Singa Podium Asal Maninjau, Komandan Gerakan Anti Fasis Indonesia

KH. Muhammad Isa Anshary. (Foto: Ist)

Padangkita.com – Salah satu tokoh Minangkabau yang memiliki pengaruh sangat besar di zaman pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia adalah Muhammad Isa Anshary. Singa podium asal Maninjau tersebut dilahirkan pada 01 Juli 1916.

Muhammad Isa Anshary dikenal sebagai salah satu politisi Ranah Minang yang sangat vokal dan disegani baik kawan mapun lawan. Semasa hidupnya, Isa pernah menjabat sebagai ketua umum Persatuan Islam (Persis), anggota konstituante, dan merupakan juru bicara Partai Masyumi pada era-1950-an.

“Kepiawaiannya dalam berpidato dan mempengaruhi massa, menyebabkan ia dijuluki sebagai “singa podium”,” tulis peneliti dan dosen dari Universitas Leiden, Suryadi Sunuri.

Masa kecilnya dihasbiskan layaknya anak-anak Minang kala itu, di Surau. Dirinya pun diasuh dan dibesarkan dalam lingkungan yang religius dan sangat kental dengan pendidikan Agama Islam. Di usia yang sangat muda Muhammad Isa Anshary juga sudah mulai aktif dibidang politik. Tercatat, diusianya yang beru menginjak 10 tahun kala itu (1926 – 1929) dirinya telah menjadi kader PSII Maninjau. Sedangkan pada usia 13 tahun telah aktif menjadi dai dan Mubaligh di Muhammadiyah (1929-1931).

Pada usia 16 tahun, Isa Anshary memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa. Dirinya memperdalam pendidikan sembari mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum untuk menambah ilmu. Selain itu, untuk meningkatkan pemahaman keislamannya, Isa Anshary masuk dalam jamiyyah PERSIS Bandung.

Dibidang organiasasi Isa Anshary dikenal sebagai sosok yang tegas dan lugas. Bahkan banyak yang menilai sikapnya tidak kompromitis. Dengan sikapnya tersebut pada masa penjajahan jepang, ia mengkomandoi Gerakan Anti Fasis (Geraf). Ketika dirinya berpidato dia selalu bersemangat dan berapi-api. Hal inilah yang membuat menjadi pusat perhatian sehingga dirinya pantas mendapat julukan “Singa Podium”.

Hasil karya tulisnya antara lain adalah: Islam dan Demokrasi, Tuntunan Puasa, Islam dan Kolektivisme , Pegangan Melawan Fasisme Jepang, Barat dan Timur, Falsafah Perjuangan Islam, Sebuah Manifesto, Islam Menghadapi Pemilihan Umum, Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum, Inilah Partai Masyumi, Islam dan Nasionalisme, Partai Komunis Indonesia (PKI), Pembela Negara Asing , Bahaya Merah Indonesia,

Islam Menentang Komunisme, Manifes Perjuangan Persatuan Islam, Bukan Komunisto, Ke Depan Dengan Wajah Baru, Pesan Perjuangan , Umat Islam Menentukan Nasibnya, Mujahid Dakwah, Tugas dan Peranan Generasi Muda, Islam dalam Pembinaan Orde Baru Sebelum beliau berpulang (2 Syawal 1389/ 11 Desember 1969), beliau sempat menyelesaikan dua naskah lagi: Falsafah Moral dan Pelita Indonesia dan Kembali ke Haramain.

Isa Anshary dikenal sebagai sosok yang tidak mengenal lelah, berbagai aktifitas ia geluti terutama dalam dunia dakwah, bahkan menjelang akhir hayatnya ia masih tetap bekerja untuk umatnya. Pada 11 Desember 1969 atau sehari setelah Hari Raya Idul Fitri 1389 H ia meninggal dunia, di RS Muhammadiyah Bandung.