Menikmati Kopi Kawa Ranah Minang, Minuman Popular Zaman Penjajahan

Daun Kopi Kawa (Foto: Bukapalak)

Padangkita.com – Menikmati secangkir kopi saat bersantai memang terasa nikmat. Apalagi jika ditemani dengan camilan. Namun hal tersebut tentunya menjadi hal yang biasa bagi masyarakat.

Namun, apakah Anda pernah membayangkan nikmatnya menyeruput minuman hangat dari daun kopi? Di sejumlah daerah di Sumatera Barat, minuman ini digolongkan dalam keluarga teh. Kalau belum, hal ini patut anda coba.

Masyarakat minangkabau menyebutkan “Kopi Kawa” untuk minuman ini. Padahal, menurut makna, kawa artinya kopi. Dari bahasa arab qahwah. Daun sendiri dari bahasa Indonesia. Jadi kawa daun adalah minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi. Seperti teh yang diseduh dengan air panas, dan bukan dari bijinya. Cara menikmatinya juga terbilang unik, yaitu memakai tempurung alias batok kelapa dengan biasanya satu paket dengan gorengan.

Di Kabupaten Tanah Datar, Anda akan dengan mudah menemukan sejumlah kedai kopi kawa. Salah satunya kedai kopi kawa Kiniko di Tabek Patah, Kecamatan Salimpaung, tepatnya di kilometer 16 jalan raya Batusangkar-Bukittinggi.

Kedai yang berada di belantara Tabek Patah ini menawarkan bermacam minuman kopi gratis bagi pengunjung. Untuk segelas kopi, Anda bisa mencicipinya secara cuma-cuma sambil menikmati indahnya belantara hutan di sekeliling kedai.

“Minuman kami sediakan secara gratis, jika Anda ingin membawanya pulang sebagai oleh-oleh, baru Anda harus membayarnya,” ucap Rina Aziz, pemilik kedai dan pabrik kopi Kiniko, sambil menawarkan secangkir kawa beberapa waktu lalu.

Minuman ini sudah sangat memasyarakat di sana, bahkan sebelum bekerja ke ladang pun, biasanya masyarakat pedesaan menyeruput segelas kawa.

Minuman kawa menjadi popular saat kependudukan Belanda di Sumbar. Tabek Patah, cerita Rina, menjadi pusat ladang kopi yang dikelola Belanda di Tanah Datar. Bahkan, kawasan Pasar Tabek Patah merupakan lokasi perkebunan kopi milik Belanda saat penjajahan.

Kisah Rina, hampir seluruh kopi yang dihasilkan dari ladang di Tabek Patah dibawa ke negeri Kincir Angin. Ini terjadi pada abad ke-19, saat tanam paksa diterapkan Belanda.

Warga yang dipekerjakan di ladang-ladang ini hanya diberi kesempatan untuk bertanam dan menjaganya, tanpa bisa menikmati olahan biji kopi yang justru lebih dikenal di Eropa kala itu. “Karena tak bisa menimati bijinya, petani-petani itu mengolah daunnya untuk diminum,” kata Rina.

Untuk mengolah daun kopi menjadi minuman tidak terlalu rumit. Wandi, pembuat kopi di kedai Kiniko menceritakan, pembuatan kopi kawa terkesan tidak membutuhkan keahlian khusus. Daun kopi yang terbilang tua dijepit dan dipanaskan di atas bara untuk dikeringkan.

Daun ini kemudian direbus dengan air panas menggunakan wajan tanah. “Ini akan tahan tiga hari, jika sudah berubah warna, daunnya harus diganti dengan yang baru.”

Cara menyajikannya pun terbilang unik. Tempurung kelapa menjadi alat pengganti gelas untuk menikmati hangatnya kopi kawa. Minuman ini dipercaya memberi kesegaran bagi tubuh dan mampu menetralisir lemak.

Tertarik untuk mencoba?

BAGIKAN