Polemik “Taste of Padang”, Ini Penjelasan Sekjen Sumbar Kreatif

Padangkita.com – Sekretaris Jenderal (sekjen) Sumbar Kreatif, Haris Satria menyatakan untuk membuat merek kota (city branding) membutuhkan strategi yang tepat dan efektif. Jika tidak, akan menimbulkan polemik dan penolakan dari berbagai pihak. Hal ini yang dinilai terjadi pada merek “Taste of Padang” yang dikenalkan oleh Forum pemerintah kabupaten dan kota se Sumatra Barat untuk merek pariwisata Sumbar.

Baca juga:
Rp1,6 Miliar untuk Branding “Taste of Padang”
“Taste of Padang”, Wagub: Kalau Tidak Sepakat, Kita Ulangi Lagi Saja

Haris menjelaskan pasca ditetapkannya Padang sebagai Top 15 Destinasi Wisata Indonesia oleh Kemenpar, Padang secara khusus dan Sumbar secara umum harus melakukan pengawalan terhadap rancangan branding tersebut. Setelah melakukan dua kali FGD
(Focus Group Discussion) di Padang & Bukittinggi, akhirnya jumat, (24/11/2017) diinformasikan merek destinasinya adalah “Taste of Padang”.

Menurutnya, sebagian besar masyarakat Sumatera Barat, baik melalui media cetak atau media digital mulai mempertanyakan hasil dari merek tersebut. Banyak yang menilai “Taste of Padang” belum mewakili identitas Sumatera Barat secara komprehensif. Apakah ada proses yang terlewati sehingga “Taste of Padang” belum bisa diterima?

Haris menjelaskan untuk membangun sebuah merek kota (city branding) membutuhkan sebuah strategi yang tepat dan efektif. Hal ini belum tentu disadari oleh pemerintah (pemangku kebijakan) dan masyarakat (pemangku kepentingan). Karena itu, pemerintah sangat membutuhkan peran akademisi, komunitas dan pelaku bisnis. Secara praktis, media massa juga harus kuat melakukan kampanye terhadap konten dan potensi kota yang akan dijualnya.

“Istilahnya adalah ABCG+M (Academycs, Business Sector, Communities, Government + Media),” katanya dalam makalah Taste of Padang, Sebuah Kajian Hasil Pembangunan Komitmen Destination Branding Sumatera Barat Dalam Perspektif Branding yang dikutip padangkita.com, Senin (27/11/2017).

Seperti Jogja ketika mem-brand-kan dirinya dengan “Never Ending Asia,” karena tidak sesuai dan akhirnya ditolak, kemudian diproses kembali sehingga menjadi “Jogja Istimewa”. Begitu halnya dengan bandung, yang awalnya “Stunning Bandung”, karena tidak sesuai dan akhirnya menggunakan “.bdg”.

Hal ini membuktikan bahwa keberagaman adalah sebuah identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Bersama tidak harus satu warna, justru semua pihak harus menguatkan identitas melalui warna khas.

Baca juga:
Pusako Unand: Jokowi Pasif dan Keliru Sikapi Revisi UU MD3

Branding is a continuous process. Membuat yang tidak terlihat menjadi tampak dan diperhitungkan. Proses itu juga berati bahwa branding kota tidak saja menjadikan kota itu sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga sebagai investasi sehingga berdampak baik pada perkembangan kota serta kesejahteraan orang yang tinggal di dalamnya. City branding bukan hanya mendesain logo, brandline lalu membicarakan discovery tourism, atau destination branding, tetapi lebih daripada itu,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, pemerintah kadang terjebak langsung ke visual identity dengan tagline kampanye. Tetapi tidak memikirkan apa yang dijual dan bagaimana mengungkapkannya kepada masyarakat. Hal ini disadari penuh oleh beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, dan Thailand.

Menurutnya, mereka berlomba-lomba untuk menjadikan negaranya sebagai kawasan destinasi terbaik di Asia Tenggara. Sebut saja Malaysia dengan “Malaysia, Trully Asia”, kemudian Singapura dengan “Uniquely Singapore”, Hongkong dengan “Asia’s World City!” Bahkan dengan slogan-slogan tersebut, mereka tidak saja menarik kunjungan wisatawan asing, tetapi juga berhasil memulihkan citra negatif negara mereka.

Dalam perkembangannya, negara ataupun kota tidak bisa dipahami sebagai tempat sekumpulan masyarakat yang berinteraksi dengan segala infrastruktur tatanan pemerintahannya. Tetapi sebuah objek yang memiliki nilai jual yang bisa ditawarkan negara atau kota lain.

“Peran komunikasi dalam kegiatan city branding sebagai pemasaran juga sangat vital. Artinya, dengan komunikasi tidak saja dibentuk pada level aware tetapi loyal kepada produk tersebut. Apakah hal ini sudah dipertimbangkan dalam membangun identitas Branding Destinasi “Taste of Padang” ?,” lanjutnya lagi.

Lebih jauh Haris menjelaskan, proses branding berangkat dari tiga hal : brand name, brand identity dan brand image. Brand Name adalah tahap awal dari pembangunan identitas, karena nama adalah sebuah doa dan pesan serta harapan. Oleh karena itu, dalam pemilihan nama haruslah mempertimbang segala aspek.

Selanjutnya brand identity, sebuah fase dalam melakukan pembangunan identitas terkait apa yang terlihat dan tidak terlihat (tangible & intangible) sehingga memiliki sesuatu yang berbeda dari yang lain. Dan yang terakhir adalah Brand Image, sebuah persepsi terhadap apa yang terlihat dan dirasakan oleh orang lain.

Baca juga:
Wako Padang Larang Warga Muslim Kenakan Atribut Natal di Tempat Kerja

Kemudian, pada praktek city branding harus mengacu pada : Mind, Soul, dan Heart. Mind mengacu kepada hal-hal yang membuat target audience memikirkan kekuatan dan brand tersebut. Selanjutnya Soul, mengarah pada dorongan terhadap jiwa seseorang sehingga memiliki magnet tersendiri dalam memahami sebuah brand. Dan yang terakhir adalah heart, bagaimana sebuah brand bisa dicintai dan dipuja melalui emosi positif dari target audience tersebut.

Padang sebagai Ibukota dari Provinsi Sumatera Barat merupakan HUB bagi 19 kab/kota dan juga dapat menarik minat wisatawan, baik nasional maupun mancanegara. Peran dari ABCG+M (Academycs, Business Sector, Communities, Government + Media). Dalam penetapan Branding “Taste of Padang”, peran dari ABCG+M belum dimaksimalkan, padahal ini sangat penting dalam penentuan Branding.

Dan menurutnya, hal inilah yang terjadi saat ini, apakah kabupaten dan kota dapat terwakili melalui Padang sebagai pintu gerbang Sumatera Barat atau setiap kabupaten dan kota harus didorong untuk membangun identitas masing-masing. Bagaimana dengan branding yang terdahulu “Padang Your Motherland” yang dipopulerkan kota Padang dan “Serenity of Minangkabau” yang mengantarkan Sumatera Barat mendapatkan predikat World Halal Tourism Award?

Sekali lagi, Sumatera Barat bukan hanya soal Padang atau “Taste of Padang”, bahkan lebih daripada itu. Semoga kejadian ini membuat kita sama sama berbenah dan dapat duduk bersama dalam penentuan identitas yang berakhir pada kata “sepakat”.