Mesothelioma, Penyakit Mematikan yang Tidak Banyak Disadari

Padangkita.com – Setiap tahun, ditemukan 2.000-3.000 kasus baru pleural mesothelioma di Amerika Serikat. Sekitar 80 persen bahkan lebih, penyebab utama mesothelioma dikarenakan menghirup serat asbes mikroskopis.

Apakah Anda bekerja di sektor konstruksi? Apakah pekerjaan Anda berhubungan dengan asbestos? Bila memang Anda bekerja dengan paparan debu asbes setiap harinya, hal ini patut Anda waspadai. Mengapa? Menghirup debu asbes terlalu sering dan dalam jangka waktu yang lama, bisa meningkatkan risiko terkena mesothelioma.

Mesothelioma atau biasa disebut kanker asbestos, merupakan kanker yang sangat agresif dan mematikan. Kanker langka ini terjadi pada lapisan tipis jaringan yang menutupi sebagian besar organ-organ internal (mesothelium). Ada banyak ragam penyakit mesothelioma, namun tipe yang paling sering terjadi adalah pleural mesothelioma. Inilah yang harus diwaspadai para pekerja konstruksi maupun pekerja di sektor pertambangan.

Bahaya Debu Asbes di Sektor Konstruksi, Tingkatkan Risiko Pleural Mesothelioma

Sekitar 80 persen orang yang didiagnosis dengan pleural mesothelioma adalah laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas dan merupakan pekerja konstruksi. Sebuah studi di American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine memperkirakan bahwa sedikitnya 1,3 juta pekerja konstruksi berisiko terkena paparan debu asbes saat bekerja. Terutama bagi seseorang yang bekerja membongkar dan membuang puing-puing bangunan yang terkontaminasi asbestos.

Berikut jenis pekerjaan konstruksi yang rentan terkena paparan asbestos:

Pemasangan batu bata
Operator bulldozer
Tukang kayu
Operator crane dan hoist
Pembongkaran dan penghancuran bangunan
Pemasangan drywall (dinding plester, gypsum partition)
Pemasangan pipa
Pemasangan atap bangunan
Pemasangan keramik atau ubin
Mengecat dinding

Bagaimana debu asbes dapat meningkatkan risiko seseorang terkena pleural mesothelioma? Setelah terhirup dan masuk ke dalam paru-paru, debu atau serat asbes akan melewati pleura. Kemudian, tubuh akan berjuang untuk menyingkirkan serat tersebut.

Dalam jangka waktu yang lama, terlebih bila seseorang terus-menerus menghirup debu asbes, serat yang terjebak akan mengiritasi membran pleura. Hal ini akan menyebabkan peradangan kronis.

Menurut penelitian, 2 hingga 10 persen pekerja yang sering terpapar debu asbes, serat yang terperangkap menyebabkan mesothelioma dengan memicu perubahan genetik dalam sel yang membentuk pleura. Sel-sel kanker dapat tumbuh cepat dan tidak terkendali, membentuk tumor yang menyelimuti paru-paru bahkan bisa menyebabkan kematian.

Perbandingan antara paru-paru yang sehat dengan paru-paru yang terkena pleural mesothelioma

Kapan biasanya gejala pleural mesothelioma muncul?

Gejala biasanya baru muncul setelah seseorang terkena paparan asbes selama 20-50 tahun. Sayangnya, banyak pekerja yang tidak
menyadari dan menganggap biasa gejala yang muncul. Alhasil, tak jarang pekerja yang sudah didiagnosis mengidap mesothelioma
stadium 3 dan stadium 4 karena terlambatnya melakukan deteksi dini.

Gejala pleural mesothelioma:

Batuk kering terus-menerus atau Mengi
Kesulitan dalam bernapas (sesak napas)
Demam
Efusi pleura, kondisi yang ditandai oleh penumpukan cairan di antara dua lapisan pleura (membran yang memisahkan paru-paru dengan
dinding dada bagian dalam).
Nyeri pada bagian dada di bawah tulang rusuk
Anemia
Sering mengalami kelelahan
Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan

Pleural mesothelioma dapat dikatakan penyakit mematikan bagi pekerja konstruksi karena rata-rata waktu kelangsungan hidup penderita berkisar antara 4 hingga 18 bulan, dan sekitar 10 pasien hidup setidaknya tiga tahun setelah didiagnosis.

Pleural mesothelioma umumnya tidak terdiagnosa sampai tahap-tahap perkembangan akhir. Selain itu, gejalanya juga sangat umum dan sering menyerupai kondisi yang kurang serius, yang dapat membuat sulit dalam mendiagnosis kanker.

Namun, bila Anda merasakan gejala seperti di atas secara terus-menerus, alangkah baiknya Anda melakukan deteksi dini. Biasanya dokter akan menyarankan pemeriksaan berkelanjutan, seperti PET Scan, CT Scan, MRI, atau X-Ray. Serangkaian pemeriksaan tersebut biasanya sering dilakukan untuk mendiagnosa apakah seseorang terkena mesothelioma atau tidak.

Tidak hanya itu upaya pencegahan dan pengendalian pun perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko pleural mesothelioma.

Berikut pencegahan dan pengendalian yang dapat Anda lakukan:

Sebisa mungkin, bahan-bahan berbahaya, seperti asbes diganti dengan bahan-bahan lain yang kurang lebih sama fungsi dan manfaatnya tetapi yang tidak berbahaya atau kurang berbahaya.

Upaya pengendalian teknis permesinan, seperti mengikat serat asbes dengan bahan lain untuk mencegah terbentuknya debu, membuat ventilasi lokal, pemeliharaan mekanis, dan menggunakan metode basah untuk mencegah terbentuknya debu.

Selalu memastikan konsentrasi debu asbes di lingkungan kerja tidak boleh melebihi nilai ambang batas paparan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang atau peraturan perundang-undangan.

Pekerja wajib menggunakan alat pelindung pernapasan, seperti respirator pemurni udara, alat pelindung pernapasan bertekanan positif dan alat pernapasan dengan saluran udara langsung untuk mengurangi paparan debu asbes.

Apabila kadar debu asbes di lingkungan kerja meningkat, pekerja juga wajib memakai pakaian pelindung khusus.
Pekerja wajib mengikuti pemeriksaan medis yang ditentukan menurut kebiasaan yang berlaku secara nasional.

Pekerja wajib memberitahu pihak manajemen setiap kali terjadi perubahan dalam lingkungan atau kondisi proses kerja yang berpotensi menimbulkan debu asbes.

Di Indonesia, data mengenai penyakit pleural mesothelioma memang belum ada dan pekerja yang memahami bahaya asbestos juga masih minim.

Meski begitu, tidak ada salahnya bagi Anda yang bekerja di sektor konstruksi maupun pertambangan untuk melakukanpencegahan di atas dan melakukan deteksi dini guna meminimalkan risiko pleural mesothelioma yang lebih kompleks.

Semoga Bermanfaat. Salam safety!

Sumber: www.SafetySign.co.id