Terkendala Akses Internet, 31 Persen Anak di Indonesia Kesulitan "Belajar dari Rumah"

belajar jarak jauh

Ils. [Foto: Ist]

Jakarta, Padangkita.com - Banyak anak-anak di Indonesia mengalami kesulitan saat belajar dari rumah selama pandemi virus Corona atau Covid-19 karena sulitnya akses internet atau sarana belajar online yang baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan, Fidiansjah. Ia menyebut, berdasarkan hasil survei, 31 persen anak di Indonesia tidak memiliki akses atau sarana belajar di rumah.

"Selama proses belajar masa PSBB ini hanya 68 persen yang punya akses terhadap jaringan, berarti 31 persen tidak mendapatkan sarana tersebut," Fidiansjah dalam diskusi dari BNPB, Jakarta, Senin (20/7/2020).

Meski 68 persen sudah memiliki sarana belajar online, menurut Fidiansjah, para siswa tersebut masih mengalami masalah seperti jam belajar yang tak terkontrol hingga sulit memahami instruksi guru.

"Dia harus mengalami proses belajar sendiri, dan itu menimbulkan suatu dampak 37 persen anak tidak bisa mengetahui waktu belajar, karena tadinya rutin belajar lalu dia harus belajar mandiri. 30 persen anak kesulitan mengalami kesulitan pelajaran, 21 persen anak tidak memahami instruksi guru," katanya.

Selain itu, ia menyebutkan, pandemi Covid-19 juga membuat angka kekerasan pada anak di Indonesia meningkat. Sedikitnya, kata Fidiansjah, 73 persen anak Indonesia mengalami kekerasan saat berada di rumah selama masa pandemi Covid-19.

Fidiansjah merinci 73 persen itu terbagi menjadi dua bentuk kekerasan, yakni 11 persen kekerasan fisik dan 62 kekerasan verbal dari 79,5 juta anak atau 30,1 persen penduduk indonesia.

Baca juga: 5 Daerah dengan Pasien Sembuh Covid-19 Tertinggi

"11 persen anak mengalami kekerasan fisik karena proses belajar mengajar yang tidak lazim dan 62 persen anak mengalami kekerasan verbal, jadi ini menggambarkan betapa tinggi persoalan kesehatan jiwa pada anak remaja kalau tidak diantisipasi dengan cepat," katanya.

Ia menjelaskan, sejumlah dampak psikososial lainnya yang dialami anak-anak selama pandemi Covid-19, yaitu, 47 persen bosan tinggal di rumah, 35 persen anak khawatir ketinggalan pelajaran.

Kemudian, 34 persen anak takut terkena Covid-19, 20 persen merindukan bertemu teman-teman, 15 persen merasa tidak aman, dan 10 persen anak khawatir tentang penghasilan orang tua.

Di samping itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat per 19 Juli 2020 ada 7.008 kasus (8,1 persen) anak Indonesia sudah terinfeksi Covid-19, 8,6 persen dirawat, 8,3 persen sembuh, 1,6 persen di antaranya meninggal dunia. [*/try]


Berita ini sebelumnya dimuat Suara.com jaringan Padangkita.com dengan judul: 73 Persen Anak Indonesia Alami Kekerasan Selama Pandemi Corona

Baca Juga

Sultan Najamudin Tegaskan DPD Harus Jadi Lembaga Terkuat Penjaga Aspirasi Daerah
Sultan Najamudin Tegaskan DPD Harus Jadi Lembaga Terkuat Penjaga Aspirasi Daerah
DPD RI Bahas Tantangan Implementasi MBG: dari Tata Kelola hingga Penguatan Peran Daerah
DPD RI Bahas Tantangan Implementasi MBG: dari Tata Kelola hingga Penguatan Peran Daerah
DPD RI Soroti Pemotongan Dana Transfer dan Dampaknya Bagi Otonomi Daerah
DPD RI Soroti Pemotongan Dana Transfer dan Dampaknya Bagi Otonomi Daerah
Senator Nawardi Ingatkan BPI Danantara Berhati-hati Kelola Dana Publik dalam Investasi Swasta
Senator Nawardi Ingatkan BPI Danantara Berhati-hati Kelola Dana Publik dalam Investasi Swasta
Ketua DPD RI Ajak Dunia Perkuat Peranan Masyarakat Adat dalam Mitigasi Iklim
Ketua DPD RI Ajak Dunia Perkuat Peranan Masyarakat Adat dalam Mitigasi Iklim
Gagasan 'Green Democracy' Ketua DPD RI Jadi Perhatian Delegasi Negara Asing di COP30 Brasil
Gagasan 'Green Democracy' Ketua DPD RI Jadi Perhatian Delegasi Negara Asing di COP30 Brasil