Madjid Oesman, Pejuang Minang yang Nikahi Wanita Jepang Keturunan Samurai

Madjid Oesman, Pejuang Minang yang Nikahi Wanita Jepang Keturunan Samurai

Madjid Oesman dan Istri (Foto: Pandji Poestaka, No. 3, Tahun XX, 25 April 1942: 89)

Lampiran Gambar

Madjid Oesman dan Istri (Foto: Pandji Poestaka, No. 3, Tahun XX, 25 April 1942: 89)

Padangkita.com - Mungkin tidak banyak yang tahu tentang Madjid Oesman, pria Minang, pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang menikahi seorang wanita Jepang keturunan samurai. Madjid Oesman lahir pada 26 Mei 1907. Ia merupakan anak dari Oesman
Padoeko Radjo seorang hoofddjaksa.

Berdasarkan catatan peneliti dan dosen dari Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, Madjid Oesman adalah pejuang dari ranah Minang yang sangat membenci Belanda. Namun ia begitu dekat dengan pihak Jepang. Kedekatannya dengan Jepang inilah yang membuatnya sangat tidak disukai oleh Belanda.

Madjid Oesman pernah bersekolah di Jepang dalam kurun waktu 1931-1936 di Meiji University. Bahkan tidak hanya itu, dia pun menyunting seorang gadis Jepang yakni Hiroko Osada.

Menurut catatan Suryadi, Hiroko Osada adalah salah satu dari sedikit wanita Jepang yang berhasil menamatkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi sebelum perang dunia II. Hiroko juga merupakan wanita bangsawan dan masih merupakan keturunan samurai. Hiroko bahkan pernah tinggal dan menetap di Indonesia bersama sang suami. Di Indonesia namanya berubah yakni menjadi Siti Aminah.

Tahun 1935, ketika masih di Jepang, Madjid Oesman dua kali mewakili Indonesia dalam ‘pertemoean pergerakan Asia boeat Asia’, yaitu di Tokyo dan Dairen (Pandji Poestaka, No. 3, Tahun XX, 25-04-1942: 90).

Setelah kembali ke Indonesia, Madjid Oesman mendirikan surat kabar Radio dan Padang Nippo di Padang pada zaman kekuasaan Jepang. Namun dirinya kemudian ditangkap oleh Belanda dan karena dianggap sebagai propagandis dan mata-mata Jepang di Indonesia.

Madjid Oesman akhirnya ditangkap oleh pemerintah Belanda di Padang pada 8 Desember 1941. Dirinya pun kemudian dipindahkan ke Garut. Madjid Oesman dinyatakan bebas setelah Belanda hancur lebur oleh Jepang pada 1942. Madjid Oesman meninggal pada 25 Mei 1955 di Jakarta.

Suryadi menambahkan sebuah buku tentang riwayat dan perjuangan Madjid Oesman akan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Buku itu adalah: Memoar Siti Aminah Madjid Oesman – Hiroko Osada: Kisah Hidup dan Perjuangan Seorang Putri dari Jepang untuk Kemerdekaan Indonesia.

Dalam buku yang disunting oleh Salmiyah M. Usman (salah seorang anak perempuan Madjid Oesman) dan Hasril Chaniago itu kita akan mendapat banyak informasi baru yang sebelum ini tidak pernah terdengar, termasuk soal rencana Jepang menjadikan Sumatera sebagai negara bagiannya dan ‘barter’ antara Soekarno dan Madjid Oesman.

Tag:

Baca Juga

Biaya Pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi Rp25,23 T, Target Rampung dan Beroperasi 2031
Biaya Pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi Rp25,23 T, Target Rampung dan Beroperasi 2031
Rencana Pemotongan Batal, Sumbar Terima Alokasi TKD 2026 Setara Tahun Lalu Rp2,63 T
Rencana Pemotongan Batal, Sumbar Terima Alokasi TKD 2026 Setara Tahun Lalu Rp2,63 T
'Sinkhole' di Limapuluh Kota Terus Dikaji, Vasko Ingatkan Bukan Mistis dan Airnya Bukan Obat
'Sinkhole' di Limapuluh Kota Terus Dikaji, Vasko Ingatkan Bukan Mistis dan Airnya Bukan Obat
Mutasi di Pemprov Sumbar, Al Amin Kepala Bapenda dan Zefnihan Kepala Bappeda
Mutasi di Pemprov Sumbar, Al Amin Kepala Bapenda dan Zefnihan Kepala Bappeda
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Ada 28 Jenazah Korban Bencana di Sumbar Belum Teridentifikasi
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Ada 28 Jenazah Korban Bencana di Sumbar Belum Teridentifikasi
2,5 Ton Rendang untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut - Sumbar Resmi Dikirim dari Ranah Minang
2,5 Ton Rendang untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut - Sumbar Resmi Dikirim dari Ranah Minang