Mikroba di Usus Halus Penting untuk Penyerapan Lemak

 

Padangkita.com – Sebuah penelitian baru yang berfokus pada mikroba di permukaan saluran pencernaan menunjukkan bahwa pola makan padat kalori dapat merangsang ekspansi mikroba yang mendorong pencernaan dan penyerapan makanan tinggi lemak. Seiring berjalannya waktu, kehadiran mikroba ini secara terus menerus di dalam usus dapat menyebabkan kelebihan gizi dan obesitas.

Dilansir dari sciencedaily.com, Selasa (17/4/2018), bakteri ini dapat berkembang biak dalam waktu 24 hingga 48 jam di usus halus sebagai respon terhadap konsumsi makanan tinggi lemak. Mikroba ini membantu produksi dan sekresi enzim pencernaan ke dalam usus halus.

Enzim pencernaan tersebut memecah lemak makanan, sehingga memungkinkan terjadinya penyerapan makanan padat kalori dengan cepat. Bersamaan dengan itu, mikroba melepaskan senyawa bioaktif. Senyawa-senyawa ini merangsang sel-sel penyerapan di usus mengangkut lemak untuk proses penyerapan.

“Bakteri ini adalah bagian dari rangkaian peristiwa yang diatur untuk membuat penyerapan lipid lebih efisien (Diterjemahkan dari bahasa Inggris),” kata penulis senior dalam penelitian tersebut, Eugene B. Chang, MD, direktur Pusat Penelitian Penyakit Pencernaan NIH di Universitas Kedokteran Chicago.

Menurut Chang sedikit orang yang fokus pada mikrobioma usus halus, padahal di tempat ini lah sebagian besar vitamin dan mikronutrien lain dicerna dan diserap. “Studi kami adalah salah satu penelitian pertama yang menunjukkan bahwa mikroba usus halus tertentu secara langsung mengatur pencernaan dan penyerapan lipid. Ini bisa menjadi penerapan klinis yang signifikan, terutama untuk pencegahan dan pengobatan obesitas dan penyakit kardiovaskular,” tambahnya.

Penelitian yang dipublikasikan pada 11 April 2018 dalam jurnal Cell Host and Microbe ini bertujuan untuk mengetahui apakah mikroba diperlukan dalam pencernaan dan penyerapan lemak, untuk mulai mempelajari mikroba mana yang terlibat, dan  menilai peran mikroba yang diinduksi oleh makanan tersebut pada pencernaan dan penyerapan lemak.

Penelitian ini melibatkan tikus dengan dua jenis perlakuan. Tikus pertama bebas kuman dan dikembangbiakkan di ruang terisolasi serta tidak mengandung bakteri usus. Sedangkan tikus kedua bebas patogen tertentu atau Specific Pathogen Free (SPF), yang berarti sehat tetapi memiliki mikroba yang tidak menyebabkan penyakit umum.

Tikus bebas kuman, meskipun diberi makanan tinggi lemak, tidak mampu mencerna atau menyerap makanan berlemak. Berat badan tidak bertambah dan kadar lipid di tinja bertambah.

Hal sebaliknya terjadi pada tikus kedua. Tikus SPF yang diberi makanan tinggi lemak mengalami kenaikan berat badan. Makanan ini dengan cepat meningkatkan kelimpahan mikroba tertentu di usus halus, meliputi mikroba dari keluarga Clostridiaceae dan Peptostreptococcaceae. Satu anggota Clostridiaceae ditemukan secara khusus berdampak terhadap penyerapan lemak. Kelimpahan keluarga bakteri lainnya menurun akibat diberi makanan tinggi lemak, yaitu meliputi keluarga Bifidobacteriacaea dan Bacteriodacaea, yang umumnya berhubungan dengan kekurusan.

Ketika mikroba yang berkontribusi pada pencernaan lemak di masukkan ke dalam tikus bebas kuman, mereka dengan cepat memperoleh kemampuan untuk menyerap lipid. “Studi kami menemukan bahwa, setidaknya pada tikus, makanan tinggi lemak dapat sangat mengubah susunan mikroba usus halus,” kata Chang.

Chang menjelaskan bahwa tekanan makanan tertentu, seperti makanan padat kalori, menarik strain bakteri tertentu ke dalam usus halus. Mikroba ini kemudian memungkinkan inang untuk mencerna makanan tinggi lemak ini dan menyerap lemak. Hal ini bahkan dapat berdampak pada organ ekstraintestinal seperti pankreas.

“Pekerjaan ini memiliki implikasi penting dalam mengembangkan pendekatan untuk memerangi obesitas,” para penulis menyimpulkan. Ini juga termasuk mengurangi kelimpahan atau aktivitas mikroba tertentu yang mendorong penyerapan lemak, atau meningkatkan kelimpahan mikroba yang dapat menghambat penyerapan lemak.

“Saya akan mengatakan, hal paling penting yang dapat diambil secara keseluruhan adalah konsep bahwa apa yang kita makan–pola makan setiap hari– memiliki dampak besar pada kelimpahan dan jenis bakteri yang ada di usus kita,” kata Kristina Martinez-Guryn, PhD, penulis utama penelitian yang saat ini bekerja sebagai asisten profesor di Universitas Midwestern di Downers Grove, IL.

Meskipun penelitian ini masih sangat awal, Kristina menambahkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kita mungkin bisa menggunakan prebiotik atau probiotik atau bahkan mengembangkan post-biotic (senyawa atau metabolit yang diturunkan dari bakteri) untuk meningkatkan penyerapan nutrisi bagi orang-orang dengan gangguan malabsorpsi, seperti penyakit Crohn. Pengujian cara baru untuk mengurangi obesitas juga dapat dilakukan.