Pakai Cadar, Dosen IAIN Bukittinggi di Non Aktifkan

Padangkita.com – Seorang Dosen di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Hayati Syafri, di non aktifkan pihak kampus karena dianggap melanggar disiplin dari segi berpakaian. Hayati Syafri mengampu mata kuliah Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

Informasi yang dihimpun melalui dosen bersangkutan, penonaktifannya hanya dilakukan secara lisan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, dalam surat terakhir yang diterimanya, Hayati Safitri mengaku bahwa dia melanggar disiplin dari segi pakaian yang dikenakan, karena juga memakai cadar.

Penuturan Hayati Syafri, Rabu (14/3/2018), sebelumnya pihak Kampus IAIN telah memintanya untuk melepas cadar, yang pertama kali dikenakan sejak tahun 2017 lalu, termasuk juga melalui pendekatan dengan teman dekat di kampus yang juga membujuk untuk melepas cadar. Termasuk dengan adanya surat teguran, dan diakuinya juga telah dipanggil pihak kampus untuk mengikuti sidang kehormatan dosen, terakhir diminta libur mengajar.

“Permintaan pihak kampus untuk membuka cadar berlatar belakang, anggapan bahwa cadar dapat mengganggu proses belajar mengajar, mengingat mata kuliah yang saya ajarkan Bahasa Inggris, yang diantaranya ada materi speaking atau berbicara, yang memerlukan artikulasi yang jelas dan ekspresi wajah,” terangnya.

Menurut Hayati Syafri, sejak awal semester ganjil tahun 2017, dia mengaku sudah meminta izin untuk tetap mengenakan cadar, kepada mahasiswa di 9 kelas yang berbeda. Bahkan di akhir semester ganjil 2017 lalu, juga telah dibagikan lembar evaluasi, yang isinya menanyakan apa tanggapan mahasiswa tentang cadar yang dipakai, apakah mengganggu proses belajar mengajar atau tidak.

“Lembar evaluasi ini ditulis tanpa nama, jawaban mahasiswa pada umumnya tidak apa-apa saya kenakan cadar, namun sebagian kecil mahasiswa juga ada yang mengatakan, belum terbiasa melihat dosen mengajar pakai cadar, serta banyak juga yang meminta agar saya membuka cadar itu,” ulasnya.

Disamping itu sambung Hayati Syafri, pihak Kampus IAIN juga sudah pernah mengadakan rapat dewan kehormatan dosen untuk memintanya kembali mengajar tanpa cadar, dan menanggapi permintaan itu diakui tidak siap dengan apa yang diminta pihak kampus, dan akhirnya hingga sekarang cadar ini masih tetap dipakai. Serta pada saat itu lah Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan menyampaikan penonaktifan secara lisan, tanpa surat, dan menegaskan hal itu merupakan perintah dari atasan.

Menanggapi persoalan ini Pimpinan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi menampik anggapan bahwa pihaknya melarang penggunaan cadar bagi mahasiswi dan dosen di lingkungan akademik.

Seperti yang disampaikan Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Bukittinggi, Syahrul Wirda, yang menyatakan, bahwa imbauan yang diterbitkan kampus sudah sesuai dengan kode etik yang disepakati seluruh civitas akademika.

“Sejak tahun 2017 lalu IAIN Bukittinggi sudah menjalankan langkah persuasif bagi mahasiswi dan dosen bercadar, termasuk pada dosen Bahasa Inggris Hayati Syafri, agar mengikuti ketentuan berbusana sesuai kode etik kampus,” tuturnya.

Menurut Syahrul Wirda, yang menjadi bahan pertimbangan kampus adalah upaya untuk menghindari justifikasi atau pembenaran sekaligus merupakan alasan, pertimbangan, bukti, atau fakta yang membuat tindakan atau keputusan yang diambil menjadi wajar atau benar.

“Imbauan tata cara berbusana yang diterbitkan pihak Kampus IAIN Bukittinggi juga tidak ada kaintannya dengan isu terorisme dan radikalisme. Tidak ada hubungannya dengan hal itu, karena imbauan bagi mahasiswi dan dosen agar tidak mengenakan cadar murni ketentuan kode etik kampus, yang sebelumnya telah disepakati bersama,” tukasnya.

(Guspra Koto)