Saat Soekarno, Hatta, Syahrir dan Tan Malaka Duduk Sebangku di Ranah Minang

Syahrir, Soekarno dan Hatta (foto: penasoekarno)

Padangkita.com – Patung “The Founding Fathers” (pendiri republik) karya pematung terkemuka Bambang Win, di resmikan oleh Fadli Zon yang juga merupakan pemilik Rumah Budaya Fadli Zon, Padang Panjang, Sumatera Barat.

Patung The Founding Fathers itu terdiri empat buah patung penuh badan para Bapak Republik, yaitu Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir. Keempat patung tersebut dibuat dalam pose sedang duduk berbincang.

Fadli Zon menilai istilah Pendiri Bangsa memiliki pengertian yang lebih luas. Sebab kelahiran sebuah negara dibidani oleh para pejuang yang boleh jadi tidak terlibat dalam urusan-urusan teknis saja.

Keempat tokoh ini menjadi representasi dari pola dan bentuk perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Bahwa tiga dari keempat tokoh tersebut adalah putra Minang, dan hal tersebut menurutnya harus membuat masyarakat Minang patut berbangga.

Ranah minang memang telah melahirkan tokoh-tokoh yang punya andil sangat besar bagi kelahiran dan perjalanan bangsa Indonesia.

“Untuk mendekatkan kita pada para pendiri bangsa, sekaligus tentu saja mendekatkan pada narasi sejarah yang melatarbelakanginya, patung sengaja dipilih sebagai medium. Ide pembuatan patung ini berasal dari saya, sementara pengerjaannya dilakukan oleh Saudara Bambang Win ” ungkap Fadli Zon.

Menurut Fadli Zon, sebagaimana halnya karya fotografi dan lukisan, patung bisa jadi medium yang efektif untuk menceritakan kembali sejarah. Apalagi pose patung-patung ini dibuat berdasarkan adegan nyata.

“Pose Bung Karno, Hatta dan Sjahrir berasal dari sebuah arsip foto milik IPPHOS, saat ketiganya sedang duduk bersama di kursi rotan panjang, di Jakarta, 1946. Demikian juga pose Tan Malaka.” lanjutnya.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon duduk di antara patung The Founding Fathers di Rumah Budaya Fadli Zon, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (15/8/2017). (Foto:Istimewa)

Fadli Zon juga menjelaskan mengenai keempat tokoh ini tak pernah terekam duduk dalam satu tempat, namun patung-patung ini sengaja dibuat seolah berada dalam tempat yang sama untuk mengirimkan pesan bahwa Republik ini dulu dibangun oleh dialog dan kerja sama.

Meski para pendiri bangsa kita berasal dari berbagai ideologi dan keyakinan, namun menurutnya, dalam gagasan ke-indonesiaan mereka bisa bersatu dan keluar dari cangkang keyakinannya masing-masing.

“Dialog dan kerja sama inilah yang langka kita temui hari ini. Pada hari ini kita lebih suka mengeksploitasi perbedaan sebagai dalih bagi pemisahan, bukan sebagai tantangan bagi usaha persatuan,” katanya lagi.

Dia menjelaskan patung The Founding Fathers sengaja ditempatkan di Sumatera Barat, adalah untuk lebih mendekatkan sejarah. Kebetulan, tiga dari empat pendiri Republik kita ini, yaitu Tan Malaka, Hatta dan Sjahrir, juga berasal dari Sumatera Barat.

“Tiga tokoh ini bahkan sering disebut sebagai sumbangan terbesar orang Minang bagi Indonesia. Saya berharap, menempatkan empat patung ini di Sumatera Barat akan memberi kebanggaan bagi orang Minang,” jelasnya lagi.

(Abimanyu Pradana)