Setrum ‘Hijau’ dari Perut Bumi Solok Selatan

Penanjakan (SPUD IN) sumur esploitasi pertama ML-A2, menandai pengusahaan (eksploitasi) energi panas bumi oleh PT Supreme Energy Muara Laboh (PT SEML) di Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, pengujung Mei lalu. Foto: Yose H

Padangkita.com – Suatu siang pengujung Mei 2017, ceruk bukit-bukit hijau gerbang Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di kawasan Solok Selatan tersebut, dibumbui awan yang bergelantungan.

Di bawah bentangan bukit tersebut, rig pengeboran dengan ketinggian 40 meter berdiri kokoh, menyampaikan pesan sumber setrum dari perut bumi sebentar lagi akan dialirkan.

Rig pengeboran tersebut menandai eksploitasi energi panas bumi (geothermal) yang digarap oleh PT Supreme Energy Muara Laboh (SEML) akan dimulai.

Sumur Bor tersebut untuk mencari retakan batu-batu yang mengandung tekanan uap air dengan temperatur sekitar 240 derajat celcius. Tekanan tinggi uap air itu digunakan untuk memutar turbin pembangkit listrik.

“Cerobong itu untuk proses testing aja. Nanti gak ada uap air ysng lepas ke udara sama sekali, karena disalurkan dengan pipa untuk memutar turbin pembangkit listrik,” jelas Senior Field Relation PT Supreme Energy Yulnofrins Napilus.

Dengan begitu, uap tidak akan mencemari kesucian awan-awan di perbukitan tersebut.

Setrum yang dikembangkan PT SEML berbasis panas bumi (geothermal). Penanjakan (SPUD IN) sumur esploitasi pertama ML-A2, menandai pengusahaan (eksploitasi).

“9 tahun tahap eksploirasi, sekarang masuk tahap eksploitasi,” ujar Presiden Direktur Supreme Energy Supramu Santosa.

PT SEML memastikan setrum yang dihasilkan dari energi panas bumi di Nagari Alam Pauh Duo dan Nagari Pauh Duo Nan Batigo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, mulai beroperasi tahun 2019.

“Distribusi oleh PLN, dimana COD (Commercial Operation Date) 23 Agustus 2019,” bilang Supramu.

Kepastian ini berdasarkan hasil ekploitasi energi panas bumi yang telah menghasilkan 86 MV. Sisi lain, setelah adanya kesepakatan penjualan energi tersebut kepada PLN tahun 2012 silam.

Proyek energi panas bumi yang dilakoni Supreme Energy merupakan bagian dari Proyek Percepatan Tahap  2 Pengadaan Listrik Nasional dengan total 35.000 MW.

Mekanismenya, Supreme Energy sebagai perusahaan yang menghasilkan atau ekploitasi, sementara untuk pembeli panas bumi ini adalah PLN. Pasalnya, menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, hanya PLN yang boleh mendistribusikan dan menjual listrik langsung ke  masyarakat.

Baca juga:
Banjir Bandang Hantam Solok Selatan, 138 Rumah Rusak

Dari energi yang dihasilkan sebanyak 86 MW, tidak sepenuhnya juga dijual ke PLN. Menurut Supramu, yang bakal disalurkan PLN hanya 80 MW. Sisanya, 6 MW dipakai sendiri oleh Supreme Energy dalam operasional.

Sr. Manager Business Relations of PT Supreme Energy Ismoyo Argo menambahkan, oleh PLN akan disalurkan ke Gardu Induk Muara Labuh, selnajutnya tegangan 150 kV disalurkan ke Gardu Induk di Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya yang berjarak 90 km dari lokasi sumur.

Dengan daya sebesar 80 MV, bakal mengaliri 80.000 rumah tangga dengan asumsi terpasang 1000 w tiap rumah.

Plant Manager at PT Supreme Energy Muara Laboh Yoza Jamal menambahkan, setrum yang dihasilkan oleh Supreme Energy menyumbang 7,83 persen dari total energi listrik yang terpasang di Sumatra Barat pada tahun 2019. Bahkan berkontribusi 10.58 persen untuk beban puncak Sumatra Barat pada tahun 2019.

Energi Hijau

Menariknya produk panas bumi yang dijadikan setrum oleh PT SEML ramah lingkungan. Sebab, energi panas bumi itu berasal dari sumber panas magma yang jauh berada di kedalaman perut bumi.

Biasanya panas yang diambil hanya pada kedalaman 1,5-2,5 km saja.

Bila dibandingkan dengan energi bahan bakar fosil, energi panas bumi merupakan sumber energi bersih karena sumur geothermal melepaskan sangat sedikit gas rumah kaca yang terperangkap jauh di dalam inti bumi.

Sayangnya, seperti yang dikatakan Direktur Teknik Dirjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Agus Tribusono, energi Indonesia saat ini masih memakai 50 persen batubara, gas 20 persen. Artinya pemanfaatkan energi terbarukan masih sedikit.

“Penanjakan sumur ini bisa karena kegigihan. Jangan sampai ini penanjakan saja,” bilangnya.

Supreme Energy Muaro Laboh melakukan pengusahaan energi terbarukan panas bumi di areal seluas 140 hektare. Eksploirasi dimulai tahun 2008, dengan biaya total yang dikeluarkan hingga saat ini sekitar Rp. 2 triliun.

Pada awalnya, eksploirasi tahap pertama ditargetkan mendapatkan 220 MW. Namun setelah selesai pengeboran, jelas Senior Geologist PT Supreme Energy Muara Laboh Herwin Aziz, hanya didapati 86 MW atau 80 MW untuk dijual ke PLN.

Baca juga:
Banjir Bandang, Bupati Solsel Umumkan Masa Tanggap Darurat

Oleh sebab itu, perusahaan swasta pertama yang mengeksploirasi energi panas bumi dari awal hingga menghasilkan ini, mau mengembangkan pengeboran ke wilayah yang masuk Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

“Pada tahun 2015, ekploirasi energi panas bumi disetujui masuk Taman Nasional. Sebelumnya tidak. Maka untk mengejar 220 MW, maka akan dikejar ke selatan yang notabene merupakan wilayah TNKS,” tandas Herwin.

Pihak PT Supreme Energy mengaku serius berkontribusi pada perlistrikan nasional dengan mengambil peran pada listrik ramah lingkungan.

Bukan hanya di Sumbar, saat ini pemenuhan listrik 35.000 MW juga diusahkan dari Rantau Dadap di Sumatra Selatan dan Rajabasa di Lampung.

Untuk pengembangan PLTP unit 1 sebesar 86 MW, nilai investasi yang ditanamkan oleh PT. Supreme Energy Muara Laboh sebesar 469 juta USD atau setara dengan Rp. 6,2 triliun. Ini berarti untuk pengembangan 1 MW dibutuhkan 5,86 Juta USD atau Rp. 77,9 miliar.

Proyek PLTP Muara Laboh akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Solok Selatan pada khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya melalui penciptaan lapangan kerja selama proyek ini berlangsung maupun melalui program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT. Supreme Energy Muara Laboh.

Dalam masa pengeboran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geothermal, PT. SEML memasang kamera trap untuk memantau hewan serta tumbuhan yang ada disekitarnya.

“Kita sangat memperhatikan masalah lingkungan sampai semut juga diperhitungkan dan juga memasang kamera trap untuk memantau hewan dan tumbuhan apa saja yang ada disekitar proyek,” ujar Yulnofrins.

Menurutnya, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang energi ramah lingkungan, maka sepatutnya memerhatikan lingkungan sekitar.

Terlebih, sambungnya, persyaratan dari Bank Dunia sangat ketat dan kajian tentang flora dan fauna harus dikaji sedetilnya untuk antisipasi kerusakan.

“Kita harus mengantisipasi kerusakan terhadap hewan dan tumbuhan yang dilindungi sehingga dilakukan kajian yang bekerjasama dengan universitas,” kata dia.

Dia mengatakan, untuk mengkaji masalah lingkungan pihaknya bekerjasama dengan ahli dari perguruan tinggi.

“Untuk memantau hewan dan tumbuhan kita bekerja sama dengan Universitas Andalas (Unand),” kata dia.

Baca juga:
Padang Siap Berantas Pekat dan Tertibkan Tempat Hiburan

Wakil Bupati Solok Selatan Abdul Rahman mengatakan, investasi dari Supreme Energy hal yang tidak perlu dicemburui karena ini bukan pengelolaan sumber daya alam yang sederhana seperti yang marak di Solok Selatan dan gampang diajukan masyarakat misalnya tambang emas, kebun.

Menurutnya, energi yang dikembangkan Supreme Energy ramah lingkungan, sehingga patut didukung secara kebijakan.

Sisi lain, dia berharap listrik yang dihasilkan nantinya menjadi solusi bagi Solok Selatan yang krisis listrik.

“Hampir tiap hari listrik mati di Solsel. Kalau tidak di Padang Aro, mungkin di Muara Labuah,” tukasnya.

Sementara Edrizal dari Dinas ESDM Sumatra Barat berharap energi listrik yang dihasilkan tersebut membantu perlistrikan Sumbar yang saat ini rasio elektrifikasinya 88,7 persen. Artinya, sekitar 15 persen masyarakat di Sumbar belum teraliri listrik.

Dia juga berharap memacu perusahaan lain untuk melakukan hal serupa di 17 titik panas bumi di Sumatra Barat yang telah di petakan.