Minim Inovasi, Produksi Industri Sumbar Anjlok di Triwulan II

Industri kreatif (foto: repro)

Padangkita.com – Belum pulihnya kondisi ekonomi, serta minimnya inovasi membuat produksi industri manufaktur di Sumbar baik itu industri besar dan sedang maupun industri mikro dan kecil mengalami penurunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar mencatatkan terjadi penurunan signifikan produksi manufaktur besar dan sedang sebesar 7,05 persen pada triwulan kedua tahun ini.

“Industri besar dan sedang turun 7,05 persen dari triwulan yang sama tahun lalu, sedangkan untuk nasional masih tumbuh 4 persen,” kata Sukardi, Kepala BPS Sumbar, dikutip Padangkita, Jumat (4/8/2017).

Sementara itu, jika dibandingkang denga triwulan sebelumnya, atau triwulan pertama tahun ini juga mengalami penurunan 0,31 persen, sedangkan secara nasional naik 2,57 persen.

Sukardi mengatakan penurunan itu berasal dari industri makanan yang mengalami penurunan sebesar 10,17 persen dan industri barang galian bukan logam sebesar 2,36 persen.

Untuk produksi manufaktur mikro dan kecil juga turun 1,66 persen dibandingkan triwulan II/2016, dengan kontribusi penurunan disumbang industri pengolahan tembakau yang turun 32,33 persen

Disusul kemudian penurunan pada industri tekstil sebesar 19,01 persen dan industri makanan 10,58 persen. Padahal, sejumlah sektor itu merupakan unggulan pembentukan ekonomi Sumbar.

Ia menuturkan untuk manufaktur mikro dan kecil meski produksinya turun dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih tumbuh jika dibandingkan tiga bulan lalu.

Pertumbuhan itu yakni sebesar 3,22 persen ditopang tumbuhnya industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 54,01 persen, industri pakaian jadi 35,74 persen, dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki 26,38 persen.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Sumbar Puji Atmoko menilai terjadi penurunan produksi manufaktur Sumbar dalam beberapa triwulan terakhir.

“Ada kecenderungan turun. Harapan kita, pertumbuhan ekonominya juga tidak turun,” katanya.

Ia menilai penurunan itu disebabkan minimnya inovasi produk, karena sebagian besar produksi manufaktur dijual atau diekspor dalam bentuk mentah.

Jika hilirisasi produk berjalan, dengan berbagai produk yang bisa dihasilkan, maka akan berkontribusi memperluas pasar, meningkatkan harga dan tentu saja meningkatkan produksi.

 

Baca juga:
H-1 Lebaran Pasar Padang Panjang Dijejali Pembeli