Seni, Penyegar Kehidupan Sosial dan Politik Bangsa

Pertunjukan theater (Foto/Seni.co.id)

Kesenian bagaikan lidah yang bertuah. Dipahami sebagai salah satu bentuk penyaluran aspirasi, gagasan, kritikan dan argumentasi yang unik dan memberikan dimensi lain dalam metode para cendekiawan memberikan masukan terhadap berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat.

INDONESIA dipenuhi banyak para cendekiawan yang memikirkan nasib bangsa. Bangsa yang mencoba melepaskan diri dari jeratan permasalahan yang menggerogoti. Semisal fenomena maraknya praktik korupsi yang melukai hati masyarakat, tindakan merendahkan harkat dan martabat perempuan dalam berbagai bentuk sendi kehidupan, tindakan kesewenang-wenangan oknum aparat penegak hukum yang tidak lagi mempedulikan hak asasi dalam bertugas sebagai pijakan dasar bernegara hukum, lalu fenomena merendahkan martabat seseorang melalui gambar dan tulisan yang dipublikasikan di media sosial, dan banyak masalah sosial lainnya.

Bahkan salah satu masalah dewasa ini yang menyita mata masyarakat banyak adalah kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non-aktif DKI Jakarta, sehingga membuat terangkatnya unsur agama dalam pergolakan politik di Indonesia. Hal tersebut seperti memecah belah masyarakat menjadi kelompok-kelompok berdasarkan agama tertentu, sehingga hilanglah ke-Bhinneka Tunggal ika-an Indonesia.

Berbagai jalan telah ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi berbagai fenomena di atas. Mulai dari melahirkan berbagai peraturan perundang-undangan, sampai sosialisasi kepada masyarakat tertentu, namun sepertinya hal tersebut “jalan di tempat”, sehingga muncullah gerakan-gerakan dalam masyarakat yang mengkritik kinerja pemerintah melalui kelompok-kelompok profesi dan perkumpulan tertentu.  Bahkan tak jarang gerakan-gerakan tersebut mengarah kepada hal yang berbau anarkis.

Tidaklah adil jika beberapa dari kita hanya menyalahkan kinerja pemerintah atas beberapa permasalahan di atas. Kesalahan juga terdapat dalam diri masyarakat itu sendiri. Harusnya seimbang dengan mengemukakan cara yang dapat membantu menanggulangi permasalahan. Salah satu cara yang cerdas mungkin adalah melalui kesenian.

Sudah saatnya kesenian tampil ke depan, mengacungkan tangan dalam membantu mengembalikan bentuk keharmonisan melalui karya-karya yang halus namun menggugah hati nurani.

Kesenian bagaikan lidah yang bertuah. Dipahami sebagai salah satu bentuk penyaluran aspirasi, gagasan, kritikan dan argumentasi yang unik dan memberikan dimensi lain dalam metode para cendekiawan memberikan masukan terhadap berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat.

Sebagai contoh, dalam berbagai kesempatan, baik di sekolah atau pun kampus, khususnya di kota Padang, banyak di pertontonkan pertunjukan drama, lukisan, nyanyian dan puisi. Berbagai bentuk kesenian tersebut tidak hanya berbicara hal yang “kosong” melainkan mulai memberikan pandangan tentang bagaimana masyarakat melihat fenomena negatif yang terjadi dewasa ini.

Sebut saja lembaga otonom Studio Merah Fakultas Hukum Universitas Andalas dan Unit Kegiatan Seni Universitas Andalas. Dua contoh lembaga kesenian kampus ini telah dengan kreatif memilih jalan kesenian sebagai metode mereka dalam memberikan masukan dan pandangan bagi kinerja pemerintah. Karya-karya yang tercipta dari kedua lembaga ini bahkan memberikan dimensi yang indah dalam memberi kritik. Ide-ide kreatif lalu ditampilkan dengan cara yang kreatif pula dan mudah dimengerti setidaknya dapat mengajak segenap unsur masyarakat untuk berpikir kritis.

Sudah saatnya kesenian tampil ke depan, mengacungkan tangan dalam membantu mengembalikan bentuk keharmonisan melalui karya-karya yang halus namun menggugah hati nurani. Setidaknya hal ini seperti penyegaran di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial dan politik Indonesia – menggunakan seni untuk menginspirasi melalui berbagai bentuk karya yang tambak sekilas tidak diperhitungkan, tapi memberikan semangat dalam pemberantasan tikus-tikus di dalam rumah kita bersama, yaitu Indonesia.