Revitalisasi Embung di Nagari Toboh Gadang, Bukan Sekadar Resapan Air

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Sandjojo saat melakukan groundbreaking dan peletakan batu pertama pembangunan Embung di Nagari Toboh Gadang, Kabupaten Padangpariaman. (Foto: Humas Kemendes PDTT)

Padangkita.com – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Sandjojo melakukan groundbreaking dan peletakan batu pertama pembangunan embung di Sungai Abu Tabek Gadang di Korong Sawah Mansi Surau Kandang,Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padangpariaman, kemarin.

Eko berharap, embung ini akan meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan dampak meningkatnya taraf ekonomi masyarakat.

Pembangunan embung dengan luas 2,5 hektare, diharapkan memberi manfaat untuk Kecamatan Sintoga, Nan Sabaris, dan Ulakan Tapakis untuk pengairan sawah seluas 400 hektar.

Sebelumnya terdapat embung yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912 dengan luas 2 hektar. Pada 2009 masyarakat meminta wali nagari melakukan pengerukan embung karena debit air mulai menurun yang disebabkan sedimentasi ditambah merimbunnya pohon kelapa dan rumbio di tepi embung.

Pada 2012 dilakukan pengerukan dan renovasi oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera V.

Ke depan, pemerintah juga berharap akan ada peningkatan pemanfaatan embung dari hanya serapan air, juga sebagai wisata dan sarana olahraga, kolam renang setengah hektar, lapangan bola dan parkir satu setengah hektar, jumlah empat setengah hektar.

Dengan adanya dana desa, rencana tersebut pun dapat diwujudkan. “Awalnya banyak yang meragukan apakah desa mampu mengelola keuangannya sendiri? Ternyata masyarakat desa kalau dikasih kesempatan bisa,” ujar Menteri Eko usai acara tersebut.

Menurut dia, dana desa telah meningkatkan status desa menjadi maju dan berkembang. Tahun lalu tercapai 11 ribu desa berkembang yang awalnya tertinggal dan 7.000 desa maju.

“Melebihi target RPJM 2019 yaitu 5.000 desa berkembang dan 2.000 desa maju,” ungkapnya.

Ejo menambahkan, dana desa terus membuktikan hasilnya yaitu terbangunnya jalan desa sepanjang 66.884 km, jembatan sepanjang 511,9 km, embung sebanyak 686, saluran irigasi sebanyak 12.596. Di samping itu penyerapan dana desa dari 80% menjadi 99,89%.

Jumlah kucuran dana desa dari tahun ke tahun meningkat, namun menteri mengatakan adanya prasyarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan peningkatan tersebut.

“Hanya desa yang melaksanakan empat program unggulan yang dana desanya bisa ditambah 2 x lipat tahun depan,” tegasnya.

Baca juga:
Dharmasraya Masuk Program Padat Karya Jokowi 2018

Keempat program unggulan yang dinisiasi Kemendes PDTT adalah pertama Produk Unggulan Desa (Prudes)/Pruduk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), BUMDes, Embun, dan Sarana Olahraga Desa (Raga).

“Fokus tiga saja produk unggulannya. Pak bupati hubungi saya. Tiap minggu saya panggil 5-10 bupati. Saya mengajak pengusaha, bank, dan lainnya,” kata Eko.

“Saya tantang 1,5 M dari saya, 1,5 tugas bupati untuk embung di sini. Nanti bisa muter karena bisa ada keramaian aktivitas ekonomi. Kalau kita fokus bisa maju, peran bupati bina nagari.”

Kedua, lanjut menteri, adalah embung. Baru 45% desa-desa yang punya saluran irigasi.

“Tambahan 20 T dana desa, atau sekitar 200-500 wajib dialokasikan untuk embung untuk nagari. Maka panen bisa 4 kali. Perikanan mengurangi gizi buruk balita 37%,” paparnya.

Ketiga, adalah BUMDes. Menurut Eko, lahirnya PT.Mitra BUMDes Nusantara adalah supaya dipastikan tiap BUMDes ada pendampingan dan potensi moral ancaman.

“Subsidi pemerintah dan hibah akan disalurkan melalui PT. Mitra BUMDes Nusantara,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Padangpariaman Ali Mukni, optimistis revitalisasi pembangunan embung akan menjadi wisata unggulan daerah.

Di Kabupaten Padangpariaman terdapat 103 nagari/desa dan 405 jiwa.

“Embung ini ke depannya akan dijadikan tempat wisata, mancing ikan dan irigasi. Dananya murni diambil dari dana desa 2017 sebesar 60 juta. Sampai selesai butuh dana 3M,” pungkasnya.