Sindiran Wapres JK Pada Orang Minang

Wakil Presiden Jusuf Kalla didamping oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan sejumlah rektor perguruan tinggi di Sumatera Barat berjalan meninjau gedung baru milik Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (15/07/2017). (Foto: Yose Hendra)

Padangkita.com – “Sejarah memang penting, tapi lebih penting adalah masa depan. Jika kita membanggakan selalu sejarah, kadang kita kehilangan masa depan,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Berbicara di depan forum pada peresmian 11 gedung baru milik Universitas Negeri Padang (UNP), kemarin, perkataan Kalla jelas, bagaimana orang Minang selama ini masih terjebak pada kehebatan masa lalu.

Seperti betah berenang di kubangan masa lalu, orang Minang lupa bahwa hari persaingan semakin terbuka, yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kalla jelas menyindir kenyataan hari ini, ketika eksistensi orang Minang semakin pudar, untuk tidak mengatakan sirna.

Urang sumando Lintau ini paham sejarah, dimana orang Minang sangat digdaya di Republik ini. Mulai dari peran besar dalam mendirikan Republik, hingga mengisi pos-pos penting dalam eksistensi Republik seperti diplomat.

Kata Kalla, zaman dulu semua sektor pasti ada orang Minang. “Politik kalau ketua orang Jawa, pasti sekjen orang Minang. Bidang usaha pun demikian, kantor-kantor perusahaan besar banyak orang Minang punya seperti Hasyim Ning,” tandasnya.

Kalla menambahkan referensi, bahwa orang Minang masih menghegemoni berbagai bidang hingga dekade tahun 1950-an dan 1960-an. Menurutnya, jika salat Jumat tahun 50-an dan 60-an di Jakarta, dari 10 khatib, pasti 8 orang merupakan orang Minang.

Sementara hari ini, sebutnya, kebanyakan khatib berasal dari Bugis dan daerah lain.

Dia juga menceritakan pengalaman saat menjalani tugas negara ke berbagai negara, dimana berjumpa dengan diplomat. Dia miris, dulunya orang Minang karena kecakapan berbicara mendominasi pos diplomat, sekarang justru tidak lagi, melainkan istri diplomat yang kebanyakan orang Minang.

“Tapi masa depan bukan milik kita ternyata. Tentu instropeksi harus dibicarakan dengan baik. Bagaimana masa lalu disosialisasikan, masa depan juga begitu. Masa lalu adalah milik masa lalu, generasi muda tentu punya milik jika masa depan lebih baik,” tandasnya.

Kalla mengatakan, sebagai sumando Minang, dia menyadari orang Minang harus paham habitatnya yakni pendidikan, surau, dan pasar.

“Artinya jika ingin memudarkan orang Minang, rusak pendidikan, surau dan pasarnya. Habis orang Minang. Sebaliknya ingin memajukan orang Minang, maka majukan pendidikan, surau dan pasarnya,” bilang Kalla.

Baca juga:
Cegah Penularan Difteri, Dinkes Pessel Lakukan Vaksinasi pada Warga

Sedari dulu, kebanggaan Minang berbeda dengan kebanggaan daerah lain. Jika daerah lain, tokoh dan pahlawan yang dibanggakan, semua memegang pedang, tombak, atau keris, tapi di Minang, semua tokoh yang dibanggakan karena ilmu pengetahuan, artinya pakai otak berjuang.

Untuk itu, Kalla menekankan orang Minang harus tetap dijalurnya, tentunya menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Generasi Minang, tidak ke surau lagi, karena di rumah ada tv, ada kenyamanan. Itu sebuah kemajuan. tapi apa yang bisa menggantikan itu adalah pendidikan yang serius dan menposisikan diri untuk bersaing,” jelasnya.

Sebab, bilang Kalla, modal kemajuan hari ini adalah ilmu pengetahuan, kecerdasan dan inisiatif.

“Apakah Sumbar pada dewasa ini, masih sekaya SDM-nya seperti dulu,” kata Kalla.

Mungkin ini pertanyaan yang patut kita jawab semua, baik pemerintah Sumbar sendiri, maupun orang Minang sendiri.