Dampak Sampah, Dari Banjir Hingga Berkembang Biaknya Penyakit

Ilustrasi sampah. (Foto: Pixabay.com)

Padangkita.com – Pengamat Lingkungan Universitas Negeri Padang Indang Dewata mengatakan keberadaan sampah yang tidak dikelola dengan baik akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Tidak hanya mengganggu keindahan dan kenyamanan, sampah juga bisa menjadi sumber penyakit, menimbulkan banjir, dan merusak alam.

Menurut Indang, secara umum ada tiga jenis sampah, yaitu organik, anorganik, dan B3 (bahan berbahaya dan beracun). Sampah organik merupakan tempat berkembangnya bakteri, nyamuk, lalat, dan sebagainya yang merupakan sumber penyakit bagi manusia.

Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik, botol, dan sterofom merupakan salah satu pemicu banjir. Sampah anorganik sangat susah terurai sehingga keberadaannya akan bertahan bertahun-tahun. Tidak hanya akan memenuhi sungai dan memicu banjir, sampah anorganik juga akan merusak kawasan perairan beserta biota yang ada di dalamnya.

Kemudian, untuk sampah B3 juga sangat berbahaya bagi manusia. Sampah B3, seperti baterai, oli, dan bahan kimia lainnya umumnya bersifat karsinogen yang bisa memicu penyakit kanker, tumor, mutagen, cacat lahir, dan sebagainya.

“Banyak lagi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh sampah ini. Oleh sebab itu, penanganan sampah harus menjadi perhatian kita,” ujarnya.

Terkait terdamparnya puluhan kontainer sampah di sepanjang Pantai Padang, Indang mengatakan hal itu adalah dampak dari kurang baiknya pengelolaan sampah. Selain itu, fenomena tersebut juga didukung oleh kondisi topografi Kota Padang.

Jarak antara hulu dan hilir sungai di Kota Padang hanya 17 km dengan kemiringan 40 persen sehingga apa yang hanyut dari hulu akan cepat sampai di muara. Di sepanjang sungai, pemukiman masyarakat sangat padat. Sementara itu, sampah yang terangkut oleh petugas dari Dinas Lingkungan Hidup hanya 60 persen dari total produksi sampah.

“40 persen lainnya berada di selokan dan sungai. Saat hujan lebat, sampah ini hanyut ke muara dan dihempaskan kembali oleh pasang ke pantai,” kata Indang, Kamis (30/11/2017).

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mesti melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri karena penghasil sampah terbesar adalah masyarakat. Pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam menangani sampah mesti dibenahi. Pemerintah juga harus melakukan pengelolaan sampah dengan memakai prinsip 3R yang dilakukan secara konsisten dan kontinu.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang pada Senin–Rabu, (27–29/11/2017) setidaknya harus menurunkan 400 orang Petugas Kebersihan Kecamatan dan Kelurahan (PK3) untuk membersihkan tumpukan sampah yang terdampar di sepanjang Pantai Padang.

Total ada sekitar 20 kontainer sampah yang diangkut petugas mulai dari pantai di depan LP Muaro Padang hingga Pantai Muaro Lasak. Selain sampah rumah tangga, sampah berupa kayu juga ikut terdampar. Kayu-kayu tersebut diperkirakan terbawa arus dari perbatasan Lubuk Kilangan dan Kuranji.

Kondisi ini seolah sudah menjadi rutinitas di Kota Padang setiap terjadi hujan lebat, banjir, dan pasang laut. Pada Oktober lalu, sebanyak 150 ton sampah juga berhasil diangkat dari kawasan Pantai Padang.

Sampah-sampah tersebut berasal dari limbah rumah tangga seperti plastik, bekas bungkus makanan, botol minuman, akar-akar pohon dan lain sebagainya. Kepala DLH Padang Al Amin mengungkapkan hal itu terjadi tidak terlepas dari masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.