Sosiolog Unand: Mengubah Kebiasaan Buang Sampah Sembarangan Butuh Pendekatan Kultural

Ilustrasi: sampah berserakan di jalan (foto/Ist)

Padangkita.com – Sosiolog Universitas Andalas Afrizal memandang pendekatan melalui peraturan tidak cukup untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat dalam membuang sampah sembarangan. Menurutnya, pendekatan kultural juga diperlukan agar kebiasaan tersebut bisa dihilangkan.

Kebiasaan buruk tersebut, kata Afrizal, sudah berlangsung sejak lama, yaitu semasa pemukiman masih belum padat. Lahan yang luas dan jumlah penduduk yang sedikit membuat kebiasaan membuang sampah sembarangan tidak terlalu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Kebiasaan itulah yang masih ditiru oleh generasi saat ini.

“Sekarang seiring padatnya jumlah penduduk di Kota Padang hal itu menjadi masalah. Sementara, upaya untuk mengoreksi kebiasaan itu tidak maksimal,” ujar Afrizal, Kamis (30/11/2017).

Upaya-upaya pemerintah yang berupa imbauan, kata Afrizal, sepertinya belum efektif. Diperlukan upaya-upaya jangka panjang untuk mengubah kebiasaan tersebut. Pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah perlu ditelaah ulang karena dianggap belum efektif. Kampanye-kampanye dan upaya pendidikan pengolahan sampah di tingkat pemukiman juga perlu dilakukan. Dalam hal ini, pemerintah bisa menggandeng NGO, seperti Walhi, untuk memberikan pendidikan tentang lingkungan kepada masyarakat.

Kemudian, Afrizal juga menyoroti soal perda sampah yang pelaksanaannya sampai saat ini belum optimal. Perda tersebut harus dievaluasi karena selain tidak terlihat efeknya, juga sulit untuk diterapkan kepada masyarakat.

“Pendekatan melalui peraturan memang perlu, tetapi pendekatan kultural ke masyarakat juga mesti dilakukan. Karena perilaku tersebut tidak hanya terjadi hari, tetapi sudah sangat lama. Jadi perlu upaya jangka panjang dan sistematis untuk mengubahnya,” kata Afrizal.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang dalam tiga hari terakhir (Senin–Rabu, 27–29/11/2017) setidaknya harus menurunkan 400 orang Petugas Kebersihan Kecamatan dan Kelurahan (PK3) untuk membersihkan tumpukan sampah yang terdampar di sepanjang Pantai Padang. Total ada sekitar 20 kontainer sampah yang diangkut petugas mulai dari pantai di depan LP Muaro Padang hingga Pantai Muaro Lasak. Selain sampah rumah tangga, sampah berupa kayu juga ikut terdampar. Kayu-kayu tersebut diperkirakan terbawa arus dari perbatasan Lubuk Kilangan dan Kuranji.

Kondisi ini seolah sudah menjadi rutinitas di Kota Padang setiap terjadi hujan lebat, banjir, dan pasang laut. Pada Oktober lalu, sebanyak 150 ton sampah juga berhasil diangkat dari kawasan Pantai Padang. Sampah-sampah tersebut berasal dari limbah rumah tangga seperti plastik, bekas bungkus makanan, botol minuman, akar-akar pohon dan lain sebagainya. Kepala DLH Padang Al Amin mengungkapkan hal itu terjadi tidak terlepas dari masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya.

(J. Sastra)