Malamang, Tradisi Sarat Makna di Minangkabau Menyambut Hari Raya Idulfitri

Penulis: Muhammad Aidil
|
Editor: Rina Akmal

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Tradisi ini dipercaya masyarakat Minang dapat menjaga silahturrahmi, dan memupuk jiwa gotongroyong

Padang, Padangkita.com– Jelang lebaran, masyarakat sejumlah daerah di Minangkabau Sumbar biasanya melakukan tradisi Malamang (melemang).

Malamang biasanya dilakukan secara bersama-sama dengan para tetangga, mulai dari penyiapan bahan lamang, persiapan api unggun, mencari bambu, menjaga api agar tetap menyala saat pembakaran lemang, hingga lemang siap dimakan atau dihidangkan.

Tradisi ini dipercaya masyarakat Minang dapat menjaga silahturrahmi, dan memupuk jiwa gotongroyong.

Lamang (Lemang) tidak hanya menjadi makanan yang disajikan untuk menyambut kedatangan kerabat saat lebaran, namun juga untuk Menjalang mintuo (hantaran untuk mertua) dari menantu perempuan.

Salah seorang warga di Sungai Lareh, Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah bernama Elmi, 48 tahun, tetap antusias memasak lemang meski Kota Padang diguyur hujan sejak Rabu (12/5/2021).

Guyuran hujan tak menyurutkan niat perempuan paruh baya tersebut untuk Malamang karena ingin merasakan suasana Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriyah secara khidmat dan sama seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

Pantauan Padangkita.com, selain Elmi, sejumlah kaum perempuan di sekitar tempat tinggalnya juga tetap melakukan kegiatan serupa sejak Rabu pagi.

“Agar tidak kehujanan, kami menyiapkan tenda terpal agar lemang ini tetap bisa dimasak, karena bahannya sendiri sudah kami siapkan semua,” ujarnya.

Elmi menjelaskan, masyarakat memasak lemang di atas tanah yang sudah ditaburkan sekam padi di atasnya.

“Di atas sekam api dinyalakan dan tidak boleh basah sedikitpun agar api tetap menyala, karena malamang memang biasanya dilakukan di luar rumah,” ulasnya.

Dia menjelaskan, bahan-bahan yang diperlukan dalam memasak lemang diantaranya bambu khusus untuk lemang, daun pisang bagian pucuk, santan, beras ketan, dan pisang.

Bambu kemudian dibersihkan dan dilapisi daun pisang yang dimasukkan ke dalam bambu. Sementara santan yang sudah diperas baru dimasukkan setelah beras ketan.

“Agar tidak hangus, api yang digunakan tidak terlalu besar. Di saat beras ketan dan santan mulai mendidih di dalam bambu, lemang dimasak dengan api kecil atau bara api sambil menunggu matang,” paparnya.

Proses selanjutnya yakni, membalikkan bambu agar lemang matang secara keseluruhan yang memakan waktu hingga empat jam lamanya.

Baca juga: Jelang Lebaran, 128 Narapidana Rutan Anak Air Padang Dapat Remisi

“Lemang yang dibuat bisa bervariasi, diantaranya menggunakan beras ketan biasa biasa, beras ketan hitam, dan bisa dicampurkan dengan pisang,” ungkapnya. [rna]

Baca berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist