Padang, Padangkita.com – Sebuah foto mungkin mampu berbicara, namun narasi tulisanlah yang memberinya jiwa. Semangat inilah yang diusung oleh Pewarta Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Iggoy el Fitra, saat meluncurkan buku tunggal perdananya.
Buku berjudul Orang-orang Bermata Biru di Minangkabau tersebut resmi diluncurkan di Perpustakaan dan Arsip Steva, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (31/1/2026) malam. Karya ini menjadi pembuktian bahwa seorang fotografer jurnalistik tidak hanya piawai membekukan momen visual, tetapi juga ulung dalam merangkai kata.
Dalam buku setebal 183 halaman ini, Iggoy merangkum 33 karya tulis jenis feature yang telah ia hasilkan sejak tahun 2009. Peluncuran ini sekaligus menjadi ajang reuni gagasan yang dihadiri oleh tokoh pers dan akademisi Sumatera Barat.
Iggoy menuturkan bahwa buku ini adalah manifestasi dari kegelisahannya selama bertugas di lapangan. Ia ingin mematahkan stigma bahwa satu foto sudah cukup mewakili ribuan kata.
"Selain memotret, pewarta foto juga harus bisa menulis. Karena dalam satu foto tidak bisa mewakili seribu kata, dia harus dijelaskan dan dipaparkan agar tidak ada misinterpretasi dari pembaca. Buku ini adalah upaya saya mengampanyekan gerakan Pewarta Foto Menulis," ujar Iggoy di sela acara peluncuran.
Proses kelahiran buku ini ternyata memiliki cerita tersendiri. Iggoy mengungkapkan bahwa naskah ini telah digarap serius sejak lima tahun lalu dengan proses kurasi yang ketat.
"Buku ini saya mulai garap sekitar tahun 2020, namun pengumpulan karyanya sudah jauh sebelum itu karena saya harus menyortir tulisan-tulisan lama sejak tahun 2007. Setelah dipilah, yang layak masuk hanya karya dari tahun 2009," jelasnya.
Sedianya, buku ini diluncurkan bertepatan dengan HUT ke-88 ANTARA pada Desember 2025. Namun, rencana itu harus tertunda karena bencana banjir bandang yang melanda Padang akhir tahun lalu, di mana Iggoy turut menjadi korban terdampak.
**Mahkota Seorang Jurnalis**
Apresiasi mendalam datang dari Pemimpin Redaksi Langgam.id, Yose Hendra, yang hadir sebagai pembedah buku. Yose menyebut karya Iggoy sebagai pencapaian tertinggi dalam profesi kewartawanan.
"Apapun wujudnya, buku adalah mahkota seorang jurnalis. Ketika Iggoy dikenal sebagai fotografer, dia memotret cerita-cerita dalam bentuk foto, tapi dia sekarang memotret dalam bentuk tulisan. Hal inilah yang menarik dan patut dirayakan," kata Yose Hendra.
Yose menilai kekuatan Iggoy terletak pada gaya penuturannya yang naratif dan detail. Latar belakang Iggoy yang pernah menggeluti dunia sastra membuat tulisan jurnalistiknya terasa lebih hidup dan berjiwa.
"Saya melihat buku ini adalah jurnalisme naratif, karena lebih bercerita. Hal menarik dari seorang wartawan, terutama yang punya latar belakang sastra, karyanya menjadi lebih hidup. Seperti diksi judul dan pemilihan lead (teras berita) menjadikan kita terpicu untuk membaca," tambah Yose.
**Menulis Secara Visual**
Senada dengan Yose, Kepala Biro ANTARA Sumatera Barat, Syarif Abdullah, memuji kemampuan Iggoy dalam memvisualisasikan teks. Menurutnya, membaca tulisan Iggoy serasa melihat sebuah foto yang bergerak.
"Saya melihat buku ini memiliki karakter dan gaya yang menggambarkan dia seorang fotografer. Iggoy menggambarkan lebih detail, seolah-olah dia memotret suasana lewat kata-kata. Dia bisa mengawali sebuah paparan dari feature perjalanan itu dengan kata-kata menarik," ungkap Syarif.
Baca Juga: Buku Mitigasi Konflik Manusia - Harimau Diluncurkan
Peluncuran buku ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan pegiat literasi. Bagi masyarakat yang ingin memiliki rekaman jejak jurnalistik tentang Minangkabau ini, pemesanan dapat dilakukan melalui Instagram @pustakasteva atau nomor kontak 085210991952. [*/hdp]











