Mengenal Syeh Harun Toboh, Ulama Pejuang di Kalangan Kaum Tua

Penulis: Redaksi

Syeh Harun Toboh, ulama pejuang di kalangan “Kaum Tua” dan memiliki andil dalam perdebatan antara ulama tradisional dan ulama modernis di Minangkabau.

Padang, Padangkita.com – Nama Syeh Harun Toboh mungkin kurang dikenal oleh masyarakat umum maupun kaum akademik kontemporer saat ini. Namanya tidak terlalu kesohor seperti Buya Hamka pada masanya, padahal Syeh Harun Toboh adalah seorang ulama terkemuka di Minangkabau.

Syeh Harun Toboh adalah ulama pejuang di kalangan Kaum Tua dan memiliki andil dalam perdebatan antara ulama tradisional dan ulama modernis di Minangkabau. Tokoh Minangkabau satu ini memiliki nama asli Syekh Harun al-Rasyidi at-Tobohi al-Fariyamani yang kemudian dikenal dengan nama Syeh Harun Toboh.

Seperti yang ditulis oleh filolog dan juga pengajar di Universitas Leiden Suryadi dalam laman pribadinya 11 September 2017 lalu, salah satu tulisannya mengulas tentang biografi Syeh Harun Toboh. Tulisan lain yang memuat sosok Syeh ini datang dari putranya sendiri, Ustadz Zainal Abidin Harun dalam salah satu edisi majalah Mimbar Ulama Tahun III pada tahun 1978 silam dengan judul Riwayat Hidup Haji Harun El Rasydy.

Syeh Harun Toboh diketahui lahir pada tahun 1885 di Kenagarian Toboh Gadang, Kecamatan Lubuak Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat. Ia sudah ditinggal mati oleh ibunya ketika masih kecil.

Ayahnya, Haji Abdul Gani gelar Tuanku Sidi Buluah Apo adalah seorang ulama terkemuka di kampungnya. Oleh sebab itulah, nama Syeh Harun Toboh sering pula ditulis: Syekh Harun bin Abd al-Gani aṭ-Tobohi al-Pariyamani. Kata al-Gani merujuk kepada nama ayah beliau yang bernama Abdul Gani gelar Tuanku Buluah Apo.

Semasa hidupnya, Syekh Harun Toboh mengajar di Diniyyah School Nagari Sunur. Dari pihak keluarganya diketahui panggilan akrabnya di kalangan pelajar agama di Toboh Gadang dan tempat-tempat lain dimana ia mengajar adalah Buya Tuo Tuanku Langik. Namun, di kalangan umum ia makin dikenal dengan sebutan Engku Mudo karena diharapkan akan menggantikan ayahnya sendiri sebagai ulama di daerahnya.

Sekolah Diniyyah School tempat Syekh Harun Toboh mengajar dikelola oleh Jam’iyyah Tarbiyah al-Khairiyyah al-Islamiyah Nagari Sunur, sebuah desa pertanian di belakang pantai Pariaman yang pada paruh pertama abad 19 telah melahirkan ulama – sastrawan Syekh Daud Sunur yang telah menulis dua syair yang terkenal, yaitu Syair Mekah dan Madinah dan Syair Sunur.

Lebih lanjut disebutkan bahwa Hamka pernah bertemu dengan Syekh Harun Toboh selepas peristiwa gempa Padang Panjang pada Juni 1926 silam, saat ia dibawa ayahnya, Haji Rasul, menghadiri pengajian di Surau Lubuak Bauak, Batipuah. Hal itu dijelaskannya dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao (1974:146) yang juga menyebutkan bahwa “akbar khadim thalabah al-ilmi’ (guru besar) Diniyyah School Nagari Sunur ini adalah salah seorang ulama terkemuka di Pariaman.

B.J.O Schrieke dalam Pergolakan Agama di Sumatera Barat (1973) menulis Syekh Harun Toboh adalah ulama pejuang di kalangan Kaum Tua dan memiliki andil dalam perdebatan antara ulama tradisional dan ulama modernis di Minangkabau.

Syekh Harun Toboh tidak hanya seorang ulama dan mengajar, ia juga seorang penulis. Bahkan ia telah menulis beberapa buku, antara lain Falāḥat al-mubtadī fīmā yalzamu ʿalā ʿl-mukallaf min aḥkām aš-šar ʿǐ. Ṭarīqa Ḵhalwatiyya fī masālik nabawiyya Muṣṭafawiyya (Kemenangan bagi pemula, menjelaskan hal-hal yang patut diketahui oleh mukallaf dan hukum-hukum syarak; terdiri dari 3 bagian) (Fort de Kock: s.n., 1330/1911), sebuah karya apologetic, yang dicatat oleh Schieke sebagai bantahan terhadap ulama modernis.

Namun, kesimpulan Schieke itu mungkin perlu ditinjau kembali karena merujuk kepada keterangan dalam Falāḥat al-mubtadī sendiri (yang salah satu kopiannya sekarang tersimpan di Leiden University Library, Belanda), juga sumber-sumber keluarga, ditemukan bahwa Syekh Harun Toboh justru berpikiran reformis. Beliau bahkan cukup pedas mengkritik praktik ‘kaji tubuh’ yang biasa dilakukan oleh pengikut ‘agama Ulakan’ (kaum Syattariyah). Hal itu berarti beliau adalah ulama yang berorientasi fikih.

Cukup masuk akal jika disebutkan kalau Syekh Harun Toboh berorientasi fikih karena dia adalah murid langsung Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (ulama terkemuka pengkritik kaum ortodoks) ketika berada di Mekah. Ia berangkat ke Mekah pada tahun 1913 dan berguru selama tiga tahun kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Masdjidil Haram, sebelum kembali ke kampung halamannya pada tahun 1916.

Selain karya-karya tersebut, Hamka juga pernah menyebut bahwa Syekh Harun Toboh juga menulis 2 jilid buku kecil tentang sejarah hidup Syekh Burhanuddin. Lalu ia juga menulis Mafatih al-Fikriyyah di al-ilm al-Manthiqiyyah (Kunci-kunci berpikir dalam ilmu mantiq) [diterbitkan secara pribadi, 1928] dan Mafatih al-Mabahist fi Istilah al-Ahadist (Kunci-kunci dalam membahas masalah, dalam menjelaskan istilah-istilah hadis).

Jika ditilik soal riwayat pendidikan, Syekh Harun Toboh pertama kali mengikuti pendidikan agama tingkat rendah selama kira-kira 3 tahun dengan ayahandanya sendiri, Tuanku Sidi Buluah Apo di Surau Buluah Apo Toboh Gadang, Lubuak Aluang.

Selanjutnya ia menempuh pendidikan menengah agama tingkat lanjut pertama di Surau Koto Tangah, Padang Luar Kota, selama kira-kira tiga tahun yang dimulai pada tahun 1900 (setelah 1903 ia kembali ke kampungnya.

Setelah itu, Syeh Harun Toboh melanjutkan studinya ke pendidikan menengah agama tingkat atas selama 5 tahun dengan Syekh Abbas Abdullah di Padang Japang, Luhak 50 Kota. Selepasnya, ia menempuh pendidikan Tinggi selama 3 tahun di Masjidil Haram, Mekah, dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Syeh Harun Toboh kemudian aktif dalam dunia pendidikan sebagai seorang pengajar. Ia pernah mengajar di beberapa tempat, yaitu di Surau Lubuak Bauak, Batipuah selama 6 tahun (mulai 1918); di Ngalau Gunuang, Padang Panjang (di sana ia mendirikan perguruan agama, tapi terpaksa ditutup pada tahun 1926 karena hancur oleh gempa bumi).

Selanjutnya Syeh Harun Toboh juga pernah mengajar di Sunur Pariaman. Ia mendirikan Tarbiyah Kahairiyyah Islamiyah yang bertahan selama 10 tahun (1926-1936). Kemudian beliau lanjut mengajar di Thawalib School Gadur, Koto Tinggi, Padang Pariaman, mulai tahun 1937 (tahun 1947 sekolah itu ditutup menyusul terjadinya Agresi Belanda 1).

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Syekh Harun Toboh tentunya juga aktif dalam berdakwah di daerah Pariaman dan Padang Panjang dan sekitarnya. Selain itu, ia juga aktif dalam berorgasisi, seperti Tarbiyah Khairiyyah Islamiyah yang didirikannya bersama beberapa kawannya di Sunur tahun 1926.

Syeh Harun Toboh kemudian aktif di organisasi Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) pimpinan Haji Abdullah Ahmad dan Dr. H. Karim Amrullah tahun 1933 dan Majlis Islam Tinggi (MIT) di masa pendudukan Jepang pada 1943.

Karena begitu tinggi minatnya pada pendidikan, Syekh Harun Toboh juga mempelopori pendirian beberapa perpustakaan (Kutub Khannah), yaitu di Sunur, Batipuah Baruah, dan Gadur, Koto Tinggi.

Selain itu, Syekh Harun Toboh juga pintar dalam ilmu silat yang dipelajarinya sebelum berangkat ke Mekah. Ia menikah sebanyak tiga kali. Dengan istrinya yang di Sunur beliau beroleh empat anak.

Salah seorang di antara anaknya dengan istri yang di Sunur, Zainal Abidin Harun (1922-1989), mewarisi ilmu ayahnya. Ia menjadi ulama terkenal di Sunur dan Padang Pariaman pada umumnya.

Syekh Harun Toboh kemudian meninggal di Surau Lubuak Bauak pada tahun 1959. Kuburannya terletak tak jauh dari surau tersebut yang masih ada hingga sekarang. [*/Jly]

Terpopuler

Add New Playlist