William Bradley Horton: Menulis Sejarah Harus dari Berbagai Sudut Pandang

Padangkita.com – Profesor William Bradley Horton dari Akita University menyatakan dalam menulis sejarah perlu adanya kajian mendalam. Hal ini bertujuan agar karya yang dihasilkan terlihat berimbang dan tidak menulis dalam satu sudut pandang saja.

“Perlunya penulisan sejarah yang mendalam, sehingga tidak terkesan menulis dalam satu sudut pandang saja,” katanya dalam kuliah umum kesejarahan dengan Tema ”Penulisan Sejarah yang tidak ditulis (Sejarah Pendudukan Jepang di Indonesia)”, Kamis (06/09/2018).

Dirinya mencontohkan kala pendudukan Jepang di Indonesia yang identik dengan kekerasan dan tanam paksa. Namun dibalik itu, katanya, terdapat dokumentasi-dokumensai atau bukti sejarah ketika pendudukan Jepang di Indonesia adanya kepedulian sosial terhadap masyarakat Indonesia. Seperti adanya Pasar malam, yang merupakan media hiburan masyarakat dikala pendudukan Jepang dahulu.

Kuliah umum yang dibuka langsung Oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, Suryanef, menyampaikan agar peserta dapat dengan fokus mengikuti kuliah umum ini, sehingga nantinya melahirkan tulisan-tulisan sejarah yang berhubungan dengan zaman Jepang.

Sementara itu, Sekretaris Jurusan Sejarah UNP, Ofianto, menyampaikan sebagai prodi yang telah menyandang akreditasi dengan predikat A ini sudah beberapa tahun belakangan ini konsen dalam mengembangkan prodi. Salah satu cara yang dilakukan adalah menghadirkan profesor-profesor atau sejarawan ternama dalam kegiatan yang sama yaitu kuliah umum yang tentunya dengan tema yang berbeda-beda.

Untuk diketahui, Sebelumnya Jurusan Sejarah UNP menghadirkan Profesor Hermanu Djoebagio dari UNS Surakarta.

“Kuliah umum ini, dengan Materi yang disampaikan Prof Broto memberikan pencerahan kepada kami mahasiswa dalam melihat sejarah tentang pendudukan Jepang dan tidak melihat dari sudut pandang yang identik dengan kekerasan dan tanam paksa saja, namun bisa juga mengkaji dari hal-hal lain ketika masa pendudukan Jepang di Indonesia,” ujar Achmad Edwin Salah satu peserta kuliah umum.

Baca juga:
Bukan 'Boedi Oetomo', Organisasi Sosial Pertama di Indonesia Ternyata dari Padang