Andaninomic

Penulis: Wiko Saputra

Namanya Andani Eka Putra. Biasa dipanggil Andani. Pria yang berusia 48 tahun ini sangat terkenal di masa pandemi.

Ia adalah orang yang berhasil mengendalikan penyebaran virus SARS-CoV-2 di Sumatra Barat. Sampai-sampai Presiden Jokowi memintanya membantu daerah lain yang mengalami ledakan infeksi virus ini.

Kita sebagai orang Sumatra Barat patut bersyukur dan bangga. Andani berasal dari Tarusan – sebuah daerah di Sumatra Barat, berjarak 35 kilometer dari Painan, ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan. Satu kabupaten dengan Indropuro (Inderapura), tempat asalnya Hasan Din dan Siti Khadijah, kakek dan neneknya Megawati Soekarno Putri, ibu dari Puan Maharani, yang mengaku sangat Pancasilais itu.

Andani adalah Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi di Universitas Andalas, Padang. Dari laboratorium inilah sistem pengendalian virus itu dilakukan.

Saya tak akan mengulas detailnya. Sudah banyak ditulis oleh media nasional. Bahkan, seorang legenda jurnalis nasional pun ikut menulis, Dahlan Iskan. Saking ia kagum dengan Andani.

Andani bagi saya, bukan sekadar dokter yang mengepalai laboratorium kesehatan. Ia adalah ekonom ulung, meski ia tak menyadarinya.

Teorinya mengendalikan virus itu adalah sebuah postulat dalam menekan krisis ekonomi yang diakibatkan oleh Covid-19. Yah, virus yang katanya berasal dari Wuhan China ini telah menyebabkan gelombang krisis ekonomi global. Kata sebagian ekonom dunia, dampaknya lebih parah dibanding Great Depression 1929.

Presiden Jokowi yang dulunya percaya diri, sampai dibuat ‘ngeri’ dengan krisis ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia. Katanya sampai menyewa buzzer dan influencer agar masyarakat tak panik, itu gosip-gosipnya.

Ternyata, buzzer dan influencer tak cukup menahan krisis. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 tetap saja terkontraksi sampai minus 5,32%. Presiden pun beberapa kali marah kepada menterinya. Namun tak seperti Donald Trump (AS) dan Jair Bolsonaro (Brasil) yang langsung memecat menterinya yang tak becus bekerja.

Sebenarnya tak perlu model ekonomi super canggih dalam menghadapi krisis ini. Sederhana saja, pakai cara Andani mengendalikan virus ini: memahami inti persoalan dan fokus.

Kata Andani, virus ini menyebar lewat interaksi antar manusia. Maka putuslah mata rantai interaksi itu, istilah kerennya physical distancing, di kebijakan pemerintah disebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Protokol kesehatan harus diketatkan, seperti wajib pakai masker, jarak jarak, menjauhi kerumunan, dan cuci tangan.

Namun praktik itu susah diterapkan dengan ideal, kata Andani. Membutuhkan kerja keras untuk menertibkan masyarakat. Itu artinya, interaksi manusia akan terus terjadi dan virus akan terus menyebar. Makanya, Andani menawarkan cara berikutnya, yaitu meningkatkan testing, tracing dan isolasi.

Di sinilah hebatnya Andani. Ia dan timnya, termasuk pemerintah daerah dan tenaga kesehatan membangun sistem pengendalian virus yang mumpuni. Meski terjadi lonjakan yang terinfeksi karena masifnya testing dan tracing, tapi bisa dikendalikan.

Secara empiris, bila sistem penanganan virus ini baik, setelah masa inkubasi kedua (satu bulan), virus ini bisa dikendalikan oleh sistem kesehatan. Itu terjadi di banyak negara yang berhasil mengendalikan penyebaran virus ini. Dan ekonominya sudah mulai menggeliat lagi.

Namun di Indonesia, kita sudah memasuki masa inkubasi ke-13, sejak virus ini menginfeksi. Secara fakta, kita gagal mengendalikannya. Karena tidak memahami inti persoalan dan tidak fokus. Kita masih kebingungan antara menyelamatkan manusia atau menyelamatkan ekonomi. Padahal, postulat Andani itu sebenarnya bisa menyelamatkan keduanya.

Mengendalikan virus dengan baik, pada akhirnya akan mampu menyelamatkan ekonomi. Cukup membatasi interaksi sosial, di mana sektor-sektor ekonomi esensial tetap berjalan dengan protokol kesehatan yang ketat, dan meningkatkan kapasitas testing, tracing dan isolasi. Fokuslah mengerjakan itu.

Semua sumber daya dikerahkan ke sana. Targetkan dua kali inkubasi, kita sudah bisa mengendalikan virus ini. Untuk itu diperlukan Andani-Andani lainnya.

Maksudnya, mari kita serahkan penanganannya ke para ahli kesehatan, para ekonom di rumah saja dulu, sampai virus ini bisa mereka kendalikan. Jangan lagi mengganggu dengan teori-teori ekonomi yang sudah kuno itu. Termasuk para menteri dan anggota dewan (DPR) yang punya bisnis sampingan, jangan bikin kacau. Sebab, kalian sudah membuat Menteri Kesehatan jadi bingung, sampai tak tahu apa yang dikerjakannya.

Krisis ekonomi akibat pagebluk ini tak membutuhkan postulat ekonomi canggih. Kita tak butuh “Kurva IS-LM” yang dikembangkan dari teori Adam Smith, Irving Fisher, John Maynard Keynes, Joseph Schumpeter dan sebagainya. Kita hanya butuh Andaninomic saat ini. [*]


Wiko Saputra
Praktisi Ekonomi dan Perantau Minang