Pasia Gurun Terdesak Ombak

Rumah warga Pasia Gurun, Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang rusak akibat dilanda gelombang tinggi, Minggu (3/12/2017). (Foto: J. Sastra)

Padangkita.com – Pantai Pasia Gurun, Kelurahan Pasir Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, saban tahun terus didesak ombak. Akhir pekan lalu, sekurangnya dua rumah warga rusak di Pantai Pasia Gurun saat diterpa gelombang tinggi.

Kelurahan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang merupakan salah satu kawasan yang cukup lama mengalami abrasi. Cerita tentang abrasi di kawasan pantai Kelurahan Pasia Nan Tigo sudah berlangsung berpuluh tahun.

Rosma, warga Pantai Pasia Jambak, masih ingat kondisi pantai di sekitar rumahnya pada tahun 80-an. Pada 1988, ketika Rosma baru berkeluarga, jarak pantai dari lokasi rumahnya lebih dari seratus meter.

Di antara pantai dan rumah, banyak berdiri pondok dan pohon kelapa. Sekarang, akibat abrasi yang terus menggerus, rumahnya hanya berjarak sekitar lima meter dari wilayah pantai.

“Dulu pantai sangat jauh, seratus meter lebih dari sini. Tidak mungkin kami mau mendirikan rumah di tepi pantai,” ujar Rosma, Kamis (7/12/2017).

Abrasi memang menjadi salah satu ancaman serius bagi sebagian kawasan pantai di Sumatera Barat. Mulai berkurangnya penghalang alami, seperti pohon bakau, membuat ombak dapat dengan leluasa menggerus bibir pantai.

Kondisi ini sangat berbahaya bagi pemukiman yang berdekatan dengan bibir pantai, apalagi jika curah hujan ekstrem dan pasang laut tinggi sedang melanda.

Ibu beranak tiga itu melanjutkan bahwa abrasi sudah menjadi peristiwa rutin di pengujung tahun. Tak terhitung berapa kali rumahnya dilanda abrasi. Pernah suatu kali pada 2011, warung kecil Rosma yang terbuat dari kayu hanyut dibawa ombak.

Untungnya rumah Rosma tidak ikut terseret karena punya pondasi yang tinggi. Namun, rumah tetangganya tak sedikit yang rusak karena dikikis ombak atau tergenang oleh banjir rob.

Kisah serupa turut disampaikan oleh Rafi Leksi, 23 tahun, warga Pantai Pasia Gurun. Pada tahun 2000-an, wilayah pantai di belakang rumahnya masih luas. Dulu tak jarang Rafi menghabiskan senja dengan bermain bola di belakang rumah bersama teman-teman. Namun, pantai itu sekarang nyaris tak tersisa. Bahkan sejak 2011, rumahnya dan puluhan rumah lainnya selalu menjadi bulan-bulanan ombak.

“Dapur, garasi, dan bagian lainnya di belakang rumah sudah terseret. Rumah di sebelah, bahkan tak tersisa,” ujarnya sembari menunjuk salah satu puing tembong di sebelah rumahnya.

Sekarang, sebagian besar wilayah pantai di Kelurahan Pasia Nan Tigo memang relatif aman dari abrasi, terutama sejak dibangunnya batu grib pada 2013. Meski demikian, masih ada pemukiman warga yang dihantui oleh abrasi.

Ketua RW 09 daerah Pantai Pasia Gurun, Jamaluddin, mengatakan rumah warga di RT 01 dan RT 04 masih terancam oleh abrasi. Menurutnya, batu grib yang dibangun belum berfungsi maksimal karena cuma memiliki panjang sekitar 20 meter, jauh lebih pendek daripada batu grib di Pantai Pasia Jambak dan Pantai Pasia Sabalah yang lebih dari 50 meter.

Kondisi tersebut, kata Jamal, membuat Pantai Pasia Gurun menjadi satu-satunya sasaran ombak.

“Batu grib merupakan solusi yang paling efektif untuk mengatasi abrasi. Jadi kami mengharapkan batu grib yang sudah dibangun sejak 2013 ini ditambah panjangnya. Kalau tidak rumah warga di sana akan hancur, cepat atau lambat,” ujar pensiunan pegawai PSDA Sumbar itu.

Menanggapi hal itu, Lurah Pasia Nan Tigo, Alizar, mengaku sudah menerima laporan dari RW dan telah meneruskannya ke pihak kecamatan. Kemarin, Dinas Sosial Kota Padang sudah memberikan bantuan kepada masyarakat, berupa mi, sarden, dan terpal kepada masyarakat yang terdampak. Namun, bantuan untuk antisipasi abrasi diakui Alizar memang belum dipenuhi.

“Kita memahami masalah yang dialami warga. Tapi, anggaran yang besar untuk menambah ukuran batu grib ataupun membuat sea wall memang sangat memberatkan Kota Padang,” ujarnya.

Alizar menambahkan, saat ini sebagian besar wilayah kelurahan Pasia Nan Tigo berada di zona merah. Ia memperkirakan ada 1.200 kepala keluarga yang bermukim di jarak 50-100 meter dari pantai.

BAGIKAN