Inilah Bis Perantau Orang-Orang Minang ke Medan

Inilah Bis Perantau Orang-Orang Minang ke Medan

Bis Tjahaja tujuan Bukittinggi-Medan (Sumber foto: www.cascus.co.id via fb Sumatera Barat Tempo Dulu). Suryadi – Leiden, Belanda.

Padangkita.com - Selain Jakarta, kota Medan adalah salah satu daerah rantau favorit bagi masyarakat Minangkabau. Mungkin bisa saja hal tersebut pengaruh dari novel HAMKA yang berjudul "Merantau ke Deli".

Namun jauh sebelum itu, sudah banyak juga para perantau Minang di daerah tersebut. kabarnya, Medan kala itu adalah kota yang menjanjikan kesenangan hidup dan tuah.

“Oh, anak si anu, kemenakan si anu, sudah sukses di Medan!”, demikian sering terdengar pujian dari mulut induak–induak di kampung-kampung di Minangkabau pada zaman dahulu.

Baca juga:
Erita Lubeek, Wanita Tangguh Ranah Minang di Daratan Eropa
Inilah Trio Minang Penakluk Pasar Senen

Dosen dan peneliti dari Universitas Leiden Belanda, Suryadi Sunuri mengatakan kota Medan telah terkenal sejak dekade pertama abad 20-an. Medan menjadi terkenal seiring dengan tumbuh suburnya urban culture di kota itu.

"Akibatnya pelabuhan Belawan Medan menjadi semakin terkenal, hal inilah yang membuat Emmahaven (Teluk Bayur) menjadi turun pamor," kata Suryadi.

Menurut Suryadi, Medan tidak akan menjadi salah satu kota industri jika tidak ada orang Minang. Peran orang Minang sangat besar dalam tumbuh dan berkembangnya Medan.

Suryadi mengambil contoh, dalam periode 1920an-60-an, dunia kepenulisan di kota itu diwarnai secara pekat oleh orang Minang. Sebutlah dunia roman populer (roman Medan) yang sangat fenomenal itu.

Yang menarik adalah, bagaimana cara orang-orang Minang merantau ke Medan pada zaman itu atau tepatnya di tahun 1960-70-an. Suryadi menjelaskan bahwa orang-orang menggunakan bus menuju Medan. Salah satu angkutan umum atau bis yang berjaya pada tahun itu adalah bus Tjahaja. Bus ini 'menambang' jurusan Bukittinggi-Medan dan sebaliknya.

Bus ini menjadi primadona bagi para perantau. Selain mempercepat akses, bus ini bisa jadi merupakan angkutan paling mewah yang ada pada saat itu. Saat itu terdapat sejumlah jenis dan merek kendaraan seperti Tjahaja, Sibual–buali, Enggano, Purnama Raja, PMTT, dan lain-lain.

Pada foto di atas, terlihat bahwa sebuah foto bus Tjahaja yang sedang melintasi jalan berkubang. Nomor polisi kendaraan tersebut adalah BB (daerah Tapanuli).

Baca juga:
Misteri Orang-Orang Pendek di Rimba Sumatera
Si Patai, Bandit Berhati Mulia Dari Padang

Berdasarkan cerita, tiap orang yang merantau menggunakan bis pada zaman dahulu, selalu membawa golok atau senjata tajam lainnya. Hal ini digunakan untuk menjaga diri bila ada aral merintang yang terjadi di tengah jalan. Sebab jalan yang dilewati para perantau tersebut adalah menempuh rimba raya Bukit Barisan di ‘tulang punggung’ Pulau Sumatera yang sering ditunggui oleh ‘penyamun Bukit Tambun Tulang’.

Demikianlah peran orang Minang di Medan sepanjang paruh pertama abad ke-20 sampai satu-dua dekade berikutnya. Dan perusahaan oto seperti Tjahaja telah menjadi ‘jembatan’ penghubung bagi si perantau Minang menuju dan kembali dari rantau Medan yang bertuah itu.

Baca Juga

Biaya Pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi Rp25,23 T, Target Rampung dan Beroperasi 2031
Biaya Pembangunan Tol Sicincin–Bukittinggi Rp25,23 T, Target Rampung dan Beroperasi 2031
Travel Surabaya - Malang 'Nahwa Travel': Alternatif Nyaman Selain Naik Bus
Travel Surabaya - Malang 'Nahwa Travel': Alternatif Nyaman Selain Naik Bus
Rencana Pemotongan Batal, Sumbar Terima Alokasi TKD 2026 Setara Tahun Lalu Rp2,63 T
Rencana Pemotongan Batal, Sumbar Terima Alokasi TKD 2026 Setara Tahun Lalu Rp2,63 T
'Sinkhole' di Limapuluh Kota Terus Dikaji, Vasko Ingatkan Bukan Mistis dan Airnya Bukan Obat
'Sinkhole' di Limapuluh Kota Terus Dikaji, Vasko Ingatkan Bukan Mistis dan Airnya Bukan Obat
Mutasi di Pemprov Sumbar, Al Amin Kepala Bapenda dan Zefnihan Kepala Bappeda
Mutasi di Pemprov Sumbar, Al Amin Kepala Bapenda dan Zefnihan Kepala Bappeda
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Ada 28 Jenazah Korban Bencana di Sumbar Belum Teridentifikasi
Masa Tanggap Darurat Berakhir, Ada 28 Jenazah Korban Bencana di Sumbar Belum Teridentifikasi