Warga Sei Tawar Tarusan Harapkan Bedah Rumah

Dok: Pesisirselatan.go.id

Padangkita.com – Supriadi (62) dan Kasmawati (42) warga Sei Tawar Kenagarian Setara Nanggalo Kecamatan Koto XI Tarusan setiap hari melakoni pekerjaan sebagai buruh di ladang atau sawah untuk menghidupi keluarganya dan biaya pendidikan anak anaknya .

Dengan penghasilan tidak seberapa pasangan ini tidak memiliki tabungan untuk bisa memperbaiki rumahnya yang sudah tidak layak huni .

Setiap harinya Supriadi pergi ke ladang orang menjadi buruh baik di ladang atau di sawah orang. Dengan penghasilan tidak seberapa berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu.

Tapi pekerjaan itu tidak setiap hari didapatkannya sehingga ketika tidak adanya pekerjaan dia harus memutar otak mencari penghasilan lain agar keluarganya bisa tetap makan dan anak anaknya bisa tetap sekolah.

Namun sekarang kondisi Supriadi sering sakit sakitan sehingga tidak bisa lagi berkerja berat.

Maka, istrinya Kasmawati juga ikut membantu suaminya, dengan ikut bekerja ke ladang orang atau mengumpulkan buah pinang untuk dijemur dan di kupas baru setelah itu dijual ke agen.

Pasangan ini memiliki 4 orang anak, 3 di antaranya masih duduk di bangku pendidikan SD, SMP dan SMA. Karena sibuk mencari biaya hidup sehingga keluarga ini tidak memiliki tabungan untuk merehab rumah yang dihuninya bersama keluarganya yang sudah tidak layak huni.

Kasmawati, Senin (2/4), mengungkapkan kondisi suaminya sekarang sering sakit sakitan .Sehingga dirinya yang sekarang harus banyak mencari pekerjaan agar ada pemasukan untuk keluarganya.

Jika tidak pekerjaan bekerja di ladang orang maka dirinya pergi ke perbukitan dibelakang rumahmya untuk mencari sayuran Paku atau daun ubi yang kemudian dijualnya kembali kepada masyarakat.

“Jika tidak ada uang sama sekali maka kami sekeluarga harus makan apa adanya atau berutang di warung . Sehingga kami memiliki banyak utang di warung yang kami tidak tahu bagaimana membayarnya karena penghasilan yang tidak tetap,” ujarnya.

Karena kondisi itulah keluarga ini tetap bertahan dirumah tidak layak yang sudah semakin reok.

Dari pantauan, sebagaimana dicuplik dari pesisirselatan.go.id, terlihat dinding rumah itu lapuk  dan bolong bolong dimana mana. Atap rumah yang telah bocor sehingga ketika hujan air dengan mudah masuk kedalam rumah.

Baca juga:
Pessel Lakukan Pemutakhiran dan Validasi BDT

Dan di dalam rumah itu tidak ada perabotan dan elektronik. Yang ada hanya perabotan usang dan  peralatan tidur seadannya.

“Untuk makan saja kita sudah sulit bagaimana untuk bisa memperbaiki rumah. Jadi ketika hujan kita terpaksa mencari ember menampung air hujan agar rumah tida basah,”  tandasnya.

Keluarga ini sangat berharap sekali rumah yang di huni nya itu bisa direhab atau dibedah.Sebab jika mengumpulkan uang dari penghasilannya sebagai buruh tidak mungkin apalagi kondisi Supriadi yang sekarang sering sakit sakitan.

Menurutnya permohonan bedah rumah sudah sering disampaikan nya kepada pemerintahan nagari, bahkan kondisi rumahnya juga sudah sering di foto dan diminta persyaratan administrasi lainnya. Namun hingga kini belum ada realisasinya.

Kepala Kampung Sei Tawar Kenagarian Setara Nanggalo Devi Adrion mengungkapkan kondisi rumah Supriati dan Kasmawati memang memprihatinkan. Kondisi rumah yang sudah tidak layak huni.

Dan permohonan untuk rehab rumah telah disampaikan ke BAZ Pessel dan lembaga lainnya. Namun hingga kini belum ada realisasinya.

Dijelaskannya sebagian besar masyarakat Kampung Sei Tawar bermata pencarian adalah petani. Dengan jumlah penduduknya 975 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 425. Dan didaerah masih banyak rumah warga yang tidak layak huni.

“Kita sangat berharap rumah ini bisa direhab karena kondisi rumahnya yang tidak layak huni dan dengan kondisi kesehatan dan pekerjaan yang dilakoni sekarang sulit baginya,” pungkasnya.