Film Ranah 3 Warna, Menggugah Ranah Intelektual

Penulis: Redaksi

Man jadda wajada, man shabara zhafira (Sufi quotes)

Film Ranah 3 Warna berdasarkan novel karya Ahmad Fuadi yang diangkat ke layar lebar dengan indah dan berkualitas oleh sutradara Guntur Soeharjanto. Film ini diwarnai oleh berbagai simbolik yang wajar, mengena, dan mampu mengundang haru biru penonton.

Tulisan tentang film Ranah 3 Warna ini bukan sekadar resensi film seperti biasa, namun lebih merupakan refleksi terhadap kehidupan intelektual secara holistik. Terutama benturan terhadap emosi penulis yang merasa terwakili oleh jalan cerita Ranah 3 Warna. Tulisan ini menjadi jembatan bagi perjalanan hidup pembaca yang memiliki track record serupa dengan kisah film Ranah 3 Warna.

Ranah Intelektual

Sebuah proses pematangan intelektual yang ketat ketika berkali-kali tulisan ditolak redaksi. Alif Fikri diperankan oleh aktor ganteng Arbani Yasiz sebagai anak muda berbakat diminta membuat tulisan ulang dalam target waktu yang pendek. Tantangan sebagai penulis muda karena harus mampu memunculkan inspirasi tanpa menunggu inspirasi datang secara alamiah.

Alif Fikri yang santun mampu melewati tekanan batin yang merendahkan harga diri. Berkali-kali tulisannya dicoret dengan ganas oleh pemimpin redaksi. Dia tetap santun dan menempatkan diri sebagai seorang penulis pemula yang sedang belajar.

Sebuah kebanggaan dan motivasi luar biasa ketika tulisan pertama kali dimuat di media. Ketika itu terasa intelektual dihargai dan dunia terbuka luas. Mulai fans bermunculan dikalangan komunitas yang terbatas.

Kebanggaan seorang ayah ketika membingkai tulisan pertama Alif dan disimpan nun di sana di rumah kayu di pinggir Danau Maninjau nan penuh dinamika intelektual.

 Di sekitar Danau Maninjau terdapat nagari-nagari legenda ‘Bujang Sembilan’ yang telah melahirkan tokoh-tokoh intelektual yang hebat. Sebut saja tokoh antara lain Buya Hamka, Buya M. Natsir, Rangkayo Bundo Rasuna Said, bahkan tokoh kiri kontroversial DN. Aidit.

Pilihan setting film Ranah 3 Warna dengan latar belakang masyarakat sekitar Danau Maninjau sangat tepat sesuai dengan karakteristik dinamika kegandrungan masyarakat pada ranah intelektual.

Film Ranah 3 Warna mengisahkan perjuangan anak muda yang penuh mimpi ‘sikolah ka Amerika’ padahal dia dari keluarga miskin yang jauh dari fasilitas.

Prinsipnya mimpi itu gratis, sama kuatnya dengan doa. Bermimpilah guna men-drive format otak menuju cita-cita.  Ternyata mimpi itu rasional.

Sepatu Kulit Hitam

Sepatu kulit hitam hadiah ayah Alif Fikri merupakan produk kerajinan rakyat Bukittinggi. Bukan buatan setara sepatu Bally yang pernah jadi impian Bung Hatta.

Sepatu kulit hadiah ayah itu dibeli dari hasil penjualan motor tua ‘si kudo’ yang menjadi kaki ayah Fikri dalam bekerja. Tampak si kudo kekayaan satu-satunya yang jadi andalan yang terpaksa ‘dilego’ untuk biaya mendesak.

Berkali-kali makna sepatu kulit tampil menyentuh ketika berhubungan dengan tukang sol sepatu yang diperankan dengan apik oleh Lukman Sardi. Makna intelektual kehidupan dari tukang sol yang memiliki kearifan yang menarik.

Ternyata di balik kehidupan seorang tukang sol tersimpan perjuangan hidup yang tangguh untuk generasi muda intelektual, anak tukang sol yang kuliah di ITB.

Alif merasa takjub pada teladan sikap tukang sol dan pesan-pesan moral tentang hikmah sepasang sepatu. Makanya hati terasa teriris melihat sepatu kulit pemberian ayah Alif sobek dan makin lusuh ketika diinjak-injak perampok dalam angkot.

Sepatu kulit hadiah ayah telah mengantarkan Alif melanglang buana ke Jordania dan Kanada. Sumber kekuatan pada daya juang Alif dalam menundukkan rintangan dari eksternal dan rintangan yang berasal dari dalam diri sendiri.

Sepatu kulit hitam sebuah wujud pesan ayah yang harus digenggam erat dalam perantauan. Maknanya tidak bisa dinilai secara kuantitatif namun dapat dirasakan oleh nurani yang masih basah oleh moralitas.

Karya Intelektual

Pada saat seleksi untuk magang mahasiswa ke Kanada kepada peserta wajib menampilkan pertunjukan seni budaya Indonesia.

Peserta yang lolos berhasil tampi meyakinkan. Sedangkan Alif Fikri hanya menampilkan budaya silat Minang yang seadanya sehingga juri yang menilai mirip kungfu. Alif benar patah arang dan tidak lolos ikut ke Kanada.

Selanjutnya dengan berjibaku Alif kembali memaksa masuk ke ruangan juri seleksi dengan menyampaikan pidato singkat tentang pentingnya intelektual.

Alif dengan percaya diri mengisahkan keunggulan intelektual tokoh-tokoh Indonesia masa lalu seperti H. Agus Salim, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka. Keunggulan intelektual Indonesia sudah tersohor ke dunia internasional. “Lantas kenapa pula generasi milenial tidak diberi kesempatan menampilkan bobot intelektualnya?”

Selanjutnya adegan Alif membuka map kliping koran hasil karya intelektualnya yang pernah dimuat oleh berbagai media.

Tim juri terkesima melihat tumpukan karya intelektual Alif sehingga kemudian lolos sebagai wakil Indonesia untuk pertukaran mahasiswa ke Kanada.

Peternakan Sapi

Terjadi konflik batin yang berat ketika Alif yang ‘gandrung’ intelektual justru ditempatkan magang di peternakan sapi yang kumuh.

Alif merasa teralienasi, bayangan ke Kanada dapat mengasah banding intelektualitasnya justru hanya bergelut dengan kotoran sapi dan memerah susu.

Konflik antara minat dan realitas digambarkan dengan apik oleh sutradara Guntur Soeharjanto sampai Alif menemukan makna intelektual di balik peternakan yang kumuh itu.

Ternyata latar belakang berdirinya peternakan sapi tersimpan sebuah makna historis yang heroik yang mampu mengubah kebosanan Alif.

Selanjutnya Alif merasa betah dan tertantang untuk menggali makna intelektual yang terkandung dibalik peternakan sapi yang kumuh itu.

Suasana Batin Penulis

Penulis menonton Ranah 3 Warna bersama anak cucu. Film ini seolah-olah menyodorkan buku harian penulis untuk dibaca ulang. Kegetiran perjuangan hidup penulis muncul kembali ke lapisan atas kenangan, ketika bertahan konsisten bertarung di Bandung, gamang antara gagal dan sukses.

Tanpa disadari penulis terisak. Air mata tua meleleh. Penulis sangat sensitif dalam konteks ini. Tidak perlu gengsi menangis di depan anak cucu. Penulis selalu mengajarkan anak cucu untuk jujur pada gerak jiwa sendiri. Latihan jujur ke dalam diri diharapkan pula jujur dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Lantas kemudian cucu-cucuku minta cerita tentang masa lalu Antan (Kakek) di Bandung. Bagaimana dulu Antan bertarung hidup mencari makan.

Mata cucu-cucuku tampak menerawang ketika sampai pada kisah Antannya berdagang pakaian loak di pasar Cihapit. Kisah bertahun-tahun jadi kondektur angkot Cicaheum – Kebon Kalapa.

Mimpi besar Antan yang kandas untuk menjadi dokter hebat guna mengabdi pada kemanusiaan.

Ternyata Allah SWT memutuskan lain. Hidup penuh pertarungan antara kemiskinan dan mimpi meraih intelektualitas. Jalan hidup yang jauh dari mimpi masa muda. Dalam konteks ini juga merupakan bentuk rasionalitas sebuah mimpi.

Kisah Alif telah menyegarkan kembali pendapat penulis bahwa mimpi itu rasional.

Bagi kaum milenial Indonesia film Ranah 3 Warna sangat bagus untuk memantapkan pencarian identitas diri. Dilain pihak bagi generasi tua film ini juga menarik untuk berkaca dan menelaah apa saja manfaat yang telah ditorehkan selama menjalani hidup yang panjang.

Cucuku melihat bayang-bayang Antannya dalam diri peran bintang film Alif Fikri. “Sayangnya Antan tidak seganteng Alif…” kata cucuku tersenyum ‘meledek’ wajah tua Antan yang mulai keriput. [*]

Yogyakarta, 8 Juli 2022


Penulis: Dr. Iramady Irdja, Pengamat Ekonomi Politik, Mantan Pegawai Bank Indonesia

Terpopuler

Add New Playlist