Berniat Membangun Bisnis? Coba Empat Tips ini

Ilustrasi bisnis online (foto: pexels)

Padangkita.com – Memulai menjalankan sebuah usaha atau startup tentu menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang, terutama mereka yang baru akan memulai usaha untuk pertama kali. Jika tidak direncanakan dengan baik, bisa saja usaha tersebut berhenti di tengah jalan. Sementara, pemerintah tengah menggalakkan masyarakat Indonesia untuk mulai berwirausaha.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, dilansir dari Kumparan.com, Jumat (13/4/2018), mengatakan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru mencapai 3,1 persen dari jumlah penduduk. Rasio ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen maupun Amerika Serikat sebesar 12 persen.

Berikut ini empat tips bertahan untuk kamu yang baru memulai usaha versi Yasir Ali, co-founder di startup Reviews dan seorang Serial Entrepreneur, dilansir dari Forbes.com, Jumat (13/4/2018). Tips ini dapat diikuti untuk memaksimalkan potensi dan mengurangi resiko saat meluncurkan usaha/startup.

  1. Mulai dengan masalah, bukan solusi

Ide bagus berasal dari pemecahan masalah. Masalah yang dipecahkan tidak perlu besar, namun logis. Jangan membatasi diri hanya dengan membangun ide hebat tapi ternyata tidak tepat digunakan untuk memecahkan masalah. Berpikir lah besar, tetapi jangan takut dan malu untuk menangani masalah yang lebih kecil di awal. Banyak wirausahawan pemula tanpa henti mencoba memecahkan masalah besar untuk menjadi pukulan besar berikutnya, tetapi kemudian terpukul oleh kemunduran yang disebabkan kurangnya pengalaman dan tantangan.

Cara yang baik untuk mengurangi risiko kegagalan usaha/startup dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk menilai apakah ide tersebut memiliki potensi adalah dengan bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut: Apa masalahnya? Seberapa besar masalahnya? Apa pain point atau permasalahan yang ingin diselesaikan? Apakah ada solusi saat ini di pasar?

Jika dalam menjawab salah satu dari pertanyaan-pertanyaan ini terdapat kendala, artinya belum cukup penelitian yang dilakukan terhadap usaha yang akan dijalankan atau mungkin pain point tidak cukup kuat untuk mempertahankan keberlangsungan usaha tersebut.

Sebagai contoh dari permasalahan di atas, Yasir mencontohkan pengalamannya saat mengembangkan startup pertamanya. Ia mendirikan perusahaan yang memungkinkan pasien dapat mengakses waktu tunggu dengan transparan sehingga mereka dapat mengetahui waktunya sebelum melakukan kunjungan. Ternyata, ide ini tidak benar-benar memecahkan pain point, melainkan memberikan kemewahan bagi pasien. Pain point tidak cukup kuat untuk mendorong pasien dan fasilitas pelayanan kesehatan agar menggunakan layanan ini. Banyak fasilitas juga yang tidak mau berbagi waktu tunggu.

Untungnya, hal tersebut dapat disadari dengan cepat dan perusahaan berputar haluan untuk memecahkan masalah yang menyebabkan waktu tunggu yang lama, seperti penjadwalan yang tidak efisien dan manajemen perpindahan pasien. Perusahaan tersebut akhirnya berubah dari platform penerbitan waktu tunggu menjadi solusi manajemen perpindahan pasien dan manajemen antrian yang akan mengurangi waktu tunggu yang panjang.

  1. Pra penjualan sebagai persiapan sebelum berinvestasi

Memaparkan produk atau layanan kepada calon klien adalah salah satu cara tercepat untuk menilai validasi pasar sebelum diluncurkan. Mengapa ini penting? Bayangkan jika Anda mengembangkan dan merancang sebuah platform, layanan, dan/atau ide, yang pada akhirnya hanya untuk mengidentifikasi bahwa pengguna atau pembeli tidak ingin menggunakannya. Saat itu, investasi yang sudah dilakukan berpotensi terbuang. Pra penjualan juga memungkinkan untuk mengumpulkan informasi penting dalam membangun startup agar benar-benar memenuhi kebutuhan pain point klien.

Hal ini tidak terbatas pada menjual produk atau layanan secara harfiah sebelum diluncurkan, tapi juga bisa mencakup sekadar mendapatkan komitmen dari klien yang prospektif sejak dini. Harus ada usaha untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi sebanyak-banyaknya pengguna dan pembeli sebelum produk diluncurkan. Perkirakan berapa banyak pengguna dan pembeli yang ada. Ini akan membantu mengurangi risiko yang terkait dengan validasi dan adopsi pasar.

  1. Bersandar dan gunakan sumber daya pribadi

Sangat banyak pengusaha yang percaya bahwa mereka membutuhkan pendananaan untuk memulai usaha. Tetapi banyak perusahaan besar yang terlebih dahulu menginvestasikan waktu dan tenaga mereka sendiri sebelum menerima orang lain. Maksimalkan lah sumber daya dan kemampuan pribadi sebelum menginvestasikan uang ke orang lain.

Jika ingin mempekerjakan seseorang untuk penjualan, lakukan sendiri, sebelum berinvestasi pada orang lain. Jika merasa perlu membayar seseorang untuk membuat halaman arahan sederhana, gunakan lah sumber daya online yang terjangkau untuk pengembangan situs web, seperti WordPress atau Squarespace, sebagai permulaan.

Apabila seseorang memilih untuk tidak menggunakan sumber daya sendiri, pada akhirnya yang ia lakukan hanyalah menggali diri menjadi lubang keuangan. Terlalu banyak startup gagal, jadi cara terbaik untuk menjadikan ini lebih mudah adalah dengan mengurangi risiko sebanyak mungkin, terutama dalam hal uang dan waktu.

  1. Bersenang-senang lah dan nikmati

Menjadi wirausahawan berarti mengambil banyak risiko, mulai dari pribadi hingga keuangan. Oleh sebab itu, sifat terpenting yang harus selalu dibawa adalah menikmati diri sendiri. Jangan takut untuk bersenang-senang dan membuat kesalahan. Terlalu banyak wirausaha mengubah diri menjadi mesin yang bekerja dan kehilangan kreativitas. Padahal, untuk mempertahankan etos kerja sekaligus bersenang-senang adalah mungkin.

Cara terbaik yang dilakukan oleh Yasir untuk tetap kreatif sambil mempertahankan etos kerjanya adalah dengan tidak takut meluangkan waktu untuk mengeksplorasi konsep dan ide baru. Bagi wirausahawan pemula, tips ini akan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan usaha meskipun ada kemunduran.