Riwayat Ledakan Tambang Batubara Sawahlunto

Bekas tambang batubara di Talawi, Kota Sawahlunto. Kini menjadi objek wisata dengan sebutan Danau Biru. (Foto: Yose Hendra)

PadangKita – Lubang tambang dalam batubara Sawahlunto kembali berdentum. Dua orang hingga saat ini terkapar di Rumah Sakit Sawahlunto dengan luka bakar serius. Kini, dua pekerja tambang itu kini dirujuk ke RSUP M Djamil Padang.

Ledakan yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB itu terjadi di areal Kuasa Pertambangan (KP) yang diduga milik PT Bara Mitra Kencana (BMK), Desa Batu Tanjuang, Kecamatan Talawi, Rabu (29/3/2017). “Ledakannya cukup keras terdengar,” kata Bahri, warga setempat.

Syahdan, apakah kecelakaan tambang ini baru di Sawahlunto? Tentu tidak. Kecelakaan tambang batubara di Sawahlunto mulai mengisi pemberitaan media sejak delapan tahun belakangan. Menurut informasi masyarakat setempat, kejadian buruk ini mulai menghiasi muka Sawahlunto sejak tambang dalam yang dikenal dengan tambang rakyat beroperasi pada dekade 1990-an.

Baca Juga :
Tambang Batu Bara di Sawahlunto Meledak, 2 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Korban Ledakan Tambang Dirujuk ke Padang

Ihwalnya, cerita Bahri, pertengahan tahun 1990-an, tambang batubara di Sawahlunto yang sejatinya konsesi PT Bukit Asam, deposit di permukaan mulai seret. Sehingga, tambang dalam atau menggali isi perut bumi Sawahlunto mulai disasar.

Walikota Sawalunto Ali Yusuf mengatakan, potensi batubara sebetulnya masih ada.

“Depositnya masih ada 100 juta ton, tetapi letaknya di bawah Kota Sawahlunto,” sebutnya.

Menurutnya, dengan harga batubara sekarang, jelas tidak mungkin dilakukan penambangan karena tambang dalam modalnya besar.

Saat ini, harga batubara Rp.630 ribu per ton. Menurut Ali, kalau harganya Rp.1,5 juta per ton mungkin baru bisa dapat untung.

Hal ini disinyalir membuat pihak PT BA enggan menambang dalam. Puncaknya, PT BA angkat dari dari Sawahlunto pada tahun lalu.

General Manager PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin Eko Budi Saputro pertengahan tahun lalu mengatakan, sebenarnya masih tersisa potensi 100 juta ton batubara.

Namun, pihak perusahaan memilih menutup operasional dengan alasan tidak ekonomis mengingat peralatan di kawasan tambang tua itu sudah ketinggalan teknologi. Kala usaha pertambangan batubara Bukit Asam mulai memudar, maka perusahaan hingga rakyat setempat mulai menggerogoti isi perut bumi Sawahlunto.

Baca juga:
Bapaslon 'Suami-Istri' Syamsuar Syam-Misliza Jalani Tes Kesehatan

Laju usaha penggalian batubara tumbuh bak jamur di musim hujan. Sayang pengelolaannya menafikan keselamatan pekerja.

Baca Juga :
Korban Ledakan Tambang Sawahlunto Alami Trauma Inhalasi
Polisi Selidiki Ledakan Tambang Batu Bara di Sawahlunto

Padahal menambang batubara sangatlah berisiko. Seperti yang dikatakan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat Ade Edward, tambang bawah tanah Ombilin (red. Sawahlunto), memiliki resiko mengeluarkan gas metan, sehingga penambangan bawah tanah di sana harus bisa mengelola ancaman ledakan gas metan.

“Sepanjang penambangan sesuai dengan SOP-nya tidak akan terjadi ledakan tambang bawah tanah,” katanya.

Namun, dia menilai, ledakan tambang seringkali diakibatkan kecerobohan.

Paling teranyar, tentu ledakan hari ini. Dilihat kondisi korban yang mengalami luka bakar, tentu kecurigaan mengarah pada gas metan.

Korban ledakan tambang batu bara di RSUD Sawahlunto (Foto: Tagana)

Seperti kasus-kasus sebelumnya, ledakan tambang dalam memicu gas metan, menjadi hulu ledak bagi korban. Ini sudah berkali-kali, tanpa ada kebijakan pasti untuk menekannya.

Berikut ini Padangkita.com menyajikan riwayat singkat ledakan tambang batubara Sawahlunto dalam satu dasawarsa terakhir:

Ledakan di Bukik Cigak,16 Juni 2009

Dalam satu dasawarsa terakhir, ledakan tambang batubara yang terjadi di Bukik Cigak, Talawi adalah yang terbesar. Kejadian yang berlangsung Selasa pagi, 16 Juni 2009, menyebabkan 31 orang meninggal dunia dari 45 orang korban.

Korban yang merupakan pekerja tambang yang dikelola oleh CV Perdana, diduga meninggal karena semburan gas metan yang keluar dari lokasi tambang.

Mereka yang meninggal terperangkap di dalam goa tambang dalam waktu yang cukup lama.

Ledakan di Desa Parambahan, 24 Januari 2014

Jumat (24/01/2014) siang, tambang batubara rakyat di Desa Parambahan dan Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, meledak. Empat orang meninggal akibat peristiwa tersebut.

Menurut Ade, jatuhnya korban akibat gas metan tinggi di dalam lubang tambang tersebut.

Ledakan di Desa Salak, 28 Juni 2016

Pada Selasa, 28 Juni 2016, usaha tambang batubara galian dalam milik PT NAL di Desa Salak Kecamatan Talawi, meledak. Akibatnya, lima orang pekerja mengalami luka bakar, tiga orang diantaranya meninggal dunia.

Baca juga:
Pelajar Paling Sering Jadi Korban Kekerasan Seksual

Seperti kejadian sebelumnya, korban timbul karena keracunan dari gas metan yang lahir dari ledakan.

Icap pernah menjadi pengusaha tambang di Talawi mengungkapkan, sejak masifnya tambang terbuka pada tahun 1998, tidak terhitung sebetulnya ledakan tambang. “Dalam setahun sekitar 4 atau 5 kali. Ada yang diekspos, tapi banyak juga yang tidak diekspos,” tukasnya.

Menurutnya, keamanan tambang yang dikelola oleh rakyat atau pun perusahaan saat ini, sangat minim. Bahkan, lubang untuk menambang juga kecil, berdiameter sekitar 2 meter.

Berbeda dengan lubang tambang PT BA, dikatakan Icap, mobil colt diesel pun bisa masuk.

“Ada manipulasi terhadap keadaan tambang. Di luar bagus, didalam bobrok,” pungkasnya.