Tamasya ke Ranah Minang di Masa Lalu

Piknik di salah satu danau di Pantai Barat Sumatera (Maksud narasi ini seperti satu keluarga piknik di Danau Singkarak, kawasan Sumatera bagian Barat). Foto tahun 1940, merupakan koleksi KITLV.

Padangkita.com – Medio 1950-an, Marah Sjam tidak membuang ‘jatah bebas’ tiga bulan yang didapatkan sebelum menyambung karir di Medan. Kepala Dinas Penyuluh Pertanian di Manado ini, memboyong keluarganya pulang kampung; Ranah Minang.

Selain waktunya bertemuk sanak – keluarga, dengan memilih pulang kampung, artinya mengobati kerinduan anak-anaknya yang tumbuh besar di rantau yang hanya mendengar cerita tentang kampung selama ini.

Marah memiliki seorang istri bernama Saleha dan dua anak dengan nama Emran dan Sori.

Syahdan, mendengar ajakan sang ayah, Emran dan Sori begitu girang. Emran yang berusia 12 tahun pernah pulang kampung, tapi itu 11 tahun lalu.

Sementara sang adik, Sori masih berusia 8 tahun. Jelas dia belum pernah merasakan hawa Ranah Minang.

Kedua tumbuh besar dibarengi cerita-cerita tentang kampung halaman; Ranah Minang yang begitu indah, kuliner yang bikin dahaga, dongeng-dongeng, rumah gadang yang indah, Bukit Barisan yang permai, gunung-gunung yang perkasa, sungai jernih, dan danau yang mendamaikan.

Cerita-cerita yang mereka dengarkan, akan mereka lihat ketika sang ayah mengutarakan keinginan untuk menghabiskan waktu libur tiga bulan di tanah Minang.

Perjalanan ini dimulai ketika keluarga kecil ini berlayar dari Manado ke Jakarta. Selanjutnya, menyambung pelayaran ke Teluk Bayur, Padang.

Perjalanan Manado – Jakarta – Padang terasa lama. Namun rasa capek terobati, ketika hendak merapat di Teluk Bayur. Pemandangan Teluk Bayur begitu menawan dari haluan kapal.

Mereka juga terperanjat, ketika kapal menuju tepian dikawani oleh sekawanan ikan hiu.

“Bahwa bukit yang menjorok ke lautan itu adalah Gunung Padang. Sejarah Pelabuhan Teluk Bayur bermula sebagai pangkalan batu bara Ombilin sebelum dimuat ke kapal. Juga gudang kopi. Orang Minang kebanyakan memilih hidup menjadi saudagar,” sang ayah bercerita ke dua anaknya, sebelum kapal bersandar di Teluk Bayur, hal yang ditulis Nj. Limbak Tjahaja dalam karangannya berjudul Minangkabau Tanah Adat.

Karya Limbak yang terbit tahun 1955 ini mengisahkan tamasya Marah bersama keluarga di pelbagai destinasi yang masih dikenal hingga hari ini. Di tiap destinasi yang mereka kunjungi, cengkrama mewarnai, termasuk makan bersama. Artinya mereka membawa perbekalan ke mana pun pergi.

Limbak begitu apik menyajikan setiap gerak langkah Marah dan keluarga selama di tanah Minang. Perjalanan sejak menyentuh tanah Minang di ujung dermaga Teluk Bayur, hingga menyambangi keluarga dan tempat wisata yang ada, diceritakan secara terinci dan bermakna.

Foto bertahun 1921 ini mewakili gaya bertamasya di masa lalu. Koleksi: KITLV.

Tamasya ini bukan melulu melihat keindahan, merasakan atmosfer alam yang mempesona dalam suasana suka, melainkan ekspedisi literasi. Marah dan juga istrinya, memainkan peran sebagai pemandu wisata dan budaya bagi kedua anaknya.

Hal ini tentu sedikit berbeda dengan kebanyakan piknik hari ini. Berkutat pada destinasi-destinasi yang menjadi omongan; tidak lupa berfoto sebagai tanda pernah ke sana, mencicipi kuliner, dan kemudian mempostingnya di media sosial.

Sesampainya di dermaga Teluk Bayur, mereka disambut hangat oleh kakak Marah yang bernama Marah Kamin, serta istrinya Siti Rafiah dan ketiga anaknya Ridwan, Hakim dan Siti Mayang Terurai.

Rombongan ini kemudian berangkat dengan tiga mobil. Mereka berkendara melewati jembatan, lewat Bukit Putus yang beririsan dengan jalur kereta api.

Petang mereka pergi ke pantai Padang, menghabiskan waktu hingga matahari terbenam.

Pantai Padang masih begitu alamiah. Batang ambacang tumbuh liar, pohon kelapa seolah menjadi pagar, sampan ditambatkan, dan pukat dijemur dari pohon ke pohon.

Esok pagi, anak-anak diajak menarik pukat. Menolong para nelayan, dengan imbalan, ikan-ikan kecil yang bisa dibawa pulang.

Sore pada hari yang sama, mereka berkeliling kota dengan mobil. Melihat seantero kota, bahkan juga pabrik semen di Indarung. Mereka ceritakan, luar kota Padang, masih begitu agraris, dimana hamparan padi menguning sepanjang mata memandang.

Tiga hari di Padang, mereka melanjutkan perjalanan ke darek atau wilayah inti Minangkabau. Mereka memilih ruas jalan Padang – Padang Panjang.

Mereka berangkat pagi, karena ingin melihat pemandangan kiri kanan sepanjang perjalanan, sembari memotret. Oleh karena itu mereka memilih mengendari mobil ketimbang naik kereta api.

Pemandangan sepanjang perjalanan begitu elok, dibumbui dengan infrastruktur yang semakin maju seperti jembatan yang membentang di atas sungai yang cukup lebar, rel gigi kereta api dan lainnya.

Memasuki Tabing, sang ayah menunjuk sebuah kawasan sebelah kanan yang merupakan pangkalan atau bandar udara. Laju mobil terus berjalan ke arah utara, melewati pedati, kerbau, dan delman.

Lalu sesampainya di Lubuk Alung, Marah menunjukkan rel kereta api yang bercabang dan menjelaskan bahwa cabang tersebut membagi rel kereta api, satu arah ke Pariaman, dan arah lurusnya menuju Padang Panjang.

Radius 60 km dari Padang, perjalanan sampai di Kayu Tanam. Marah menunjuk INS Kayu Tanam, sebuah sekolah yang didirikan oleh M. Sjafe’i. Dia mengisahkan tentang sekolah itu serta M. Sjafe’i kedua anaknya.

Kayu Tanam dengan ketinggian 144 meter di atas permukaan laut adalah awal mula pendakian menuju ke Padang Panjang. Sehingga rel kereta api di ruas Kayu Tanam, akan ditemui rel bergigi.

Dari kejauhan persisnya Kandang Ampek, keluarga ini melihat bukit-bukit menjulang membentuk lembah, kawasan yang dinamakan Lembah Anai. Mereka berhenti sejenak mengeluarkan kamera, dan mengabadikannya.

Lalu perjalanan berlanjut, membelah Lembah Anai. Air terjun yang memuntahkan air tiada henti dengan debit yang begitu deras, begitu jelas di depan mata. Anak-anaknya begitu senang, sebab selama ini air terjun Lembah Anai hanya mereka lihat d majalah-majalah.

Perjalanan sementara berhenti di Padang Panjang. mereka singgah di rumah famili. Selama di Padang Panjang, mereka menjejal tiap sudut kota hingga kampung sekitar.

Anak-anak mereka kemudian juga mandi di Lubuak Mata Kucing, dekat Nagari Singgalang.

Padang Panjang, kota di jantung Minangkabau, dikepung oleh nagari-nagari dengan hunian rumah gadang yang sumarak.

Di darek ini, Marah mulai menguliti Minangkabau, antaran kepada anak-anak yang berpijak pada apa yang mereka lihat. Misal rumah gadang, Marah bercerita tentang ruah adat itu bukan sekedar konstruksinya, tapi ruang-ruang yang berdefenisi, sifat-sifat penghuninya, dan filosofi rumah gadang itu sendiri.

Seminggu di Padang Panjang, perjalanan berlanjut ke Utara, menuju Bukittinggi. Mereka melewati lembah antara Gunung Marapi dan Singgalang.

Selama seminggu di Bukittinggi, mereka menyambangi banyak destinasi seperti Ngarai Sianok, kebun binatang, benteng, museum, panorama, Lubang Jepang, dan menyisir pasar-pasar yang ada.

Kunjungan ke Bukittinggi ini, anaknya Emran begitu takjub, dan mengungkapkan seperti berikut… “bahwa tjerita Ajah dan Bunda dahulu tiada ber-lebih2an. Sungguh2 permai! Dikeluarkannya buku gambar dan pensilnja, lalu melukis, semua duduk berdiam diri, bahwa di Sori jang selalu ramai. Kemudian turun ke bawah. Si Sori bertanja bagaimana dapat terdjadi Ngri seperti itu. Bunda mengatakan bahwa jang Ngarai itu ialah Sungai Surian, anak dari Batang Masang.” 

Sembari berpelesiran, Marah dan istrinya menceritakan juga tradisi atau kebudayaan, pertanian, yang bertahan.

Foto bertahun 1921 ini menceritakan piknik keluarga besar di Pantai Barat Sumatera. Koleksi: KITLV.

Selanjutnya, perjalanan berlanjut ke arah timur, dataran tinggi Limapuluh Kota.

Selama 20 hari mereka berada di Payakumbuh, menghabiskan waktu berdiskusi soal adat, jalan ke pasar, lalu pergi ke Harau.

Mereka juga menyambangi Pasar Payakumbuh dan melihat barang dagangan tradisional seperti gerabah (tarenang), dan alat-alat pertanian.

Lalu mereka kemudian bergerak ke Padang Panjang, selanjutnya meneruskan perjalanan ke Batusangkar via Kubu Karambia. Mereka juga melihat pacuan kuda, dan Marah menerangkan tentang tradisi pacuan kuda tersebut.

Balik ke Padang Panjang lagi dari Batusangkat, kemudian, atas permintaan anak, mereka ke Sawahlunto dengan naik kereta api.

Mereka melahap sajian pemandangan yang ada, dengan menggumam ketakjuban. Danau Singkarak yang membiru, sawah kiri kanan, dan tambang batu bara di Sawahlunto, hal-hal yang mereka lihat sepanjang perjalanan.

Dalam embara Marah dan keluarga ini, Limbak menceritakan, dalam perjalanan ada acara arak-arakan marapulai – anak daro, dua sejoli diantara oleh empat orang pasumandan, dan diiringingi oleh orang banya—dunsanak dan bako, mereka membawa mobil dan ‘kereta’ mengiringi, membawa dulang (jamba) yang merarak dengan isi; randang, sambal goreng, acar, telur dadar, dan perkedel.

“Seminggu sebelum puasa masuk, (pusaro) kuburan dibersihkan, diganti kembang bunga baru, tepian mandi dibersihkan, menyambut balimau, beruk disuruh memetik kelapa, untuk membuat rendang, termasuk juga wajik,” tulis Limbak.

Liburan ini berakhir, ketika mereka berganti kembali alat transportasi dari moda transportasi darat ke udara. Mereka naik pesawat dari Lapangan Udara Tabing menuju ke Pekanbaru, selanjutnya meneruskan ke Medan, tempat kerja baru.