Potret Budaya Nagari Siguntur Dharmasraya

Kompleks Candi Padang Roco (Foto/Bustanol)

NAGARI Siguntur salah satu daerah tua di Kabupaten Dharmasraya yang mempunyai nilai histori dengan kerajaan Malayapura. Kerajaan yang dipimpin Raja Adityawarman ini terletak di daerah aliran Sungai Batang Hari.

Secara geografis Nagari Siguntur terletak di kawasan hulu Sungai Batang Hari. Nagari ini dibagi atas enam jorong yaitu Siguntur Bawah, Siguntur Atas, Koto Tuo, Siluluak, Sungai Lansek dan Taratak. Taratak juga menjadi pusat pemerintahan Nagari Siguntur.

Kompleks makam Raja-raja Siguntur (Foto/Bustanol)

Banyak objek wisata sejarah di nagari tua ini, seperti Masjid Tua, Rumah Raja (Rumah Gadang), makam raja-raja Siguntur, serta museum keluarga kerajaan yang berada dalam satu areal yang cukup luas di Jorong Siguntur dan Sungai Lansek.

Di Jorong Sguntur terdapat Candi Pulau Sawah dan Candi Rambahan yang merupakan peninggalan kerajaan Malayapura. Sementara di Jorong Sungai Lansek bisa dijumpai Candi Padang Roco.

Baca Juga:

Di museum saat ini masih bisa dijumpai sejumlah benda bersejarah seperti keris, koin-koin, patung serta pemandian anak raja. Selain itu juga bisa dijumpai kesenian Tari Toga yang dulunya ditampilkan untuk menyambut tamu raja.

Tari Toga sendiri kini masih dilestarikan oleh keturunan kerajaan dengan mendirikan sanggar yang melibatkan sekitar 150 pelajar serta kaula muda setempat.

Kompleks Candi Padang Roco (Foto/Bustanol)

Untuk mencapai Nagari Siguntur, butuh waktu 10 menit perjalanan dengan kendaraan roda dua dan roda empat, atau berjarak lima kilometer dari ibukota kabupaten Dharmasraya. Sementara untuk mencapai Candi Padang Roco, Candi Pulau Sawah, dan Candi Rambahan dilanjutkan dengan berperahu menyeberangi sungai Batang Hari selama 10 menit atau menaiki ponton yang bersandar di dermaga.

Selama menyeberang bisa disaksikan keindahan sungai dan aktivitas warga mencari emas secara tradisional menggunakan alat tradisional (mandulang) dan menjala ikan atau manjalo.

Ponton sedang menyebrangi sungai Batang Hari (Foto/Bustanol)

Ponton sebagai salah satu sarana transportasi sungai ke seberang sungai Batang Hari tak hanya mampu membawa 20 penumpang, namun juga sanggup mengangkut mobil minibus yang digunakan warga menuju Jorong Siluluak dan Sungai Lansek.

Baca juga:
Awal Mula “Takluknya” Raja Pagaruyung Kepada Kompeni

Baca Juga:

Setelah sampai di seberang sungai, butuh berjalan kaki sekitar 15 menit menuju Candi Padang Roco yang dikelilingi hutan belantara serta persawahan dan perladangan masyarakat seperti karet. Bagi yang akan bepergian ke Candi Padang Roco, disarankan untuk membawa bekal makanan karena di objek wisata ini belum ada satu pun warga yang berjualan. 

Batoboh

Masyarakat Siguntur memiliki mata pencarian yang beragam, kebanyakan dari mereka adalah bertani, seperti bersawah, berkebun karet, dan jeruk. Selain itu juga ada yang bekerja sebagai pencari emas serta pengumpul batu di Sungai Batang Hari untuk bahan bangunan.

Dalam mengelola sawah dan perladangan, masyarakat Siguntur memiliki cara unik, yaitu dikerjakan secara bersama, hal ini disebut dengan istilah batoboh. Biasanya, ketika batoboh diiringi dengan kegiatan bernyanyi secara bersama.

Pemilik ladang atau sawah memiliki kewajiban untuk menyediakan berbagai kuliner seperti konji gesek. Masakan ini terbuat dari bahan beras dan dari jagung yang mempunyai kuah dengan rasa manis.

Baca juga:

Para ibu memiliki peran untuk memasak berbagai kuliner khas, seperti jowang pakis, anyang situka (pepaya), gulai lakitang, samba lado hijau minyak tanak, serta makanan berasa manis yang terbuat dari bahan beras dan santan kelapa seperti ojik, onde-onde (galobuak), dan apam. Prosesi memasak ini cukup terbilang unik, karena dilakukan sembari di iringi alunan musik tradisional saluang dan canang.

Salah satu Rumah Gadang di Nagari Siguntur (Foto/Bustanol)

Biasanya, kegiatan ini dilangsungkan di rumah adat. Rumah gadang memiliki peran yang penting bagi masyarakat Siguntur. Biasanya digunakan untuk berkumpul para Niniak Mamak ketika akan mengadakan kegiatan adat.

Pada malam hari, masyarakat nagari Siguntur mengisi waktu dengan latihan kesenian tradisional seperti latihan silat, randai, dan kegiatan kesenian tradisional lainnya. Aktivitas ini dilakukan ada pada setiap halaman Rumah Gadang kaum, termasuk Rumah Gadang Raja.