4 Tahun Jokowi, Nilai Ekspor Indonesia Meningkat

Peti kemas (Foto: setkab.go.id)

Padangkita.com – Realisasi nilai ekspor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan pertumbuhan. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengemukakan, pada 2016 realisasi nilai ekspor Indonesia mencapai 145,1 milir dollar AS, sementara pada 2017 tercatat 168,7 miliar dollar AS.

“Pada periode Januari-September 2017, ekspor RI tercatat 123,3 miliar dollar AS. Sementara pada periode yang sama tahun ini, catatan ekspor RI sudah mencapai 134,9 miliar dollar AS,” kata Mendag dikutip dari setkab, Rabu (24/10/2018).

Selain bisa meningkatkan realisasi nilai ekspor, menurut Mendag, pihaknya juga bisa meningkatkan ekspor atau market share kdi perdagangan dunia  sesuai arahan Presiden Jokowi, yaitu dengan cara membuka pasar baru.  “Dengan pasar-pasar lama kita juga harus membuka diri yaitu dengan perjanjian perdagangan,” ujarnya.

Menurut Mendag Enggartiasto Lukita, pemerintah baru saja baru menandatangani tiga perjanjian yaitu pertama dengan Palestina, kedua dengan Chile, dan kemudian dengan Australia.

Mendag menjelaskan, penandatanganan perjanjian dengan Palestina tidak pakai studi, tetapi merupakan sikap konsistensi, dukungan politik pemerintah.

“Presiden memerintahkan untuk memberikan dukungan sepenuhnya, termasuk dukungan ekonomi. Jadi kita membuka diri kepada Palestina, apapun mereka mau ekspor dari sana dikenakan bea masuk 0%,” jelas Enggar seraya menambahkan, sementara ini baru dua permintaannya, yaitu kurma dan minyak zaitun.

Ditegaskan Mendag, dalam setiap persiapan pembahasan perjanjian perdagangan, pihaknya tidak mau hanya datang bernegosiasi atau membahas dalam kunjungan kerja resmi. Namun juga melibatkan pengusaha, membuat forum bisnis, dan melakukan one on one business matching, karena ini adalah momentum untuk sekaligus melakukan promosi, bahkan sampai dengan transaksi.

“Saya selalu menghitung cost and benefit setiap kunjungan, keberangkatan yang mengandung konsekuensi biaya tapi harus dilakukan, tetapi harus menghasilkan,” pungkas Mendag.

Perindustrian

Sementara itu Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengemukakan, mengacu pada data yang ada dibandingkan 2014, jumlah nilai tambah industri kita tahun 2018 dari sebelumnya 202 miliar dollar AS naik menjadi 236,69 miliar dollar AS.

Sementara kalau dilihat dari peringkat indeks daya saing, tahun 2017 Indonesia berada di nomor 47, sekarang sudah meningkat di peringkat 45. Kemudian dari nilai tambah industri keseluruhan di dunia, Indonesia meningkat dari 2014 di posisi ke-12, hari ini kita di peringkat ke-9.

Baca juga:
Bulog Sumbar Siapkan 12 Ribu Ton Beras Untuk Natal dan Tahun Baru

“Dari pangsa pasar global, posisi kita juga meningkat dari 1,74 persen menjadi 1,84 persen,” ungkap Airlangga seraya menambahkan, rata-rata pertumbuhan industri nilai akumulasinya sebesar 4,9 persen.

Dari segi investasi, lanjut Menperin, mengalami peningkatan, terutama dari subsektor makanan dan minuman yang tumbuh 9 persen. Dan sesuai target, kontribusi sektor sesuai dengan prioritas industri 4.0 yaitu otomotif, logam, kimia, tekstil dan pakaian jadi.

Adapun kontribusi pada sektor ekonomi, Menperin Airlangga Hartarto mengemukakan, sektor manufaktur atau industri pengolahan itu sebesar 20,04 persen, dan non migasnya 17,8 persen, makanan minuman 6,3 persen, kimia 2,9 persen, barang logam elektronik, alat angkut, dan tekstil.

“Jadi itu kontribusi terhadap keseluruhan sektor ekonomi secara nasional, dan ini merupakan sektor yang kontribusinya tertinggi,” ujar Airlangga.

Dari segi tenaga kerja, Menperin menjelaskan, jumlah tenaga kerja industri terus meningkat. Tahun 2018 sebesar 17,92 persen. Sementara dari jumlah populasi industrinya, industri besar dan sedang terjadi penambahan dari 2014 ke 2017 sebesar 5.898 unit usaha.

Sedangkan populasi industri kecil meningkat dari 3,52 juta tahun 2014, menjadi 4,49 juta. “Artinya terjadi pertambahan 970 ribu di industri kecil,” jelas Menperin.

Terkait investasi, menurut Menperin, lima besar investasi di semester ini, sektornya memang sesuai dengan apa yang diprioritaskan dalam industri 4.0, yaitu makanan dan minuman sebesar Rp29,14 triliun, kimia Rp28,97 triliun, barang logam Rp18,89 triliun, alat angkut Rp5,53 triliun, tekstil/pakaian jadi Rp4,65 triliun.

Menperin juga menyampaikan, beberapa kapasitas yang sudah mulai terisi seperti industri otomotif ekspornya meningkat. “Jadi Toyota, Mitsubishi, dan Suzuki menggunakan Indonesia sebagai pabrik induk untuk mengekspor ke berbagai negara,” ucap Airlangga.

Terkait program Indonesia Sentris, yaitu pengembangan kewilayahan industri sudah dibuka berbagai kawasan industri, baik itu di kawasan Dumai, Banten, dan Kendal. “Ini diharapkan bisa menumbuhkan kapasitas atau menumbuhkan industri-industri baru dalam wilayah pertumbuhan juga di luar Jawa,” pungkasnya.