“Menolak Diam!” Menuntut Transparansi Pengelolaan Anggaran Sekolah

Padangkita.com – Alif, Nisa, Dito, Satrio, dan Bondan merupakan siswa dan siswi di salah satu sekolah unggulan di Jogjakarta. Berawal dari keresahan Alif pada salah satu pengumuman di majalah dinding sekolah tentang ditiadakan wisuda kelulusan kelas III, Alif mengajak Satrio dan Bondan untuk mendapatkan jawaban dari kepala sekolah.

Dalam perjalanan, mereka bertemu Nisa yang sedang protes kepada Pak Ridwan guru BP. Nisa protes terkait dicoretnya dana mengikuti perlombaan robotik tingkat nasional yang sebelumnya sudah dijanjikan oleh wakil kepala sekolah. Alih-alih mendapat jawaban dari kepala sekolah, Pak Ridwan malah menyuruh mereka untuk kembali ke ruang belajar.

Dari situ, muncul pertanyaan besar kemana dana-dana tersebut disalurkan, padahal sudah dianggarkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) dan dibagikan laporannya tiap tahun kepada orang tua murid.

Mereka kemudian bertekad menyelidiki dan mengumpulkan bukti-bukti terkait adanya penyelewengan dana tersebut. Situasi semakin menarik ketika Dito, anak dari salah satu donatur sekolah memutuskan ikut bergabung bersama mereka. Berbagai macam cara mereka lakukan untuk mendapatkan bukti-bukti.

Itulah sepenggal kisah dalam film “Menolak Diam!” produksi Nightbus Pictures.

Film yang diinisiasi oleh Transprancy International Indonesia (TII) ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata tentang gerakan siswa dan siswi dalam menuntut adanya transparansi anggaran salah satu SMA di kota Solo pada tahun 2008.

“Tahun 2017 TI Indonesia bekerjasama dengan Nightbus Pictures memproduksi sebuah film fiksi. Film ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata tentang gerakan siswa dan siswi dalam menuntut adanya transparansi anggaran salah satu SMA di kota Solo pada tahun 2008. Film tersebut berjudul “Menolak Diam!”,” ujar Agus Sarwoyo, Staf Advokasi dan Kampanye TII kepada Padangkita.com (22/02/2018).

Menurutnya, setelah diluncurkan tanggal 8 Desember 2017, film “Menolak Diam!” mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan antusiasnya masyarakat dalam menonton film tersebut yang diselenggarakan di beberapa daerah.

“Maka untuk menyebarluaskan kampanye antikorupsi, TII bekerjasama dengan Perkumpulan Integritas akan melakukan beberapa rangkaian kegiatan di Kota Padang, diantaranya yaitu talkshow di Radio, Nonton Baren dan diskusi film dengan kelompok masyarakat dan Pelajar,” katanya.

Nunug Gazali, Koordinator Divisi Kebijakan Publik Perkumpulan Integritas menambahkan bahwa film Menolak Diam! adalah film yang sangat edukatif. Menurutnya pelajar dan pihak Sekolah harus menonton film tersebut.

“Film Menolak Diam! sangat menarik, cerita seperti pada film harus kita akui masih terjadi hingga sekarang di sekolah, transparansi pengelolaan anggaran pendidikan masih menjadi persoalan, makanya kita (Integritas) dan TII ingin masyarakat terutama pelajar dan sekolah di Sumatera barat juga menonton film itu”, ujar Nunug.

Nunug mengatakan Integritas dan TII akan menyelenggarakan beberapa kali pemutaran dan diskusi film tersebut pada beberapa sekolah di Sumatera Barat. Namun untuk pemutaran perdana akan dilaksanakan pada Jumat (23/02/2018) malam pukul 19.00 di Rumah Ikhlas di Jalan Ikhlas XII nomor 16 Andalas.

“Kita akan selenggarakan pemutaran perdana di Rumah Ikhlas, Jumat malam. Kita mulai acara pemutaran dan diskusi film ini dengan kawan-kawan dari kampus dan masyarakat umum,” ujarnya.

Menurutnya, dari pengalaman Integritas mengakses informasi pengelolaan anggaran sekolah di 34 SMP Negeri di Kota Padang masih sangat sulit, bahkan berujung sengketa informasi di Komisi Informasi Suamtera Barat.

“Pada tahun 2016 Integritas mengajukan permintaan informasi laporan pengelolaan anggaran BOS di 34 SMP Negeri di Kota Padang, namun permintaan tersebut tidak ditanggapi oleh pihak Dinas Pendidikan Kota Padang, mereka berdalih informasi tersebut informasi rahasia, akibatnya kami melakukan sengketa informasi ke Komisi Informasi Sumatera Barat,” katanya.

Nunug melanjutkan dengan adanya Film Menolak Diam! berharap sekolah lebih peka terhadap isu transparansi.

“Film ini bisa menjadi edukasi untuk sekolah agar mulai transparan”, ujarnya.