Perubahan Iklim Ancam Bumi Kita

Sebelum keadaan makin memburuk, deforestasi terutama pembakaran hutan untuk alih fungsi lahan sebagai salah satu sumber terbesar penghasil emisi gas rumah kaca harus dihentikan.

Ilustrasi. (Foto : nationalgeographic.com)

BERITA kebakaran hutan di beberapa wilayah di Indonesia kembali terdengar pada akhir Juli lalu. Kali ini, hutan dan lahan seluas sekitar 69 hektar dengan 35 titik panas di kabupaten/kota Aceh terbakar. Menurut Wahana Lingkungan Hidup Aceh, perubahan fungsi lahan gambut menjadi perkebunan merupakan faktor utama penyebab kebakaran di Aceh. Di Sumatera Barat (Sumbar) ada tiga titik lahan yang terbakar di Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Limapuluh Kota, Irwandi yang dilansir dari Tempo.co, kebakaran lahan diduga terjadi karena unsur kesengajaan. Masyarakat membuat lahan dengan cara membakar. Selain itu, di Sumatera Selatan, hutan seluas 2.340 hektar terbakar di areal perizinan untuk alih fungsi lahan selama Juli 2017.

Kejadian ini kembali mengingatkan kita pada kasus besar kebakaran hutan di Indonesia pada 2015 lalu. Masih teringat jelas kabut asap menyelimuti sebagian besar wilayah Indonesia dan beberapa negara tetangga akibat kebakaran hutan dan lahan. Ribuan titik api ditemukan di sejumlah daerah, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Data yang di publikasikan oleh Global Forest Watch (2015) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada urutan ke-5 paling besar kehilangan penutupan hutan (greatest tree cover loss) dari 2001-2014 di bawah Rusia, Brazil, Kanada, dan Amerika Serikat, yakni sebesar 18,51 Mha.

Kerugian ekonomi dan lingkungan yang luas ini berulang setiap tahun. Hanya beberapa ratus bisnis dan beberapa ribu petani saja yang memperoleh keuntungan dari praktik-praktik spekulasi tanah dan perkebunan.

Menurut pemerintah Indonesia, 2,6 juta hektar lahan dan hutan telah terbakar antara bulan Juni dan Oktober 2015, setara dengan ukuran empat setengah kali lipat Pulau Bali. Kebakaran yang diakibatkan ulah manusia tersebut, lebih dari seratus ribu kebakaran dilakukan untuk mempersiapkan lahan pertanian dan memperoleh tanah secara murah. Dengan tidak diterapkannya pola pembakaran yang terkendali maupun penegakan hukum yang memadai, kebakaran menjadi tidak terkendali, serta didorong oleh kekeringan dan diperburuk dengan pengaruh El Niño.

Kerugian ekonomi dan lingkungan yang luas ini berulang setiap tahun. Hanya beberapa ratus bisnis dan beberapa ribu petani saja yang memperoleh keuntungan dari praktik-praktik spekulasi tanah dan perkebunan. Sementara puluhan juta rakyat Indonesia yang lain menderita kerugian dengan adanya pengeluaran biaya kesehatan dan gangguan ekonomi.

Dari laporan analisis kerugian kebakaran hutan 2015 yang dibuat oleh Bank Dunia, diketahui bahwa kerugian bagi negara Indonesia pada tahun 2015 akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp221 triliun (16,1 miliar dolar AS) – dua kali lipat biaya rekonstruksi pascatsunami Aceh tahun 2004 di Indonesia. Sekitar 33 persen dari jumlah lahan yang terbakar merupakan lahan gambut, yang menyebabkan kabut asap berbahaya dan berkontribusi secara signifikan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), seperti CO2. Perubahan tataguna lahan, kehutanan, dan tanah gambut adalah penyumbang terbesar CO2 di Indonesia. Deforestasi mengurangi kemampuan alam menyerap COe, bahkan melepaskan CO2 di dedaunan tanaman dan tanah gambut. GRK inilah yang menyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB (2016), perubahan fungsi hutan menjadi lahan pertanian di negara tropis dan subtropis adalah 73%.

Basis Data Emisi Kebakaran Global versi 4 (Global Fire Emissions Database version 4/GFED4) memperkirakan bahwa pada tahun 2015, kebakaran hutan di Indonesia menyumbang sekitar 1.750 juta metrik ton setara karbon dioksida (MtCO2 e) terhadap emisi GRK global. Sebagai perbandingan, berdasarkan Komunikasi Nasional ke-2 dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change), Indonesia memperkirakan emisinya secara nasional tahunan adalah sebesar 1.800 MtCO2 e. Indonesia telah berjanji untuk mengurangi emisi sebesar 29 persen (atau 41 persen dengan dukungan internasional) pada tahun 2030 dibandingkan dengan kondisi tanpa ada aksi (business as usual) sebagai bagian dari kontribusinya menjaga agar peningkatan suhu global tidak melebihi 2 derajat Celsius. Kebakaran seperti yang terjadi pada tahun 2015 akan membuat sasaran ini tidak mungkin tercapai.

Tidak hanya di Indonesia, setiap hari di Amerika serikat dari 1000 hingga 2000 hektar tanah pertanian dan kawasan alami hilang untuk pembangunan. Hutan dihilangkan untuk bahan bakar, bahan bangunan, membersihkan lahan untuk pertanian, dan hanya karena mereka ada di jalan. Aktivitas penghancuran hutan ini sering disebut deforestasi. Deforestasi sangat lazim dilakukan di daerah iklim sedang hingga akhir abad 19 dan sekarang meluas ke daerah iklim tropis. Dalam rentang waktu 2000-2010, daerah tropis kehilangan hutan seluas tujuh juta hektar dan peningkatan lahan pertanian seluas lebih dari enam juta hektar.

Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB (2016), perubahan fungsi hutan menjadi lahan pertanian di negara tropis dan subtropis adalah 73%. Selain itu, pada 1990 dunia memiliki 4.128 juta hektar hutan. Luas tersebut berkurang menjadi 3.999 juta hektar pada 2015. Dalam kurun waktu 25 tahun, dunia telah kehilangan 129 juta hektar hutan, setara dengan luas wilayah Afrika Selatan.

Kenapa Kita Harus Peduli dengan Isu Perubahan Iklim?

Perubahan iklim telah muncul sebagai salah satu ancaman yang paling menghancurkan seluruh umat manusia. Efek perubahan iklim memiliki beragam aspek yang perlu dipertimbangkan dan memiliki dampak yang besar pada hampir semua aspek kehidupan manusia seperti kesehatan, gizi, ekonomi, dan perdagangan serta banyak lagi. Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam seperti banjir, tsunami, badai, angin topan di berbagai daerah di dunia. Banyak daerah dengan ketinggian setara atau di bawah permukaan laut tenggelam karena perubahan iklim. Kota-kota terbesar di dunia dengan pertumbuhan tercepat terletak di pantai dan rentan terhadap naiknya permukaan laut.

Jika suhu bumi melewati 2 derajat Celsius dari suhu sebelum masa revolusi industri, maka Indonesia yang terletak di wilayah geografis yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim akan merasakan efek signifikan. Efek tersebut dapat berupa naiknya permukaan air laut yang dapat menenggelamkan ratusan pulau, banjir, angin taufan, musim kemarau panjang, evaporasi air tawar di permukaan, erosi keanekaragaman hayati, meluasnya kebakaran hutan, tanah gambut, meledaknya penyakit hewan dan manusia baru, dan malapetaka lainnya.

Dengan jumlah pulau lebih dari 17.000, dan sebagian besar ibu kota provinsi serta hampir 65 persen penduduk tinggal di wilayah pesisir, wilayah Indonesia rentan terhadap dampak perubahan ik1im, khususnya yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut serta penggenangan akibat banjir di wilayah pesisir atau rob. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP yang dilansir dari Tirto,id, diketahui bahwa sejak tahun 2005, Indonesia sudah kehilangan setidaknya 24 dan dua diantaranya berada Sumbar. Tidak menutup kemungkinan sedikit demi sedikit wilayah di Kota Padang, Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Padang Pariaman, dan daerah Sumbar lainnya yang berada di tepi pantai dapat terendam oleh kenaikan air laut.

Kenaikan muka air laut, selain menyebabkan dampak langsung berupa berkurangnya wilayah akibat tenggelam oleh air laut, rusaknya kawasan ekosistem pesisir akibat gelombang pasang, juga menimbulkan dampak tidak langsung berupa hilangnya atau berubahnya mata pencaharian masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di tepi pantai, berkurangnya areal persawahan dataran rendah di dekat pantai yang akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan, gangguan transportasi antarpulau, serta rusak atau hilangnya obyek wisata pulau dan pesisir.

Ahli sains memprediksi bahwa seperempat spesies bumi akan menghadapi kepunahan pada 2050 jika pemanasan berlanjut pada laju saat ini.

Tidak hanya itu, perubahan iklim juga menjadi ancaman terhadap hilangnya keanekaragaman hayati dan kepunahan. Menurut Enger (2016), banyak spesies yang ada saat ini hampir mendekati batas toleransi fisiologinya terhadap perubahan iklim. Sedikit perubahan pada suhu bumi dapat mendesak makhluk hidup. Tiga kelompok organisme muncul sebagai efek perubahan iklim, yaitu amfibi, terumbu karang, dan spesies artik. The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources memperkirakan bahwa sekitar 30 persen spesies amfibi terancam karena efek perubahan iklim. Banyak spesies katak terancam oleh penyakit jamur yang telah menjadi umum dalam dua dekade terakhir. Terumbu karang mengalami pemutihan di seluruh dunia. Banyak ilmuwan menduga bahwa pemanasan air laut mendorong timbulnya penyakit yang menyebabkan kematian pada koral.

Ahli sains memprediksi bahwa seperempat spesies bumi akan menghadapi kepunahan pada 2050 jika pemanasan berlanjut pada laju saat ini. Banyak spesies yang telah merasakan panas, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pada 1999, kematian Katak Emas terakhir di Amerika Tengah menandai kepunahan spesies pertama akibat perubahan iklim
b. Salmon pasifik, yang biasanya dibatasi oleh air bersuhu dingin, telah ditemukan jauh di luar jangkauan normal mereka.
c. Batu karang menutupi kurang dari 1 persen dasar lautan, tapi menyediakan makanan dan perlindungan bagi lebih dari satu pertiga ikan di laut. Batu karang telah mengalami pemutihan masalah secara global bilamana suhu laut melampaui suhu rata-rata musim panas lebih dari satu derajat selama beberapa minggu. Semenjak 1979, pemutihan masal telah meningkat menjadi lebih sering.
d. Paus Kepala Busur memakan zooplankton. Tanpa laut es sumber makanan utama mereka dapat terancam.
e. Mengacu pada melelehnya es di Artik, Beruang Kutub mungkin akan hilang dari planet ini sedikitnya dalam waktu 100 tahun.

Melihat besarnya dampak yang disebabkan oleh pemanasan global dan perubahan iklim, sudah saatnya manusia sadar dan berbenah. Ancaman yang ditimbulkan sudah terlihat jelas. Perubahan iklim merupakan tantangan global yang tidak mengenal batas negara. Emisi di mana saja dapat mempengaruhi orang di mana-mana. Oleh sebab itu, sebelum keadaan makin memburuk, deforestasi terutama pembakaran hutan untuk alih fungsi lahan sebagai salah satu sumber terbesar penghasil emisi gas rumah kaca harus dihentikan. Inovasi teknik pertanian yang dapat mencegah penggundulan hutan perlu menjadi pemikiran. Dunia di masa depan adalah warisan dari kita di masa ini. Mari tingkatkan kesadaran dan selamatkan lingkungan untuk anak dan cucu kita.

*Fitri Aziza
Penulis adalah mahasiswa jurusan Biologi FMIPA UNP

BAGIKAN