Surau dan Silek : Visual Daerah atau Visual Eksotis?

SEKARANG Bioskop XXI sudah ada di Padang, sehingga kita tidak ketinggalan film-film baru yang beredar di Indonesia ini. Dengan seringnya update film-film baru, kita tentu bisa merasakan bagaimana perkembangan film-film komersial yang dibuat oleh sineas Indonesia maupun Amerika. Dan barangkali pula dengan adanya XXI di Padang, akhir-akhir ini banyak film-film bertema Minang yang hadir dalam list XXI. Esai ini hanya akan membahas film Surau dan Silek (salah satu film yang menggunakan tema Minang itu).

Jika menonton film, tentu hal yang akan kita lihat adalah sebuah visual. Berbeda dengan membaca karya sastra, hal yang kita lihat justru kalimat dan diksi-diksinya. Sama dengan karya sastra, visual di dalam film adalah kata, kalimat, dan diksi-diksi yang akan menjadi narasi yang disuguhkan. Jadi sejatinya visual adalah bahasa yang digunakan oleh sutradara terhadap filmnya.

Dari judulnya, Surau dan Silek, kita bisa menerka bahwa film ini adalah film yang mengangkat silat yang ada di Minang. Dari bahasa yang digunakan saja sudah jelas, silek bukan silat. Tentu kita boleh berandai-andai, jika film ini akan memberi kita sebuah bahasa yang segar untuk menyampaikan sebuah narasi Surau dan Silek.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Adil, yang ingin berlatih silat untuk mengikuti turnamen. Bersama dua kawannya, Kurip dan Dayat, mereka sampai harus mencari guru silat ke ujung-ujung kampung. Hal itu terjadi karena guru silat mereka pergi merantau. Hingga akhirnya mereka bertemu guru silat yang sudah tua. Dan konon kabarnya, guru silatnya yang baru itu adalah mantan pesilat handal di kampung itu. Lalu berlatih silatlah mereka. Akhir dari film ini ditutup kemenangan Adil meraih juara satu dan mengalahkan musuh bebuyutannya, Hardi.

Daerah Sebagai Frame Eksotis

Seorang teman saya, yang namanya tidak perlu dituliskan, suka sekali pergi jalan-jalan ke tempat-tempat yang sedang “panas” di media sosial, khususnya Instagram. Teman saya itu juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya. Di setiap tempat yang dikunjungi, ia selalu mengabadikan dirinya dengan teknik selfie menggunakan kamera hape.

Sesudah ia melakukan itu, teman saya langsung mengupload fotonya ke Instagram. Tidak sampai lima belas menit, teman saya sudah dapat 100 love dari teman-temannya, dan bertambah seiring waktu berjalan. Dari love-love itulah ia hidup di dunia ini, dengan kesenangan yang memenuhi jiwanya.

Pada suatu hari, teman saya itu mendapat sebuah informasi dari media sosialnya, yang entah siapa mengirimkan pesan kepadanya seperti ini: Film Surau dan Silek sudah tayang di bioskop XXI Ramayana Padang. Melihat pesan itu, teman saya langsung melaju ke Ramayana.

Di antrean tiket yang panjang, teman saya itu sibuk melihat hapenya. Tentu saja, ia melihat berapa love yang ia dapat untuk fotonya yang terakhir—di Ngarai Sianok. Ia dapat 300 love, cukuplah untuk hidup sampai malam, bathinnya.

Dan waktu yang ditunnggu pun tiba. Ia duduk di kursi E-7. Ia menonton dengan khusyuk sekali.

Teman saya itu ingat beberapa visual:

Pertama, visual tokoh utama dan kawan-kawannya sedang bersepeda di Jam Gadang. Pengambilan gambar tampak dari atas. Ketika visual memperlihatkan Jam Gadang, tokoh tidak terlihat lagi, hanya visual Jam Gadang—namun tidak lama.

Kedua, visual yang memperlihatkan tokoh utama berada di sebuah jalan kecil yang disebaliknya ladang hijau luas membentang. Di ladang hijau itu, ada beberapa sapi yang terkurung di sana.

Ketiga, visual tokoh utama bersama kawan-kawannya latihan gerakan silat di sebuah padang, seperti padang ilalang, yang terlihat luas sekali. Mereka membuka baju mereka untuk latihan di sana, betapa ngerinya latihan mereka.

Keempat, visual yang meemperlihatkan mobil merah kepunyaan guru silat baru mereka parkir di Ngarai Sianok. Adegannya memperlihatkan guru itu duduk di dekat mobil, lalu ketiga sekawan yang ikut di dalam mobil, menghambur keluar, entah kemana, entah mengapa, hanya tertawa kegirangan—barangkali karena sudah dapat guru baru.

Dari cerita fiktif di atas, ada beberapa kecendrungan film Surau dan Silek yang saya temukan. Salah satunya adalah bagaimana sutradara menatap sebuah daerah sebagai sebuah frame yang eksotis.

Film yang Berlatar Daerah

Dalam KBBI kata eksotis berarti sesuatu yang memiliki daya tarik khas karena belum banyak dikenal umum. Lalu di dalam film Surau dan Silek, keeksotisan dapat kita lacak dari bagaimana si sutradara merangkai visual-visualnya.

Pasca Perang Dunia 2, seorang kritikus asal Italia yang bernama Andre Bazin menyimpulkan sebuah teori yang bernama Neorealis. Neorealis ini adalah sebuah teori dalam pembuatan film yang menolak visual-visual eksotis atau visual pembohongan. Sebab, pada masa itu, film yang tayang di bioskop adalah film-film yang bercerita tentang kemewahan dan percintaan yang membuat penonton terlena di dunia mimpi. Padahal di masa itu, kondisi masyarakat sangat terpuruk. Dampak perang dunia membuat perekonimian dan kondisi psikologis sangat mengkhawatirkan.

Lalu para pembuat film mendobrak sistem pembuatan film yang berbau mimpi dan eksotis dengan beberapa cara: 1. Tidak menggunakan aktor professional. 2. Mengambil cerita kehidupan pada masa itu. 3. Dengan tidak memotong gambar ketika editing. Hal itu mereka lakukan agar film tidak hanya sebagai media penghibur semata, namun sebagai refleksi dari sebuah keadaan.

Di film Surau dan Silek, kecendrungan untuk mengambil frame eksotis sering terjadi. Dan fatalnya, pengambilan itu seperti hanya untuk tempelan, tidak sebagai bahan penguat cerita.

Misalnya ketika pembukaan awal film yang menghadirkan sawah-sawah yang hijau dan pemandangan. Pengambilan gambar dari atas langit, atau menggunakan drone, hanya sebagai pemberitahuan latar tempat. Tapi apakah film mengenai Surau dan Silek harus pemandangan? Dan ironinya, film yang berbau daerah banyak sekali yang pembukaannya visual pemandangan dan suara saluang. Apakah tidak ada objek yang lain? Apakah Minang hanya bisa disampaikan oleh pemandangan dan suara saluang? Lalu pada adegan di Ngarai Sianok. Ketika ketiga tokoh dan guru silat mereka memarkirkan kendaraannya di sana.

Lalu ketiga tokoh itu pergi berlari entah kemana. Visual itu pun tidak terlihat sebagai penguat cerita untuk frame selanjutnya. Visual tersebut hanya sekedar memperlihatkan betapa nindahnya Ngarai Sianok. Lalu ketika ketiga tokoh latihan tanpa mengenakan baju di sebuah padang ilalang. Gambar di ambil dari atas langit. Visual itu pun hanya memperlihatkan betapa ngerinya mereka latihan di sebuah padang ilalang yang luas dan berangin-angin. Apakah latihan silek benar begitu?

Pembaharuan visual dan berbahasa secara film haruslah dilakukan. Sebab jika penggambaran sebuah daerah, juga cerita mengenai Surau dan Silek sama saja dengan apa yang ada di media sosial maupun di film yang berlatar Minang kebanyakan, hanya akan menurunkan semangat eksperimentasi terhadap visual. Dan apakah film daerah hanya cukup digambarkan dengan lanskap dan musik daerah? Jawabannya tentu hanya ada di hati para pegiat film kita

BAGIKAN