Tol Sumatera dan Pertumbuhan Ekonomi Regional

Oleh: Eddy Cahyono S ( Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden )

Padangkita.com – Strategi pembangunan ekonomi suatu bangsa sangat erat kaitannya dengan grand design pertumbuhan ekonomi yang disasar, dimana pembangunan ekonomi diarahkan agar  selalu mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi,  melalui manajemen strategik yang fokus dan berorientasi pada hasil, guna memastikan pertumbuhan ekonomi memiliki daya ungkit terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.

Bagi suatu negara, pembangunan ekonomi sejatinya merupakan suatu proses peningkatan pendapatan per kapita maupun pendapatan total suatu negara,  dengan memperhitungkan pertumbuhan penduduk dan perubahan fundamental pada struktur ekonomi, daya adaktif terhadap perubahan internal dan eksternal geostrategis dan geoekonomis untuk menaikkan posisi tawar dalam persaingan antar bangsa.

Secara sederhana pendapatan total suatu negara  dapat dicermati dari pertumbuhan ekonomi yang dicapai, sebagai suatu ukuran kuantitatif atau proses peningkatan kapasitas produksi,  yang diwujudkan dengan peningkatan pendapatan nasional dalam suatu tahun tertentu.

Peningkatan pendapat nasional  menjadikan pertumbuhan ekonomi regional menjadi suatu keniscayaan,  sebagai salah satu pilihan strategis dalam memformulasikan pembangunan ekonomi regional dan pemenuhan prasyarat yang dibutuhkan, utamanya dalam mengoptimalkan daya saing dan nilai tambah sumber daya pada suatu wilayah, hal inilah yang menjadi fokus kajian ilmu ekonomi regional.

Perkembangan Ilmu ekonomi regional  merupakan kritik serta inovasi baru dalam hal menganalisa ekonomi,  dengan tujuan melengkapi serta membenahi pemikiran ekonomi tradisional,  sebagai jawaban terhadap penyelesaian masalah ekonomi regional, peningkatan daya saing dan nilai tambah yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat setempat.

Pertumbuhan ekonomi regional menjadi faktor determinan dalam Ilmu ekonomi regional yang juga bisa diartikan sebagai ilmu ekonomi wilayah, karena berkaitan dengan suatu wilayah, dan menitikberatkan pada pembahasan  tata ruang, space dan spatial serta infrastruktur yang dibutuhkan dalam mengakselerasi bergeraknya ekonomi regional dan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.

Memacu pembangunan infrastruktur Tol Sumatra

Bagi Indonesia pembangunan infrastruktur yang masif dan tersebar merata pada berbagai wilayah regional,  sangat diperlukan guna  memastikan terjadinya  pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, baik di jangka menengah maupun jangka panjang. Urgensi percepatan pembangunan infrastruktur ini sangat diperlukan mengingat kondisi infrastruktur Indonesia masih jauh dari kondisi ideal.

Baca juga:
Konservasi Penyu Berbasis Ekowisata

Hal ini  menjadi sangat relevan bila merujuk pada hasil studi Bank Dunia,  Bloomberg dan McKinsey pada   2013, yang menggambarkan kondisi sesungguhnya infrastuktur Indonesia, dimana bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia yang  rata-rata memiliki stok infrasruktur  sebesar 70%  dari PDB, sedangkan Indonesia  sangat kontras dengan  stok infrastruktur hanya 38% dari PDB atau masuk kategori rendah.

Selain itu, bila dibandingkan dengan masa sebelum krisis ekonomi Asia di ‘1997,  jumlah stok infrastruktur Indonesia juga menunjukkan kecenderungan menurun dari 49% dari PDB di  tahun 1995  menjadi 38%  dari PDB di tahun 2012.

Belum lagi bila kita berbicara tentang ketimpangan  infrastuktur Jawa dan luar Jawa,  antara Indonesia bagian Barat dan Timur, ketimpangan inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa investasi khususnya manufaktur, lebih banyak berada di Pulau Jawa.

Kondisi infrastruktur  tersebut merupakan salah satu isu strategis yang perlu ditangani secara fokus agar dapat memacu pertumbuhan perekonomian Indonesia, rendahnya kuantitas dan kualitas infrastruktur tersebut membuat suplai/produksi perekonomian tidak dapat mengikuti kencangnya pertumbuhan dari sisi permintaan/konsumen, disamping itu juga akan melemahkan daya saing nasional.

Dalam laporan terbaru  Global Competitiveness Index 2017  juga  menyebutkan masalah utama daya saing Indonesia salah satunya disebabkan belum meratanya sarana infrastruktur, jadi menjadi relevanlah pilihan strategis dengan menjadikan akselerasi infrastruktur sebagai ujung tombak guna memacu pertumbuhan ekonomi regional.

Memacu pembangunan infrastruktur  yang merata di seluruh wilayah Indonesia merupakan pilihan strategis yang tepat dalam memacu bergeraknya pertumbuhan ekonomi regional,  hal ini sejalan dengan hasil estimasi yang dilakukan oleh (Prasetyo, 2010).

Terdapat korelasi antara pembangunan infrastruktur di daerah dengan PDRB,  yang menunjukan bahwa  Infrastruktur panjang jalan memiliki  tingkat elastisitas sebesar 0,13 artinya setiap kenaikan panjang jalan sebesar 1% akan meningkatkan output (PDRB) sebesar 0,13%, cateris paribus.

Dari berbagai  data tersebut di atas maka dapat dipahami bahwa akselerasi pembangunan infrastruktur, utamanya jalana tol merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadi prasyarat yang harus dipenuhi dalam kerangka pembangunan nasional yang inklusif.

Baca juga:
Pilkada DKI dan Post-Truth

Secara fungsional pembangunan jalan tol dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan jasa distribusi produk kegiatan ekonomi dari pusat pengolahan ke pusat pemasaran, jika dilihat secara makro, pembangunan jalan tol diyakini akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional dengan menggerakkan roda perekonomian.

Secara tidak langsung, investasi jalan tol akan menimbulkan efek penggandaan (multiplier effect) berupa berkembangnya sektor-sektor lain yang akan mendorong peningkatan kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, kualitas sumber daya, penerimaan pemerintah daerah hingga perkembangan wilayah.

Kita patut bersyukur akselerasi pembangunan tol di luar Jawa akan terus menjadi fokus perhatian di era pemerintahan Presiden Jokowi, sebagai pilihan strategis  dalam terus memacu pertumbuhan ekonomi regional, khususnya di luar Jawa sebagai perwujudan pembangunan Indonesia Sentris.

Program strategis nasional dalam mengakselerasi pembangunan Tol Sumatra merupakan pilihan cara yang ditempuh dalam memastikan tumbuhannya pusat-pusat ekonomi baru di sepanjang lintasan Tol Sumatra, mengefesiensikan biaya logistik guna meningkatkan daya saing ekonomi lokal.

Nilai strategis akselerasi pembangunan Tol Sumatra diyakini akan mampu mendongkrak tumbuhnya perekonomian masyarakat setempat karena akan meningkatkan distribusi barang dan jasa, menumbuhkan kawasan industri, pariwisata,  meningkatkan kualitas ekonomi, menarik investor berinvestasi sesuai dengan potensi ekonomi setempat  sehingga dapat  memperluas lapangan kerja.

Tol Sumatera juga akan mempermudah pengiriman logistik di berbagai daerah, terjadi efesiensi biaya logistik yang dapat meningkatkan daya saing produk lokal, disamping itu, efisiensi kendaraan karena adanya tol Trans Sumatera  diperkirakan mencapai Rp 2,23 triliun per tahun, kumulatif manfaat dari permanen impact  tol Trans Sumatera diperkirakan bisa mencapai Rp 769,5 triliun.

Untuk itu diperlukan adanya kesatupaduan cara pandang (shared vision) dari seluruh pemangku kepentingan baik, pada pemerintah pusat dan daerah serta kalangan swasta dalam mengoptimalkan dukungan  dan langkah konkrit,  guna memastikan berkonstribusi positip dalam akselerasi penyelesaian pembangunan Tol Sumatera.

Shared vision sangat diperlukan untuk memastikan proyek ini segera terealisasi dan tuntas sesuai jadwal, sehingga dapat memacu  pertumbuhan ekonomi di daerah Sumatera yang diproyeksikan akan  ikut terkerek  naik, jalan tol Sumatera akan berkonstribusi dalam menyumbangkan 15% dari total pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca juga:
Hakikat Cinta

Kita patut bersyukur bahwa tonggak sejarah pengerjaan jalan tol  Sumatera sepanjang 2.048 kilometer,  telah dimulai, ditandai dengan groundbreaking (peletakan batu pertama) pembangunannya pada tanggal  30 April 2015 dan bergeraknya percepatan pembangunan Tol Sumatera  telah ditandai dengan diresmikannya ruas Bakauheni-Terbanggi Besar  oleh Presiden Jokowi pada 21 Januari 2018.

Dari total sepanjang 140,9 kilometer, pembangunan tol yang sudah selesai konstruksinya mencapai 14,5 kilometer, tol ini mencakup Bakaheuni-Terbanggi Besar Paket 1 Bakauheni-Sidomulyo, yaitu Segmen Pelabuhan Bakauheni-Simpang Susun (SS) Bakauheni sepanjang 8,9 kilometer serta Paket 2 Sidomulyo-Kotabaru, yakni Segmen SS Lematang-SS Kotabaru sepanjang 5,6 kilometer.

Meskipun capaian pembangunan Tol Sumatera masih jauh dari target yang ditetapkan,  namun kita perlu mengapresiasi capaian pembangunan konstruksinya,  meskipun masih jauh dari ideal, namun setidaknya langkah awal telah dimulai dan terlihat nyata hasilnya.

Terbangunnya infrastruktur Tol Sumatra dinyakini akan memberikan dampak pengganda atau multiplier effect pada daerah yang terlewati jalur Tol Sumatra dimaksud, Tol Tans Sumatera diharapkan membangkitkan ekonomi Sumatra terutama dalam hal penyumbang PDB nasional, meskipun jujur diakui bahwa potensi keuntungan (Internal Rate of Return (IRR) masih sangat kecil, namun Tol Sumatera adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi bila kita ingin meningkatkan daya saing ekonomi.

Kita tentunya berharap dengan telah diresmikan diresmikannya ruas Bakauheni-Terbanggi Besar  oleh Presiden Jokowi pada 21 Januari 2018, akan dapat diikuti dengan langkah konkret dari berbagai pemangku kepentingan dalam berkonstribusi positip mendukung percepatan penyelesaian pada ruas-ruas jalan tol lainnya yang membelah Sumatera dari Lampung sampai dengan Aceh sehingga dapat mendukung integrasi ekonomi nasional.

Untuk itu diharapkan adanya kesungguhan dan fokus dari berbagai  pemangku kepentingan pusat dan daerah serta penanggungjawab setiap kegiatan, guna memastikan masalah ditingkat lapangan dapat diatasi segera dengan tenggat waktu yang terukur dan pasti, fokus perlu terus ditingkatkan, utamanya terkait percepatan pembebasan lahan yang menjadi isu utama,  langkah-langkah  persuasif dialog dengan warga terdampak perlu terus dikedepankan.

Langkah terobosan dan inovasi seyogyanya  terus dikembangkan guna  memastikan percepatan penyelesaian mekanisme konsinyasi, demikian pula dengan percepatan pengadaaan tanah yang terdapat utilitas, seperti pipa gas, tower lisrik, dan kabel listrik, sikap saling menunggu dan ego sektoral harus dapat dihilangkan, perlu mengutamakan berpikir strategis dan mengedepankan kepentingan yang lebih besar akan manfaat percepatan pembangun Tol Sumatera.

Baca juga:
Presiden Jokowi Tinjau Proyek Padat Karya di Dharmasraya

Kita tentunya berharap berbagai permasalahan di tingkat operasional lapangan yang berpotensi menghambat akselerasi Pembangunan Tol Sumatera dapat terus dieliminir dengan menerapkan pengendalian dan pengawasan yang ketat  khususnya pada tataran implementasi, guna memastikan percepatan dan langkah mitigasi  jangka pendek dapat secara diambil bila ditemukan hambatan di tingkat lapangan.

Akselerasi pembangunan Tol Sumatera  diharapkan dapat mempercepat integrasi ekonomi dan konektivitas nasional yang akan menurunkan biaya logistik, menumbuhkan pusat-pusat indusri  dan ekonomi  baru, sekaligus meningkatkan daya saing regional sehingga mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi regional  sebagai perwujudan pembangunan inklusif.  Semoga.

(Tulisan ini diambil dari laman Setkab.go.id)