Tahi Lalat Buatan Bisa Jadi Sistem Peringatan Dini Kanker

Padangkita.com – Selain penyakit jantung, kanker juga menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Menurut World Health Organization, sekitar 14 juta kasus baru kanker ditemukan pada 2012. Jumlah kasus baru ini diperkirakan akan meningkat sekitar 70 persen selama dua dekade ke depan. Secara global, hampir 1 dari 6 kematian disebabkan oleh kanker. Sekitar 70% kematian akibat kanker terjadi di negara-negara berkembang.

Dilansir dari Kumparan.com, Senin (23/4/2018), jumlah data pengidap kanker di dunia pada 2016 ada 17,8 juta jiwa dan 2017 menjadi 21,7 juta jiwa. Di Indonesia, kanker serviks dan payudara menempati urutan tertinggi. Bahkan, Indonesia ditempatkan sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Sementara, kanker payudara adalah penyakit dengan kasus terbanyak kedua setelah kanker serviks.

Sebagian besar penderita kanker baru mengetahui penyakit yang diderita setelah tumor berkembang dengan luas. Keterlambatan diagnosa kanker secara siginifikan mengurangi kemungkinan pemulihan pasien. Contohnya tingkat penyembuhan untuk kanker prostat adalah 32 persen dan kanker usus besar hanya 11 persen karena kesulitan dalam deteksi dini. Kemampuan mendeteksi tumor dengan cepat tidak hanya akan menyelamatkan nyawa, tetapi juga mengurangi kebutuhan akan perawatan yang mahal.

Parapeneliti yang bekerja dengan Martin Fussenegger, Profesor di Department of Biosystems Science and Engineering, ETH Zurich, Basel,  mempresentasikan sebuah solusi yang mungkin untuk mengatasi masalah ini. Mereka mengembangkan jaringan gen sintetis yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini.

Dilansir dari sciencedaily.com, Senin (23/4/2018), implan ini dapat mengenali empat jenis kanker yang paling umum, yakni kanker prostat, paru-paru, usus besar, dan payudara pada tahap yang sangat awal. Jaringan gen sintetis ini ditanamkan dibawah kulit untuk memantau kadar kalsium darah. Kanker terdeteksi ketika tingkat kalsium dalam darah meningkat karena tumor yang berkembang.

Begitu tingkat kalsium melebihi nilai ambang tertentu selama periode waktu yang lebih lama, sinyal kaskade dipicu untuk memulai produksi pigmen melanin dalam sel yang dimodifikasi secara genetik. Kulit kemudian membentuk tahi lalat coklat yang dapat dilihat dengan mata telanjang.

Tahi lalat ini muncul jauh sebelum kanker terdeteksi melalui diagnosis konvensional, sehingga pembawa implan tidak perlu panik. Namun, mereka harus segera menemui dokter untuk evaluasi lebih lanjut apabila tahi lalat muncul. “Tahi lalat tidak berarti bahwa orang itu akan segera mati (Diterjemahkan dari bahasa Inggris),” jelas Fussenegger.

Baca juga:
Rokok untuk Anak-Anak dengan Dalih Tradisi

Parapeneliti menggunakan kalsium sebagai indikator perkembangan empat jenis kanker, karena mineral ini diatur kuat di dalam tubuh. Tulang berfungsi sebagai penyangga yang dapat menyeimbangkan perbedaan konsentrasi. Namun, ketika terlalu banyak kalsium terdeteksi dalam darah, ini dapat berfungsi sebagai tanda kemunculan salah satu dari empat kanker.

“Deteksi dini meningkatkan kemungkinan bertahan hidup secara signifikan,” kata Fussenegger. Misalnya, jika kanker payudara terdeteksi dini, kemungkinan pemulihan adalah 98 persen. Namun, jika tumor didiagnosis terlambat, hanya satu dari empat wanita memiliki peluang pemulihan yang baik. “Saat ini, orang-orang biasanya pergi ke dokter hanya ketika tumor mulai menimbulkan masalah. Sayangnya, pada saat itu seringkali sudah terlambat,” imbuhnya.

Implan memiliki jangka penggunaan yang terbatas, yakni selama sekitar satu tahun. Setelah itu, jaringan gen sintetis ini harus diganti.

Sejauh ini, implan peringatan dini yang dipresentasikan tersebut masih berupa prototipe dan baru melalui studi kelayakan. Sistem peringatan dini yang diujikan pada tikus dan kulit babi ini berfungsi dengan akurat selama pengujian. Tahi lalat berkembang hanya ketika konsentrasi kalsium mencapai tingkat yang tinggi.

Parapeneliti masih membutuhkan waktu yang panjang agar implan bisa diujikan pada manusia. “Pengembangan lanjutan dan uji klinis secara khusus sangat melelahkan dan mahal, yang mana kami sebagai kelompok riset tidak mampu,” kata profesor ETH tersebut. Namun, ia ingin mempromosikan perkembangannya, sehingga suatu hari nanti dapat menjadi produk yang bisa digunakan oleh manusia.