Sumatera Thawalib, Sekolah Islam Modern Pertama di Indonesia

Pesantren Thawalib Padang Panjang (Foto: facebook)

Padangkita.com – Salah satu pusat pendidikan yang ternama dan menjadi primadona di Padang Panjang adalah Perguruan Tinggi Sumatera Thawalib. Perguruan ini yang terletak di persimpangan jalan Lubuak Mata Kuciang, Kelurahan Pasa Usang, Kota Padang Panjang, Sumatra Barat.

Sumatera Thawalib merupakan sekolah Islam modern pertama di Indonesia dan masih Berdiri sampai sekarang. Sumatera Thawalib, yang berarti Pelajar Sumatera, berdiri pada tanggal 15 Januari 1919 dari hasil pertemuan antara pelajar Sumatera Thawalib (Padang Panjang) dengan pelajar Parabek.

Sekolah yang telah hadir sejak seabad silam, merupakan hasil dari buah pemikiran para ulama reformis dan moderat Minangkabau. Perguruan Sumatera Thawalib Padang Panjang didirikan oleh para ulama reformis Minangkabau seperti Haji Abdul Karim Amrullah (Inyiak Rasul), Haji Abdullah Ahmad, dan Zainuddin Labay el Yunisy.

Ketiga ulama ini, menjadi ikon kelompok pembaharu pendidikan Islam di Ranah Minang pada awal abad ke-20. Sumatera Thawalib merupakan hasil revolusi pendidikan yang mereka lakukan. Sistem halaqah (guru dikelilingi murid dengan sistem duduk bersela), diganti dengan sistem duduk diatas kursi dan ada meja tulis dihadapan murid (sistem klasikal). Sedangkan guru harus berdiri dihadapan murid, dan diberi keleluasaan untuk bergerak.

Ruang belajar dan mengajar pun berubah. Kalau di surau, hanya sebuah ruang, maka di sekolah ini, para murid belajar didalam lokal yang berbentuk bangunan segi empat.

Tak hanya itu, para murid pun tidak lagi memakai kain sarung, sebagaimana kebiasaan menuntut ilmu di surau sebelumnya. Para ulama memberi kekebasan kepada murid untuk berpakaian, asalkan beretika dan sesuai dengan syariat Islam.

Mantan Kepala Sekolah Sumatra Thawalib Padang Panjang, Firdaus Tamin mengatakan, kemunculan Sumatera Thawalib pada waktu itu terbilang berani, disaat pendidikan Islam dimarginalkan oleh kolonial dibanding pendidikan model Hindia Belanda.

Karakter demikian kemudian menjadi dasar dalam penerapan kurikulum di sekolah ini. Menurut Firdaus, untuk melatih kebiasaan berdebat dan bersikap kritis, para murid harus mengikuti muhadarrah atau pidato 2 kali seminggu secara bergantian.

“Tahun 1918, Thawalib juga membuat ekstra kurikuler sekolah dengan nama Debating Club. Diadakan sekali seminggu, yang diikuti oleh guru-guru dan palajar senior. Selain diajarkan mengarang, Debating Club juga mengajarkan berpidato, berdebat, dan berlatih mengemukakan suatu pandangan,” tutur alumni Thawalib tahun 1969 ini.

Baca juga:
Asah Kreativitas Mahasiswa, FBS UNP Helat Festival Sastra

Dalam perkembangannya, kran kebebesan berekspresi juga semakin terbuka di Thawalib. Pada awal zaman pergerakan, sekitar 1915 hingga 1930, para murid mendapat siraman berbagai ideologi yang berkembang di Ranah Minang pada saat itu. Dan murid juga mendapat ruang kritis untuk disampaikan dalam bentuk tulisan, dengan adanya Majalah Al Munir.

Puncaknya, pada dekade 1920-an, ideologi kanan dan kiri berebut massa di sekolah ini. Komunis membesar, akibatnya salah satu pendiri, Inyiak Rasul hengkang karena tidak suka dengan keberadaan aliran ini.

Sejarawan Universitas Andalas Zulqaiyyim di Padang, beberapa waktu lalu, mengatakan, semangat reformis jelas ada di sekolah Thawalib karena pelajaran utamanya adalah bahasa Arab dan kitab kuning. “Setiap pelajar bisa mendebat gurunya asal bersumberkan pada Al-quran dan Hadist,” ujarnya.

“Awal 1920-an ideologi yang berkembang saat itu seperti berbasis agama, nasionalis, dan komunis cepat menyebar dikalangan pelajar melalui korespondesi, surat kabar, buku, dan tulisan seorang guru Thawalib, Moechtar Luthfi di sebuah surat kabar yang memuat unsur-unsur politik,” terang Zulqaiyyim.

“Ketertarikan pelajar Thawalib serta masyarakat lainnya terhadap komunisme karena yang dipropogandakan adalah anti kolonialisme dan imperialisme. Suasana yang berkembang saat itu sungguh realitas negara terjajah,” timpal Zulqaiyyim, peneliti sekolah-sekolah Islam di Minangkabau ini.

Paska pemberontakan, Thawalib dibekukan oleh Belanda hingga tahun 1928, seiring dengan kebijakan pembubaran setiap organisasi yang ada di Sumatra Barat.

Thawalib kembali diaktifkan tahun 1928 dan kembali melahirkan rutinitas politis dan semangat pergerakan di kalangan pejajar. Konferensi yang dihadiri oleh seluruh sekolah Sumatra Thawalib pada tahun itu juga, berdampak meningkatnya intensitas perkembangan politik di sekolah itu.

Puncaknya, para pelajar menyepakati pendirian Persatuan Muslim Indonesia (Permi) di tahun 1930. Di tahun yang sama, pengajar Sumatera Thawalib juga mempelopori berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti). Tahun 1932, Permi berubah menjadi partai politik. Salah satu tokoh Permi yang terkenal adalah Rasuna Said.

“Generasi kedua Thawalib pada dekade 1930-an memperlihatkan kecenderungan politik, sangat berbeda dibanding para pendiri yang cenderung mengajarkan agama semata,” tandas Zulqaiyyim.

Baca juga:
Awaloeddin Latief, Rela Menyusup Demi Vaksin Cacar

Pergerakan pelajar Thawalib terus menggeliat memasuki dekade 1930-an. Kebijakan pemerintah kolonial Belanda menjalankan Ordonansi Sekolah Liar diseluruh Indonesia pada tahun 1933, ditentang keras oleh pelajar Thawalib dan Diniyyah School. Akibatnya, sebagian guru dan pelajar Thawalib ditangkap dan disakiti. Bahkan, upaya menentang Belanda ini menyebabkan sekolah Thawalib sering digeledah oleh pihak kolonial.

Dialektika yang berkembang di Sumatera Thawalib itu, menjalar ke Perguruan Thawalib lainnya seperti, Parabek yang menerbitkan Majalah Al Bayan, Thawalib Sungayang terbir Majalah Al Basir, Thawalib Padang Japang terbit Majalah Al Imam, Thawalib Maninjau terbit Majalah Al Ittiqah, dan di Padang Panjang kemudian terbit lagi Majalah Perdamaian, dibawah pimpinan Djalaluddin Thaib.

(Yose Hendra)