Mulai 2019, Supreme Energy Muara Laboh Jual Listrik ke PLN

Supramu Santosa (tengah) pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Supreme Energy Muara Laboh (Foto: dok padangkita)

PadangKita – Mulai Agustus 2019, PT Supreme Energy Muara Laboh akan memasok listrik 80 MW ke PT PLN dari sumber energi panas bumi atau geothermal di Solok Selatan.

Pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Supreme Energy Muara Laboh, Supramu Santosa mengatakan perusahaan mulai melakukan pengeboran untuk memproduksi listrik 80 MW di wilayah kerja panas bumi (WKP) Kili Pinangawan, Kabupaten Solok Selatan.

“Targetnya 2019 kita sudah alirkan secara komersial ke PLN, sebanyak 80 MW. Setelahnya, baru kita mulai fase dua,” katanya di Bukittinggi, Selasa (4/4/2017).

Supramu menuturkan sejak 2008 sudah mulai melakukan studi mengenai potensi energi panas bumi di Solok Selatan.

Dari penelitian awal, diperkirakan potensi energi di kawasan tersebut mencapai 220 MW. Maka, mulai 2012, Supreme Energy melakukan pengeboran eksplorasi untuk memastikan potensi yang ada.

Hasilnya, kata Supramu, meleset dari perkiraan awal yang 220 MW. Cadangan panas bumi yang ditemukan hanya berkisar 80 MW atau hanya sekitar sepertiga dari target awal.

Meski begitu, pengusaha kelahiran Bojonegoro 21 Mei 1948 itu tetap bersikeras agar pengeboran dilakukan, mengingat perusahaan sudah menghabiskan 150 juta US Dolar atau mendekati Rp2 triliun untuk eksplorasi.

Maka, mulai Maret tahun ini, mengandeng konsorsium Sumitomo Coorporation dan PT Rekayasa Industri pengeboran dilakukan dalam tahap untuk 13 sumur.

Tahap pertama dimulai Mei 2017 untuk mengebor tujuh sumur dan tahap berikutnya ditargetkan Juli atau Agustus untuk pengeboran enam sumur.

Secara keseluruhan Supreme Energy akan memproduksi listrik 86 MW, dengan rincian 6 MW digunakan untuk kebutuhan sendiri, dan 80 MW dialirkan ke PT PLN.

Total investasi yang dikeluarkan perseroan untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Solok Selatan mencapai 600 juta US Dolar atau setara Rp7,5 triliun. Sebesar 440 juta US Dolar dibiayai dari pinjaman konsorsium enam lembaga keuangan dan perbankan internasional.

Supramu menuturkan kebutuhan energi dalam negeri sangat tinggi. Apalagi, energi fosil yang selama ini digunakan tidak ramah lingkungan dan tidak bisa diperbarui, sehingga lambat laut akan habis.

Baca juga:
Pertamina Kini Jadi Pemegang Saham PGN

Untuk itu, sudah saatnya Indonesia mengembangkan energi terbarukan, terutama panas bumi atau geothermal yang potensinya sangat besar di Indonesia, mencapai 29.000 MW.