Di Balik Polemik City Branding Payakumbuh: dari Kota Galamai, Kota Batiah, hingga Kota Rendang

Payakumbuh, Padangkita.com – Sejak diresmikan Mendagri Amir Machmud pada 17 Desember 1970, Payakumbuh dikenal sebagai “Kota Galamai”. Lambat laun, city branding Payakumbuh bergeser menjadi “Kota Batiah”, “Kota Biru”, “Kota Sepeda”, “Kota Adipura”, hingga teranyar: “Kota Rendang”.

City branding Payakumbuh yang berubah-ubah ini, ternyata menjadi polemik pula bagi sebagian masyarakatnya. Teranyar, polemik city branding ini mencuat setelah pembangunan pedestrian atau jalur khusus pejalan kaki di kawasan Pasar Payakumbuh, selesai dikerjakan.

Pada salah satu ruas pedestrian itu, tepatnya di atas trotoar depan SMPN 1 Payakumbuh yang baru saja dipugar dan dilengkapi “bola-bola beton” nan cantik, Dinas PUPR Payakumbuh memasang logo “Kota Batiah”. Walau belakangan, logo ini terpantau sudah dihapus dengan cat hitam, tapi tetap saja menyisakan perdebatan di ruang-ruang publik.

Dalam perdebatan itu, Pemko Payakumbuh dianggap sebagian pihak inkonsisten dalam mengampanyekan Payakumbuh sebagai “Kota Rendang”. Padahal, city branding Payakumbuh sebagai “Kota Rendang” begitu masif dilakukan dalam dua tahun terakhir. Bahkan, Pemko Payakumbuh menerbitkan buku dan menggelar sayembara, agar gaung “Kota Rendang” makin “bersipongang”.

Dalam polemik city branding Payakumbuh ini, Wali Kota Riza Falepi sekan muncul sebagai penengah. Riza menegaskan, branding “Kota Rendang” yang digemakan Pemko Payakumbuh dalam dua tahun terakhir, bukan wujud sikap inkonsistensi Pemko Payakumbuh. Itu merupakan upaya untuk makin menggaungkan rendang sebagai kuliner khas Payakumbuh.

Riza Falepi juga menegaskan, meski ikon “Kota Rendang” ini digaungkan, tetapi branding yang selama ini lekat dengan Payakumbuh, seperti Payakumbuh “Kota Galamai” dan Payakumbuh “Kota Batiah” masih tetap dipakai.

“Sebutan Kota Batiah dan Kota Galamai yang sudah lama mengakar di Payakumbuh, secara sosial budaya tidak bisa hilang begitu saja. Karena kedua makanan itu sudah melekat di hati warga kota dan di masyarakat Sumatra Barat lainnya,” kata Riza.

Ihwal “Kota Galamai”

Riza Falepi memang benar. Jauh sebelum “Kota Rendang” mencuat sebagai city branding Payakumbuh di era milenial, Payakumbuh sudah dijuluki “Kota Galamai”. Galamai atau gelamai adalah makanan khas masyarakat Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, yang terbuat dari tepung beras, gula tebu, santan kelapa, dan bumbu secukupnya.

Galamai ini menjadi makanan yang dihidangkan dalam peresmian Kotamadya Payakumbuh oleh Mendagri Amir Machmud pada 17 Desember 1970. Hal ini tertuang dalam buku “45 Tahun Payakumbuh, Tumbuh Kembang Sebuah Kota” yang ditulis Fajar Rillah Vesky dan Gus tf Sakai, serta buku “40 Tahun Payakumbuh, Dari Soetan Oesman Hingga Josrizal Zain” yang ditulis Fajar Rillah Vesky dan Rendra Trisnadi.

Dalam kedua buku ini diketahui, Panitia Peresmian Kotamadya Payakumbuh dipimpin oleh Ketua Umum Bupati Limapuluh Kota, A Syahdin dengan Wakil Ketua Umum Bukhari Kamil (Wakil Ketua DPRD Gotong Royong Limapuluh Kota), Ketua Pelaksana I Syafril Ahmad SH (staf kantor bupati), Ketua Pelaksana II A Morel Hamid Datuak Rajo Indo Anso Nan Ratiah (tokoh masyarakat Nagari Koto Nan Ompek), dan Ketua Pelaksana III Agus Marahi (Wali Nagari Payobasuang).

Sedangkan, Sekretaris Umum Panitia Peresmian Kotamadya Payakumbuh dipercayakan kepada Syahruddin (Camat Luhak), Sekretaris I Harzi Zein (staf kantor bupati), Sekretaris II Sahar Ismail Datuak Kakomo (staf kantor bupati), dan Sekretaris III Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie (LKAAM). Sementara Bendahara dipercayakan kepada Syamsir Alim yang saat itu merupakan pimpinan BNI 1946 Payakumbuh.

Begitu selesai dibentuk, Panitia Peresmian Kotamadya Payakumbuh langsung bekerja mempersiapkan peresmian. Acara peresmian berpusat di Kantor Balai Kota Payakumbuh Jalan Haji Agus Salim yang kini jadi Jalan Soetan Oesman. Menurut HC Israr dan Sahar Ismail Datuak Kakamo, acara peresmian Kotamadya Payakumbuh berlangsung sangat meriah. Dihadiri Menteri Dalam Negeri Amir Machmud yang dikenal sebagai ”buldozer politik” rezim Orde Baru.

Saat peresmian digelar, perwakilan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan bundo kanduang menyuguhkan sebuah maket berbentuk rumah gadang kepada Amir Machmud. Maket itu ditutup layar sutera biru. Di depannya terletak sepiring galamai (makanan khas Payakumbuh) dengan sebilah pisau. Mendagri Amir Machmud dipersilakan mengiris galamai.

Ketika diiris, putuslah benang yang ada di dalam galamai, terbukalah selubung layar rumah gadang. Setelah layar terbuka, muncul tulisan ”Kotamadya Payakumbuh”. Bersamaan dengan itu, meriam pusaka lelo majenun berdentum keras. Bunyinya seakan memberi kabar bagi anak nagari, bahwa Mendagri Amir Machmud sudah dipersilakan memasuki daerah Kotamadya Payakumbuh. Juga pertanda Sang Menteri telah meresmikan sebuah kota baru di Indonesia.

Terkait acara pengirisan galamai oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, menurut HC Israr dan Sahar Ismail Datuak Kakamo, memiliki filosofi sangat mendalam. Dikatakan, galamai adalah makanan spesifik Payakumbuh. Terbuat dari tepung beras, gula tebu, santan kelapa, dan bumbu secukupnya. Proses pembuatan berlangsung dalam kerjasama yang apik: bahan disediakan kaum ibu dan pengadukan dalam kuali dilakukan para pria.

Cara mengaduk galamai mempunyai teknik tersendiri yang lazim disebut mangacau galamai. Terlalu kacau akan membuat galamai berpelantingan (berserakan). Sebaliknya, kurang kacau akan menjadikan galamai seperti kotoran kambing (bergumpulan). Untuk itu diperlukan keseimbangan, kearifan, dan kebijaksanaan.

Ketika galamai dalam kuali matang, makanan tradisional itu juga tidak bisa langsung disantap. Tapi harus dituangkan dulu ke dalam sebuah piring. Bila sudah sedikit dingin, baru dipotong dengan menggunakan pisau tajam. Kalau pisau tidak tajam, galamai tidak akan putus.

Segala proses pembuatan galamai itu, diyakini HC Israr dan Sahar Ismail Datuak Kakomo, mirip betul dengan karakter atau gambaran masyarakat Kota Payakumbuh. Menurut mereka berdua, galamai memberi makna kias bahwa enak tak bisa langsung diputus, manis tak bisa langsung ditelan. Makanya, dibutuhkan pemimpin yang arif, bijaksana, dan berani dalam memimpin Kota Payakumbuh.

”Galamai juga memiliki makna yang sesuai dengan filosofi masyarakat Minangkabau, yakni tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang. Artinya, keras, tapi penuh dengan kearifan dan kebijaksanaan. Lunak, tapi berprinsip tegas,” kata HC Israr dalam buku autobiografinya dan Sahar Ismail Datuak Kakomo dalam buku catatan hariannya.

Tentang “Kota Batiah”

Selain dijuluki sebagai “Kota Galamai”, Payakumbuh juga membangun branding city-nya sebagai “Kota Batiah”. Julukan “Kota Batiah” ini muncul pertamakali pada era kepemimpinan Muchtiar Muchtar. Putra Balaigurah, Kabupaten Agam ini, menjadi Wali Kota Payakumbuh dari 1988-1993.

Muchtiar Muchtar merupakan Wali Kota keempat di Payakumbuh, setelah Muzahar Muchtar, Masri MS, dan Soetan Oesman. Saat Muchtiar Muchtar menjabat wali kota, Payakumbuh untuk pertama kali meraih Piala Adipura yang merupakan supremasi tertinggi di bidang kebersihan.

Dalam buku “25 Tahun Payakumbuh”, buku “40 Tahun Payakumbuh”, dan buku “40 Tahun Payakumbuh”, disebutkan, Muchtiar Muchtar juga dikenal sebagai wali kota yang sangat peduli dengan Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3). Di samping mengadakan rapat staf secara berkala untuk mengevalusi setiap kegiatan bulanan yang telah dilaksanakan, Muchtiar juga mengadakan rapat khusus membicarakan tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3) dan hal-hal aktual setiap Jumat malam.

Baca Juga: Melacak Jejak Pasukan Elite Polri di Kaki Gunung Singgalang, dari Polisi Istimewa, BIP, Mobrig hingga Brimob

Dalam mewujudkan K3 di Payakumbuh, Muchtiar Muchtar menggagas julukan Payakumbuh sebagai “Kota Batiah”. Yang merupakan akronim dari Kota Bersih, Aman, Tertib, Indan, Asri, dan Harmonis. Julukan “Kota Batiah” ini selain sesuai dengan spirit K3, juga sesuai dengan nama salah satu makanan khas Payakumbuh, yakni Batiah atau Beras rendang.

Selain “Kota Batiah”, Payakumbuh pada era reformasi juga dijuluki sebagai “Kota Biru”. Belum diketahui secara pasti, entah kenapa julukan ini bisa muncul. Namun, warna biru memang menjadi salah satu warna dasar, dalam lambang daerah Payakumbuh yang disepakati pemerintah daerah bersama DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah. Demikian, city branding Payakumbuh dari masa ke masa. [pkt]


 

Terpopuler