Pertanian Terpuruk, Ekonomi Sumbar Tumbuh Melambat di Triwulan II

Tanaman padi di sela perkebunan sawit, sebagai bentuk optimalisasi pemanfaatan lahan di Pasaman Barat, Sumbar, beberapa waktu lalu (f/abimayu)

Padangkita.com – Turunnya produksi sektor pertanian akibat pergeseran musim panen dan perubahan cuaca menyebabkan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat di triwulan kedua tahun ini menjadi hanya 5,32 persen.

Padahal, di periode yang sama tahun lalu ekonomi Sumbar masih melaju 5,85 persen. Namun, terus mengalami penurunan pada triwulan berikutnya.

“Dibandingkan tahun lalu secara yoy (year on year) melambat 5,32 persen, tetapi qtq (quartal to quartal) tumbuh 2,69 persen,” kata Sukardi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Senin (7/8/2017).

Ia menuturkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian Sumbar tidak tumbuh signifikan karena pergeseran musim panen dan pergerakan cuaca yang tidak menentu.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan selama triwulan kedua tahun ini hanya tumbuh 4,81 persen dari periode yang sama tahun lalu. Padahal, sektor itu berkontribusi hingga 23,8 persen terhadap penbentukan PDRB Sumbar.

Dariari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,67 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri mengalami pertumbuhan 27,04 persen.

“Sedikit saja melambat dari pertanian dan subkategori perkebunan akan mempengaruhi laju perekonomi Sumbar, karena porsinya besar, sehingga dampaknya juga besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sektor pertanian sudah menunjukan pertumbuhan positif 1,1 persen dengan meningkatnya produksi tanaman padi dan jagung.

Ia mengingatkan perlunya keseriusan pemerintah memperhatikan sektor pertanian, karena selain kontribusinya besar utnuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kekurangan pasokan pangan bisa berakibat menyebabkan inflasi tinggi di daerah itu.

Sukardi menilai momen Ramadan dan Lebaran tahun ini ikut berkontribusi meningkatkan konsumsi rumah tangga, yang bertampak terhadap meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Di semester pertama, daya beli masyarakat Sumbar masih terjaga. Terbukti, konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif 4,59 persen. Sektor itu menguasai lebih dari setengah porsi PDRB atau menyumbang hingga 52,23 persen.

“Ditunjang tumbuhnya kelompok konsumsi makanan dan minuman non alkohol, serta pengeluaran untuk transportasi,” kata Sukardi.

Dari sisi pengeluaran itu, dia mengungkapkan hambatan berasal dari masih rendahnya belanja pemerintah yang justru mengalami kontraksi 8 persen. Sedangkan investasi juga melambat dengan pertumbuhan hanya 2,19 persen.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengakui pertumbuhan ekonomi tergolong lambat, karena minimnya sumber daya alam (SDA) yang bisa dieskplorasi.

“Kami terbatas di SDA, sehingga pertumbuhannya lambat. Tapi akan didorong memanfaatkan sektor-sektor lain, terutama investasi,” kata Nasrul.

Sektor investasi yang ditawarkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah di bidang pariwisata, energi baru terbarukan termasuk geothermal atau panas bumi, sektor perikanan, industri pengolahan, dan pembangunan infrastruktur.

 

BAGIKAN