Padang, Padangkita.com – Industri kesehatan modern kini tidak lagi sekadar berfokus pada kecanggihan alat medis atau kemewahan fasilitas fisik. Lebih dari itu, sentuhan kemanusiaan dan kualitas interaksi antara petugas medis dengan pasien menjadi kunci utama kepercayaan masyarakat.
Menyadari pentingnya hal tersebut, Semen Padang Hospital (SPH) terus berinovasi meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah menggelar pelatihan intensif bertajuk "Ultimate Service for Hospital".
Pelatihan yang mengusung tema "Membangun Hubungan Baik melalui Hospitality dan Kemampuan Berkomunikasi" ini bertujuan membentuk karakter staf yang tidak hanya profesional secara teknis, tetapi juga humanis dan memiliki empati tinggi.
General Manager Human Capital SPH, Fakhlisa Hesty, menjelaskan bahwa inisiatif ini diambil untuk menyamakan persepsi seluruh karyawan mengenai standar pelayanan prima. Menurutnya, kepuasan pasien sering kali ditentukan oleh bagaimana mereka diperlakukan secara personal.
"Tujuan pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk menyatukan pemahaman seluruh insan SPH mengenai pentingnya pelayanan prima yang tidak hanya berfokus pada aspek klinis, tetapi juga pada empati, sikap, dan komunikasi," ujar Fakhlisa, di sela-sela kegiatan pelatihan di Padang.
Fakhlisa menekankan bahwa pasien yang datang ke rumah sakit umumnya berada dalam kondisi psikologis yang rentan. Oleh karena itu, pendekatan yang hangat dan komunikatif menjadi obat penenang pertama sebelum tindakan medis dilakukan.
"Pelayanan kesehatan yang unggul harus dibangun dari interaksi yang hangat, komunikasi yang tepat, serta kemampuan memahami kebutuhan pasien dan keluarganya," tambahnya.
Pelatihan ini diikuti oleh karyawan SPH dari berbagai unit layanan yang berinteraksi langsung dengan pasien (frontliner). Mereka dianggap sebagai garda terdepan yang menentukan citra rumah sakit di mata publik.
Untuk memberikan materi yang komprehensif, SPH menghadirkan narasumber ahli, Iin Supriyatin Ramli. Metode pelatihan dirancang interaktif, dimulai dari pre-test untuk mengukur pemahaman awal, pemaparan konsep, hingga simulasi peran (role play).
Dalam sesi simulasi, para peserta diajak mempraktikkan langsung cara menangani berbagai situasi pelayanan, mulai dari penanganan pasien yang panik hingga cara menyampaikan informasi medis dengan bahasa yang mudah dipahami.
"Pelatihan hospitality menjadi sangat penting karena kualitas layanan rumah sakit tidak hanya dinilai dari fasilitas dan teknologi, tetapi juga dari cara tenaga kesehatan dan staf memberikan pelayanan secara menyeluruh," jelas Fakhlisa.
Melalui program ini, manajemen SPH berharap nilai-nilai pelayanan prima tidak sekadar menjadi teori, melainkan menjadi budaya kerja yang melekat pada setiap individu di rumah sakit tersebut.
Baca Juga: Yayasan Semen Padang Luncurkan Daycare, Semen Padang Hospital Dukung Layanan Kesehatan Anak
"Harapannya, budaya hospitality ini menjadi karakter bersama insan SPH dan terus dirasakan manfaatnya oleh pasien serta keluarga. Kami ingin SPH menjadi rumah sakit yang tidak hanya mengobati fisik, tapi juga memanusiakan pasien," pungkasnya. [*/hdp]











