Massive Action, Toreh Cita 1000 Anak Bangsa

Peserta Massive Action sedang menuliskan impiannya di kertas peta mimpi (Foto: Fitri Aziza)

Padangkita.com – Perkumpulan alumni dan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia yang tergabung dalam Mata Garuda, mengadakan kegiatan Massive Action bertema “Toreh Cita 1000 Anak Bangsa”, Kamis (19/4/2018). Kegiatan skala nasional ini diadakan serentak di 26 provinsi yang ada di Indonesia dan diikuti oleh lebih dari 27 ribu siswa/pelajar SMA/SMK.

Menurut Fanny Rahmatina Rahim, Ketua Pelaksana Massive Action di Sumatera Barat (Sumbar), kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara welcoming alumni 2018, yaitu kegiatan menyambut penerima beasiswa LPDP yang telah menyelesaikan studinya baik di dalam maupun luar negeri. Pada acara ini, semua alumni dikumpulkan di satu tempat untuk mendapatkan arahan tentang hal yang bisa dilakukan setelah studi dan kontribusi yang dapat diberikan terhadap masyarakat. “Massive Action yang mengawali agenda welcoming alumni ini adalah bentuk kontribusi awardee atau alumni untuk masyarakatnya,” ujarnya, Kamis (19/4/2018).

Acara Massive Action di Sumbar dilakukan di tiga sekolah, yaitu SMAN 4 Padang yang sudah terlaksana pada hari ini, dan SMAN 4 Sumbar yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu (21/4/2018) serta SMAN 3 Padang pada Senin (23/4/2018). “Kita tidak bermaksud memfokuskan kegiatan di Padang saja. Kami punya niat setelah Massive Action dari Mata Garuda Pusat ini, akan ada kegiatan Massive Action versi Mata Garuda Sumbar ke daerah-daerah yang lain,” jelas Fanny.

Massive Action diselenggarakan dengan tujuan memotivasi siswa/pelajar agar berani bermimpi dan menorehkan cita-cita. “Mungkin dulu ketika SD sudah ada yang memiliki cita-cita. Kami hadir di sini untuk mengingatkan kembali cita-cita yang sudah ada sedari SD tersebut,” imbuhnya.

Pada kegiatan ini, para peserta dimotivasi untuk berani bermimpi dan diajak untuk menuliskan impian serta hal-hal yang ingin dicapai selama sepuluh tahun ke depan berupa peta mimpi di selembar kertas. “Kalau mimpi itu tidak ditulis, bisa lupa dan menjadi terlupakan begitu saja,” kata Fanny.

Dedi Supendra, Awardee LPDP yang telah menyelesaikan studinya di University of Manchester, mendefinisikan mimpi dengan sesuatu yang membuat seseorang bahagia atau bertenaga sebelum, saat, dan setelah mendapatkannya. Ia mengajak peserta yang hadir untuk memperjuangkan mimpi tersebut apapun bentuknya selagi mimpi itu bersifat positif. “Tuhan akan bersama-sama orang yang memperjuangkan mimpinya,” ujarnya saat menyampaikan materi.

Baca juga:
UNBK SMK di Sumbar Diikuti 99,6 Persen Siswa

Selanjutnya, Dedi menyarankan untuk menentukan target apabila sudah memiliki mimpi. “Jangan hanya berniat dan berencana, saatnya bergerak dan bertindak. Jangan hanya bermimpi, saatnya bangun untuk mewujudkan mimpi itu,” pesannya.

Mata Garuda

Mata Garuda merupakan ikatan bagi penerima beasiswa LPDP baik mereka yang masih kuliah ataupun awardee yang sudah menyelesaikan studi (alumni). Apabila seseorang sudah mendapatkan surat keputusan dan dinyatakan lulus oleh LPDP, ia sudah menjadi anggota Mata Garuda. “Namun, yang lebih diutamakan sebagai anggota adalah alumni LPDP,” jelas Ferdino Wedi Sanjaya, Ketua Mata Garuda Sumbar.

Saat ini, kata Ferdino, sudah ada 26 cabang Mata Garuda yang tersebar di berbagai kota dan provinsi di Indonesia dengan pusatnya berada di Jakarta. Di Sumbar, Mata Garuda sudah terbentuk semenjak 2016. Ikatan ini ingin memaksimalkan awardee dan alumni LPDP untuk mengabdi di Indonesia maupun di daerahnya masing-masing.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Mata Garuda Sumbar selama dua tahun terakhir, seperti welcoming alumni, sosialisasi ke pemerintah daerah, sekolah, dan perguruan tinggi yang ada di Sumbar serta sosialisasi dan kuliah umum di media sosial.

Sosialisasi ke pemerintah daerah ini, kata Ferdino, dilakukan untuk mengenalkan bahwa ada pemuda Sumbar yang memiliki potensi, ilmu dan kemampuan yang dibutuhkan oleh daerah. Mereka dikuliahkan untuk mengabdi ke daerah demi kemajuan daerah tersebut. “Selain itu, kami ingin memberitahukan kepada pemerintah daerah bahwa ada beasiswa LPDP yang tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tapi guru-guru atau pegawai pemerintahan yang ingin melanjutkan S2 juga bisa mencoba,” katanya.

Ferdino berpesan kepada yang ingin mencoba beasiswa LPDP agar mempersiapan persyaratan sejak dini, terutama TOEFL/IELTS dan IPK. Terkhusus untuk mahasiswa, usahakan agar IPK ketika wisuda mencapai 3,5 sehingga lebih aman untuk mendaftar LPDP. “Jika nilai TOEFL yang tidak mencukupi, masih bisa dipelajari walaupun tidak mahasiswa lagi. Tapi, kalau IPK yang tidak memenuhi kriteria, kita tidak bisa mengulang kembali setelah wisuda,” tutupnya.