yang layak di sini," ujar Didi Aryadi.
Didi menegaskan bahwa pemilihan lokasi di Bumi Perkemahan Pramuka, Balai Gadang, tidak dilakukan sembarangan. Lahan milik Pemerintah Kota (Pemko) tersebut telah melalui kajian geologis yang mendalam untuk memastikan keselamatan penghuninya di masa depan.
"Lokasi dibangunnya huntap ini telah melewati verifikasi Badan Geologi Nasional. Kondisi tanah terbilang layak dan aman dari gempa. Termasuk aman dari tsunami karena berada di ketinggian," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, memaparkan detail teknis hunian yang akan dibangun. Di atas lahan seluas 2,9 hektare tersebut, akan berdiri sebanyak 209 unit rumah bagi warga yang saat ini masih bertahan di hunian sementara dan Rusunawa Lubuk Buaya.
Tri menjelaskan bahwa rumah yang dibangun adalah tipe 36 dengan luas tanah masing-masing 78 meter persegi. Desain bangunan dirancang dengan model kopel untuk efisiensi lahan namun tetap memperhatikan privasi penghuni.
"Konsep bangunan kopel, dua jadi satu. Jarak antar rumah satu meter," terang Tri Hadiyanto memberikan rincian teknis.
Pembangunan fisik huntap ini dilaksanakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi mulai hari ini. Perwakilan pekerja sosial yayasan tersebut, Kahar, memastikan bahwa kualitas bangunan akan mengikuti standar rumah layak huni dan sehat.
Struktur bangunan akan menggunakan material yang tahan lama, seperti dinding bata merah, atap seng, dan rangka baja ringan yang dikenal lebih fleksibel terhadap guncangan gempa.
"Bangunan huntap itu nantinya sesuai standar Rumah Sederhana. Nanti akan ada dua kamar dan satu kamar mandi serta dapur," jelas Kahar.
Selain struktur bangunan utama, Kahar menambahkan bahwa fasilitas pendukung vital juga langsung disiapkan. Setiap unit rumah akan dilengkapi dengan jaringan utilitas dasar sehingga warga tidak perlu repot saat pindah nanti. "Rumah sederhana itu juga memiliki instalasi listrik dalam ruangan dan instalasi air bersih," pungkasnya.
Dengan dimulainya pembangunan ini, para korban bencana diharapkan segera memiliki hunian yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memberikan rasa aman dari ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang. [*/hdp]











